Showing posts with label environment. Show all posts
Showing posts with label environment. Show all posts

Sunday, April 27, 2014

Seri Kawinan #7: Undangan

Sebetulnya undangan adalah departemennya (waktu itu) calon suami. Jadi saya tidak bertanggung jawab untuk undangan. Tapi saya akan ceritain prosesnya.

Lagi-lagi dengan semangat cut-the-crap, kami mengharapkan undangannya tidak berlebihan, orang tidak "merasa bersalah" membuangnya dan tentu saja buat kami juga murah. Tujuan utama undangan adalah memberi tahu kapan dan dimana pestanya, setelah itu mau buat apa kalau tidak dibuang? Kalau diserahkan sama saya, mungkin saya akan bikin kartu selembar saja dengan amplop. Tapi Tito membawanya to the next level: kertas hvs dan fotokopian. Tapi dia berencana untuk undangannya berupa komik. Komiknya bukan tentang kami sih, cuma komik aja. Sesuatu yang exciting buat orang lain baca. At least, we made something, a form of art, something to be left in the memory afterwards and all those money are all well spent.

Ini hasilnya: http://menjadi.tumblr.com/

Sempat menimbulkan drama di keluarga saya saat seorang Bude merasa eksplorasi kami berlebihan dan bertekad mencetakkan undangan buat saya, yang dia anggap lebih decent. Kami paham concern beliau dan sangat menghargai perhatian beliau dan ketakutan beliau akan anggapan orang terhadap kami dan kedua orang tua. Tapi setahu saya justru kebanyakan orang menghargai dan menikmati hasil karya ini dan membuat undangan, pesta dan juga pernikahan kami memorable buat mereka.

Dan lagi-lagi saya sangat bangga semua itu dilakukan dengan resource yang seperlunya, tidak berlebihan.

Sunday, November 3, 2013

Seri Kawinan #6: Suvenir

Akhirnya keinget dan ada niatan juga untuk ngelanjutin si kawinan series ini. Biar nggak jadi males, saya mau mengulas yang mudah aja dulu deh, yaitu bab suvenir.

Suvenir, yang kata temen gw Indon hanyalah sebuah pelengkap penderita, pada awal mulai memikirkannya bener-bener emang pelengkap penderita doang. Udah nggak penting, tapi kalau nggak diurusin juga bisa menyebabkan kita jadi omongan orang dan orang tua jadi malu (kalo kita mah bodo amat). Juga, kalau buatnya asal, selain orang yang nerima males, gw yang ngasih juga males dan bisa bete.

Tadinya departemen suvenir juga saya serahkan pada calon suami, dan karena sangking cuma pelengkap penderita, dia nggak mulai mikirin sama sekali. Akhirnya, gue juga deh yang mikirin.

Ide dari calon suami: sisir (duh, nggak personal ah). Semetara ide dari saya pun ditolak mentah-mentah: CD (nggak ada yang mau dengerin lagu kita, tauk. Lagian itu melanggar hak cipta), tas, cermin saku, hanya salah dua-nya benda suvenir kawinan yang pernah saya benar-benar gunakan... (duuh..errghh, ya udah terserah).  Sampai akhirnya: ya udah terserah. Saya pun mulai melihat-lihat suvenir murah-murah di toko online. Banyak ketemu yang murah-murah tapi jelek minta ampun dan nggak ada gunanya. Yang agak mahal, lucu tapi ga ada gunanya juga. Di rumah saya udah berserakan segala macam benda suvenir. Tas dan cermin saku meskipun saya akui terpakai, tapi dua benda tersebut tidaklah "personal", dan karena kita belinya kodian ya jelas tampilannya akan...kodian.

Di sebuah website bule yang pernah saya baca, ada ide dimana suvenir pesta diganti dengan charity. Jadi budget untuk suvenir disumbangkan ke sebuah yayasan dan ini diumumkan ke tamu-tamu atau tiap tamu diberi secarik kertas yang mengumumkan hal itu. Tapi ya sebetulnya budget suvenir yang saya miliki kan tidak begitu besar (1-3 juta rupiah saja), ditambah saya agak malas due diligence memilih yayasan yang ok, dan lagi-lagi cukup personal buat kami. Lalu, ibu-ibu adalah spesies lain yang harus dipikirikan. Tidak seperti para Homo sapiens sapiens lain yang bodo amat, ibu-ibu maunya nerima "benda" yang bisa dipegang-pegang, dilihat-lihat dan dibilang lucu, lalu dipajang atau masuk tas. Teman saya Indon, yang menyiapkan photo booth sebagai suvenir kawinannya, akhirnya ibunya dia menambah kipas dan entah apa lagi suvenir yang bisa dipegang-pegang demi memuaskan spesies yang satu ini. Dia berakhir dengan 3 jenis suvenir yang berbeda di pestanya.

Akhirnya saya browsing lagi ke website bule, dimana biasanya ketemu tuh ide aneh-aneh. Naaah, di sebuah website ada suvenir kawinan teh celup dengan bungkusan yang customized. Contohnya begini:


BINGO! Teh!

Beberapa alasan bagus:


  • Calon suami memang HOBI BANGET bawa suvenir teh kalau habis dari Jogja. Teh tubruk kampung dengan berbagai merk dan aroma. Kawan-kawan geng puspa sudah hafal dan merasakan nikmatnya nge-teh bareng.
  • Orang Indonesia dimana-mana hobi minum teh.
  • Teh tubruk harganya murah
  • Seperti iklan Sariwangi, teh memang membawa kehangatan dan kekeluargaan. Cocok sebagai suvenir pesta orang yang mau membangun keluarga.
  • Teh habis diminum dan tidak akan tergeletak nyampah-nyampahin rumah aja.


Yup, maka suami yang kebetulan ada rencana ke Muntilan akhirnya membeli 5 bal (500 bungkus) teh tubruk merk Kepala Djenggot. Habis Rp. 700 ribu saja. Sampai Jakarta, teh itu kami bungkus dengan kertas sampul buku coklat, lalu ditempel ucapan terima kasih yang diprint di hvs dan difotokopi. Hasilnya begini:


Bahkan kemasannya pun ekonomis dan minim sampah. Nyokap sempat ingin agar dikemas dalam plastik mika, yang langsung saya veto karena itu bikin sampah dan plastik mika jelas tidak gampang terurai. Kantong dengan bahan tulle pun lumayan sampah dan buat saya kurang cantik dan juga kelewat mainstream, hehe. Tadinya pun hampir membuat paper bag khusus karena malas membungkusi satu-satu yang untung saja calon suami mem-vetonya dengan mengingatkan bahwa paper bag itu cukup nyampah dan juga mahal dengan manfaat yang tidak signifikan. Akhirnya dengan mengerahkan para tante, terbungkus lah 500 teh Kepala Djenggot dalam kemasan cantik dan ramah lingkungan seperti di atas.

Untuk desain gambarnya, itu ada kaitannya dengan kisah undangan yang akan saya ceritakan (moga-moga) tak lama lagi ya. Nantikan.

Wednesday, September 4, 2013

Really seeing Indonesia?

When two German guest came to Indonesia and one of them has never been to Indonesia before, her fellow foreigner (from US), who is actually an expatriate working here and not just visiting, commented; “Oh how lucky are you to come here for the first time and get the chance to see Berau. You are really seeing Indonesia!”

Berau is a district in East Kalimantan, where there’s lots conservation/forestry/oil palm projects. The island in the district called Derawan is also a popular diving spot for tourists. I was accompanying these guests to go there and well…do stuff (you know, conservation stuff…not tourism stuff)

That's where Berau is
en.m.wikipedia.org

The comment from the US expatriate is embedded in my memory, maybe because I can reflect on how true (or untrue) it is.

Indonesia, is very vast, very heterogenic and very plural, that you cannot claim that you have seen Indonesia, only by visiting, Jakarta or Bali, or Berau, or Aceh, or Papua alone. I, who have been living here all my life, have never seen Indonesia. I’ve lived in Jakarta, I’ve been to several cities in Java and Bali, and Sumatra, I’ve visited (only) plantations or factories in Kalimantan and Sumatra, but there are lots of other place (too many!) that I have not seen.

One of the images you will get if you google "Indonesia"
www.hdwpapers.com

However, referring to the expatriate’s comment, I myself, even though not a foreigner (but I’m a Javanese born in Jakarta, so what do I know about Indonesia other than Java!), have been lucky enough to see Berau, Muara Wahau, Sampit, Lubuk Linggau, Kembang Janggut, Kerinci, Buatan, and other remote places. Why lucky? Because most people rarely seen, rarely know, rarely can imagine how these places looks like. Hell, most people may not have these places in their minds at all. And when you have been to these places, the concept and image of Indonesia that you have may be deconstructed, and you may have to revisit them (unless you are a hardcore activist, with only NGOs report as reference instead of tourism brochures). So yes, maybe one could say that if you have visited Berau, then you would have a good counter image of Jakarta and Bali.

Unfortunately, this is one of the view of Berau District :(
Image courtesy of Fabian Schmidt

So in way, the expat’s comment can be so true, even though we can argue that Berau doesn’t represent Indonesia as a whole either. Well, there’s nothing wrong by never really see Indonesia, who have the time to do that anyway, but I personally feel that seeing a “different” image of Indonesia made me have…a different perspective, that’s all. A different perspective of my existence and being, in this country, in the world, and in the universe eventually.


Have you had an experience being in a place that made you reflect on yourself?

Sunday, July 21, 2013

Tentang JJS di mall yang diganggu todongan sumbangan :)

Bagi para fellow Jakartans, pasti pernah menemui para penggiat sumbangan, entah itu di trotoar, jembatan penyebrangan, di mall atau dimana pun, tapi mostly di trotoar, jembatan penyeberangan atau di mall. Entah itu UNICEF, WWF, Greenpeace, yang minta sumbangan soal anak-anak, penyakit, lingkungan, apapun lah segala masalah di muka bumi ini. Masalah-masalah yang mengerikan dan tidak manusiawi, akan tetapi apakah itu membuat kita para kaum beruntung ini boleh diterror di ruang aman kita? Warning, I am going to be such a selfish bitch in this post.

Gak usah ngomongin para pengemis dan anak jalanan lah ya, yang kalau kata salah satu teman saya mereka “nyari makan dengan cara gangguin orang makan”. Kita bisa nggak habis-habis ngebahas soal itu yang masalahnya berlapis-lapis kayak bawang. Saya mau ngomongin para peminta sumbangan untuk organisasi-organisasi penggiat kemanusiaan atau lingkungan yang lebih mapan.

Ok, nggak ada salahnya dengan mencari sumbangan, sumbangan itu dibutuhkan agar organisasi tetap bisa berjalan dengan kegiatannya. Tetapi masalahnya dengan menodong sumbangan di trotoar, jembatan penyeberangan atau mall adalah, Anda sebetulnya nggak tau siapa yang Anda todong.

Sebagai contoh, saya sendiri. Saya kerja di bidang kehutanan dan lingkungan meskipun perusahaan tempat saya kerja profit oriented. Terkadang, kami kerja buat NGO. NGO membayar kami untuk melakukan berbagai pekerjaan yang penting untuk menyelamatkan hutan di Indonesia (du du du du du du du…. :p). Jadi, bayangin ketika saya dihentikan oleh para penggiat sumbangan dari WWF atau Greenpeace, yang bahkan kadang orangnya bukan dari WWF atau Greenpeace sendiri, akan tetapi sales person yang mereka bayar aja, untuk DIKULIAHI soal keadaan mengenaskan hutan atau binatang di Indonesia (seriously?!) terus ditodong menyumbang (dengan pushy) untuk dana project mereka (seriously?!).

Terus gimana kalau ditodongnya untuk hal lain, seperti anak-anak, pendidikan atau kesehatan. Excuse lain yang saya punya untuk hal ini adalah, well, ada begitu banyak masalah di muka bumi ini dan saya udah memilih satu (atau dua, atau tiga). Tidakkah saya berhak untuk boleh nggak memusingkan masalah lain dan membiarkan orang lain memecahkannya? Bukan berarti saya nggak mendukung lho, tapi resource masing-masing orang terbatas, dan mau nggak mau kita harus set prioritas. Nggak mungkin kita mau memecahkan semua masalah di muka bumi ini.

Hal lain adalah, apakah project-project si NGO itu sesuai dengan aspirasi kita dalam memecahkan masalah? Sebagai contoh, waktu itu saya pernah ditodong NGO yang ngurus anak jalanan (atau anak-anak yang nggak diinginkan, something like that, gw lupa) dengan memberikan mereka tempat berlindung, sekolah, yada yada. Pokoknya dari speech si orang itu, inti masalahnya yang gw tangkep adalah: orang-orang nggak mau KB, dan bahwa project si NGO ini adalah taking care of irresponsible people’s shit. Yes, they need to be taken care of, tapi enak banget yah, dan tidakkah ini membuat mereka jadi tetap irresponsible? Jadi gw tanya, gimana dengan sosialisasi soal KB, apakah termasuk dalam program? Dia bilang enggak.

I know what you’re probably thinking, kalo nggak mau nyumbang ya udah yu, nggak usah nyumbang, ngapain complain panjang lebar begini sih! Well, kalau Anda adalah salah satu orang yang pernah disetop orang-orang ini, Anda akan tahu betapa nggak nyamannya situasi yang Anda hadapi.

Pertama: Anda harus berhenti dan mendengarkan kuliah, padahal Anda lagi buru-buru, sibuk atau lagi santai nggak mau mikirin masalah dunia, karena dari Senin sampai Jumat Anda udah sibuk mikirin masalah dunia. Kuliah yang terkadang Anda nggak perlukan.

Kedua: Cara nodong sumbangannya nggak manusiawi. Sama sekali tidak menerapkan prinsip free, prior, informed consent. Setengah dipaksa, Anda berada di bawah tekanan untuk menyumbang, dan berada dalam posisi awkward untuk bilang Anda nggak mau, dan Anda diminta menjelaskan kenapa Anda nggak mau menyumbang. Whaaaat?

Ketiga: kalaupun Anda berhasil menolak untuk dihentikan, udah pasti itu dengan cara yang nggak sopan. Anda dipaksa untuk kasar dan nggak sopan sama orang, dalam hal ini, si sales person tersebut.

Yep, yep, all petty little problems yang kita kaum beruntung ini harus alami. Kita yang bukan spesies orangutan dan kita yang bukan anak jalanan ini. Menghadapi 10 menit awkward moment di jalanan! Oh! :D

Ada banyak masalah dengan menyumbang. Kalau kita udah kenal dengan yang namanya akuntabilitas (yaiks), kita akan khawatir tentang; bener nggak duit sumbangan dipake buat project, bener nggak project memberikan impact yang positif, bagaimana cara saya memeriksa semua itu? Sedangkan ini adalah salah satu hal yang tidak pernah ditawarkan oleh para penodong itu: How do I check on you?

Jadi sebetulnya masalah saya adalah, selain metode pemaksaan yang diterapkan orang-orang sales itu, mereka tidak memberikan informasi yang justru penting. Ok, tolong kasih tau: uang saya ini mau dipakai untuk apa persisnya (kegiatan apa, dimana), kenapa project itu penting dilakukan, dan bagaimana saya memeriksa larinya uang saya dan juga performance Anda?

Metode memaksa juga buat saya sangat nggak asik. Bisa nggak sih saya cukup dikasih informasi, bagaimana caranya saya menyumbang yang paling gampang (dan semoga tidak berupa charge bulanan di kartu kredit saya), silakan menyumbang jika saya mau, kalau mau pulang dulu dan pikir-pikir silakan, dan tidak ditodong on the spot seperti itu. Saya pikir itu akan sangat mengurangi ketidaknyamanan orang, dan orang akan lebih ikhlas mendengarkan “kuliah” yang ditawarkan, dengan mengetahui bahwa kebebasan masih kita miliki dan tidak terenggut ketika kita dihentikan dan mendengarkan kuliah tersebut. (Tentunya ini banyak berhubungan dengan metode “target” yang diterapkan saat meng-hire orang-orang sales).


Tidakkah itu membuat semua orang lebih nyaman? Atau apakah itu mengurangi jumlah sumbangan yang dikumpulkan?