Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Saturday, November 2, 2013

Tablet atau E-Reader?

Beli tablet atau E-Reader yaaa? Emang apa sih perbedaan keduanya? Tanpa sok menjadi ahli gadget, saya akan mencoba mengulas tentang hal ini. Ini adalah ulasan pengguna, bukan ahli yaa.


Saya sendiri akhirnya membeli sebuah e-reader dengan fungsi tablet. Nah loh, apaan lagi tuh. Ya jadi, saya membeli tablet Nook HD. Nook adalah sebuah merk e-reader keluaran Barnes & Noble (toko buku asal Amrik). Nah seperti Kindle keluaran Amazon yang sekarang mengeluarkan tablet Kindle Fire, Nook juga punya versi tablet. Jadi sebetulnya sih dia adalah sebuah tablet, tapi dikembangkan oleh produsen e-reader. Something like that lah. Nook HD yang saya beli memiliki fungsi seadanya, tak ada kamera, tak ada slot untuk SIM card (ada wifi tapi), makanya juga bisa murah. Harganya GBP 79, untuk saya yang saat ini sedang tinggal di London, cukup ekonomis (jangan dibandingin ama Jakarta yaaa). Ringan dan enak digenggam untuk fungsi membaca buku elektronik (ada bingkainya dengan bahan agak kayak karet, jadi enak megangnya), tapi masih bisa dipakai browsing, nonton video, ngetik dan menjalankan fungsi berbagai aplikasi android meskipun nggak semuanya.

Nook HD


Balik ke pertanyaan awal, apa sih bedanya E-Reader dengan Tablet, dan mana yang harus dibeli? Seperti biasa, sebelum membeli sesuatu, saya riset gila-gilaan dulu melalui google, makanya jadi tau gini-ginian. Padahal suami udah nawarin i-Pad lamanya, dan dia beli yang lebih baru dan mahal. Tapi karena bahan bacaan kuliah udah membayangi saya, saya memutuskan mau beli sendiri aja biar cepat punya sendiri (meskipun akhirnya dibeliin hehe). Ya saya beli karena emang sangat-sangat butuh untuk baca bahan kuliah. Dari dulu saya merasa cukup aja dengan netbook dan smartphone. Tapi untuk membaca, kedua gadget ini tentu tidak memadai.


Well, yang jelas e-reader diperuntukan untuk fungsi membaca. Tampilan layarnya enak untuk membaca dengan teknologi macam-macam seperti tampilan yang hampir menyerupai kertas, biasanya ringan dan compact, dengan baterai yang tahan lama (bisa sampai 2 bulan!), juga harganya lebih murah! Iya lah fungsinya kan terbatas.


Sedangkan tablet, jelas fungsinya lebih banyak, kayak komputer atau smartphone lah, bisa browsing, potret-potret (kalau ada kameranya), main game, dan bisa baca buku juga. Fungsi e-reader sudah tercakup dalam tablet, tapi fungsi tablet tidak tercakup dalam e-reader. Cuma e-reader kelebihannya ada pada tampilan layar yang lebih enak untuk mbaca, ketahanan batere dan harga. Juga dengan terbatasnya fungsi, e-reader menghilangkan banyak distraction dari internet, games, social media, dll sehingga kita bisa fokus membaca.


Jadi kenapa akhirnya saya pilih tablet? Hehe, karena saya udah capek bawa si netbook yang berat kemana-mana. Tapi kalau cuma punya e-reader jadinya tidak bisa mengetik, padahal fungsi ngetik juga penting buat taking notes atau ngerjain tugas essay kalau-kalau kepepet. Wekekekek :p


Nah untungnya Kindle, Nook dan Kobo (merk-merk e-reader yang ada di UK) punya versi tablet. Saat saya beli, best deal ditawarkan oleh Nook, jadilah saya membeli Nook HD dengan harga GBP 79. Saya sangat hepi dengan gadget baru ini. Saya nggak pasangin aplikasi chatting kecuali google hangout yang otomatis terpasang karena OS-nya android (dengan aplikasi standar lain seperti gmail, google maps dan google+). Saya nggak pasangin social media tentu saja. Aplikasi yang saya pasang cuma notes, semacam aplikasi untuk MS word, duolingo buat belajar bahasa, flipboard dan current, sama 9gag buat bahan bacaan, sama peta tube London deh.


Fungsi yang saya nggak expect, tapi membuat saya sangat girang adalah fungsi highlight dan notes. Jadi di bacaan kita, kita bisa highlight atau nambah notes. Nanti highlight dan notes kita itu akan terkumpul rapi dalam aplikasi bawaannya si Nook ini. Praktis deeeh, nggak usah nyalin quote atau bingung mau ngasih catatan dimana.


Si Nook ini juga ada shopnya dimana kita bisa beli buku-buku dan majalah (dari Barnes & Noble tentunya). Lumayan lengkap sih, so far ada beberapa buku yang Amazon pun belum ada versi Kindle-nya tapi di Nook shop udah ada. Format reader yang dipakai memang katanya sih "umum" yaitu EPUB. Bahan-bahan kuliah saya dalam bentuk PDF bisa dibuka, dihighlight dan di note di gadget ini.


Siang ini saya mencoba membuat catatan kuliah menggunakan si tablet ini dan ternyata saya bisa mengetik cukup cepat di layar 7 inchinya. Berarti saya nggak perlu bawa buku notes lagi, yang mana mengurangi beban tas saya yang udah rempong isinya dengan benda-benda khas ibu-ibu. Fungsi browsing juga berguna untuk mencari kata-kata sulit yang ditemukan saat membaca, atau mencari keterangan latar belakang yang diperlukan.


So? Sejauh ini saya sangat hepi tapi itu karena si gadget sangat sesuai dengan kebutuhan saya, dan saya yang namanya megang tablet ya emang baru sekarang ini jadi mungkin nggak rewel ya. Tentunya membeli gadget ya harus sesuai kebutuhan dan juga budget masing-masing.


Happy reading everyone!


Referensi:


http://electronics.howstuffworks.com/gadgets/high-tech-gadgets/tablet-or-e-reader.htm


http://www.which.co.uk/technology/computing/guides/how-to-buy-the-best-ebook-reader/ebook-reader-or-tablet/

Monday, July 29, 2013

Book Review: The 100 Year Old Man Who Climbed Out The Window and Dissapeared

The story ended with our (Indonesian) President Yudhoyono, requesting the main character, Allan Karlsson, the 100 year old man who climbed out of the window and dissapeared, to help him make an atom bomb.

Did you see that coming? I didn't.

SBY is cooking a nuclear project with the help of 100 year old man!
Saya prihatin :(

I bought the book because of the curious title of course. The back cover didn't explain anything in terms of what the story is about. Even if there's a synopsis anywhere, it is very minimal. What the hell is this book about? Is it a mystery? Ghost story? Detective story?

Considering I was on vacation at that time, I thought I had the spare time to find out. And so I read it.

It turns out that the book is well written. With lots of cold and somewhat sarcastic European humor (if I may?) that I liked. So yes, the story is about Allan Karlsson, a 100 year old (Sweden) man who runaway from the old's people home on his birthday and find an adventure. He didn't know where to go and what he wanted to do, and just go where his feet takes him and what his gut told him. He ended up stealing a suitcase with lots of money in it, which belongs to a drug dealer. During his run, he picked up friends, including an elephant pet. I'm gonna stop right there cause surely, you don't want me to tell you the whole story, right?

But, what's surprisingly nice for me is, that the past of Mr. Allan Karlsson was also told in this book. And because his life takes place during WW II and Cold War, there was a lot of "history" content in it. In fact, in this fictional story, Allan Karlsson take role in the world's important historical events. For example, he helped Oppenheimer make the atom bomb that blew Hiroshima and Nagasaki. In fact, he accidentally met with important people in history, General Franco, Stalin, Harry Truman, Mao Tse Tung, Kim Il Sung and (little) Kim Jong Il. That was all fun for me, until he decided to go to... Bali.

Crap! What now, do I have to go all post-modernist and post-colonialist on this book?

Well I don't know if this is a post-modernist or post-colonialist take on the story, but how the writer describes Indonesia, really makes me sad. He describes Indonesia as:

Image of "exotic Bali". Many would only remember Bali
when mentioned about Indonesia. But some,
doesn't know Bali is in Indonesia.
Picture taken from http://intrepidberkeleyexplorer.com/Page21F.html
Bali (that's one)

Stupid woman (two)

Marries a bule tourist (yep)

Corruption

Corruption

Corruption

Oh well.





To sum it up, I'm just going to quote the book for you:

"...in Indonesia, everything was for sale, and so anyone who had money could get anything he wanted." (pg. 280).

Some Indonesian might be offended and threatend to take all Indonesian people to pee on Sweden and drown it (hot headed nationalist), some might agree with that statement (Indonesians who are in denial and just couldn't deal being an Indonesian I would say), some would be just sad. Like me. I'm just sad. Like, what could I possibly say? Corruption IS a problem here and that is something that I can't deny. But having the whole Indonesia reduced and described like that is just.... saddening.


Well, the story being, that the stupid Balinese girl who married the wealthy bule, bribe her way up to the governor chair (not so stupid after all), and then monopolize the hotel industry in Bali. After Suharto takes over, she decided she wants to retire and being offered a post as an Ambassador in France. Yep, might be a "familiar" story for us, yeah?

Also, at the end, the 100 year old man who steals the suitcase full of money and kill some people along the way, Indonesia is used as an escape route. Because it is SO corrupt there, that some outlaws plus an elephant pet can get in with no problem as long as they provide bribe money. And we provide charter planes too! No questions asked. And that's how you conclude the and resolve the story of this book.

But hey, don't we all do what the writer is doing? Don't we also "reduce" countries into just names and images and brands in our minds? Argentina is Tango and soccer, Brazil is Samba and soccer, Russia is cold and communist, Thailand is Phuket and transgenders and sex, America is New York and Carrie Bradshaw, or America is cowboys and horses (or Gipsy Danger for all of you Pacific Rim geeks out there).

I personally imagine New York when thinking about United States.
Americans are smart enough to nurture this images through pop culture.
Who hasn't watch Sex and the City? Please!


And do we think of how people would feel when we use these images to describe them and their nation and their country? Nation is an imagined community but nationalism is a power not to be underestimate. So perhaps we should be more considerate? Especially if it is a negative one.

And Sweden is just IKEA! xP