Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Tuesday, August 4, 2020

Nagini: Di mana menurut saya Acha Septriasa lolos dari lubang maut rasisme menjijikan JKR meskipun sayangnya nama Indonesia enggak

Ini adalah postingan teramat kesiangan sebagai lanjutan dari postingan sebelumnya mengenai tokoh Nagini di dalam franchise Harry Potter, khususnya dalam film Fantastic Beasts 2: Crimes of Grindelwald di tahun 2018. Saya membuat postingan yang lalu sebelum saya menonton filmnya dan postingan lanjutan ini adalah semacam tanggapan saya (2 tahun kemudian hahaha) setelah menonton filmnya.

Di postingan terdahulu, saya menyampaikan beberapa kekuatiran terkait adaptasi tokoh Nagini yang diklaim oleh penulis JK Rowling sebagai adaptasi dari mitologi naga Indonesia:

1.) Penggunaan negara-bangsa "Indonesia" sebagai istilah yang memayungi asal-usul mitologi Naga ketika masing-masing suku bangsa di Nusantara memiliki mitologinya masing-masing. Dalam hal ini mitologi yang menggunakan bahasa Sansakerta "naga" secara khusus adalah mitologi yang diadaptasi oleh suku Jawa/Bali dari India melalui Hinduisme.

2) Kalaupun memang Nagini diadaptasi dari naga dari Jawa/Bali, semestinya ada kekhususan tertentu yang tampil. Dalam hal ini, naga Jawa/Bali misalnya digambarkan selalu memakai mahkota, termasuk tokoh-tokoh naga perempuan seperti Nyi Blorong maupun  Dewi Nagagini. Di trailer pun telah terlihat bahwa Nagini tidak menampilkan kekhususan seperti ini. Satu-satunya penanda adalah etnisitas pemeran yang sudah menimbulkan kontroversi habis-habisan, apakah semestinya dia boleh diperankan oleh aktris Korea Selatan, atau harus aktris India, atau aktris Indonesia, atau spesifik aktris Jawa.

3) Kemudian dari sini saya membahas masalah otoritas terhadap representasi tersebut. Nagini yang diklaim sebagai adaptasi dari naga Indonesia, ada sepenuhnya di bawah kuasa kreativitas pembuat film dan cerita yang bukan berasal dari pemilik mitologi tersebut. Tidak ada pelibatan pemilik kebudayaan untuk turut menentukan seperti apa representasi yang mereka (kita) inginkan di dalam film tersebut.

Melihat poin ketiga, sudah jelas jawabannya ketika akhirnya menonton filmnya bahwa hasilnya adalah bencana, yang entah disadari oleh siapapun atau tidak.

Sebelum masuk ke bagian yang paling kacau menurut saya, saya akan bahas dulu seuatu terkait dengan poin no. 1. Kekuatiran saya tersebut semakin tersorot di dalam film. Di postingan sebelumnya saya tidak ingat bahwa film bersetting di tahun 1927, 18 tahun sebelum Indonesia merdeka. Ketika Nagini hendak muncul di sirkus, pembawa acara sirkus mengumumkan bahwa ini adalah mahluk yang berasal dari hutan di Indonesia.

Yep. "Indonesia", belum ada di saat itu. Nusantara masih barangkali disebut sebagai East Indies, atau Hindia Belanda. Mungkin lebih pas kalau disebut Nagini diambil dari hutan di Jawa atau Kalimantan atau Sumatera dsb. Kesalahan yang simpel? Ignorance terhadap sejarah? Keputusan komersial? We'll never know.

Kemudian hal teramat penting lain yang mengganggu saya adalah kutukan maledictus, dan bagaimana Nagini menjadi tontonan sirkus gara-gara kutukan itu. Oke, jadi pertanyaannya adalah kenapa Nagini menjadi tontonan sirkus?

Dari sejarah kita tahu bahwa freak show adalah memang semacam hiburan di Inggris di pertengahan abad ke-16, di mana mereka akan menonton mahluk dengan kelainan yang langka seperti kembar siam. Baik, jadi Nagini adalah semacam freak show? Kelainan apa yang dihasilkan dari kutukan maledictus? Bahwa Nagini bisa berubah menjadi ular. Tetapi bukankah banyak penyihir di dunia Harry Potter yang bisa menjadi hewan dan mereka disebut animagus? Jadi apa menariknya melihat seseorang berubah menjadi ular?

Well, selain freak show, di masa itu orang Eropa juga rupanya senang menonton human zoo. That's right, human zoo. Di mana manusia-manusia yang bukan orang Eropa berkebudayaan Barat dipamerkan sebagai tontonan. Seperti hewan (although for the record, saya juga merasa hewan harusnya juga tidak dipamerkan sebagai tontonan, but we are talking about humans here, not just any humans, but us!). Dan guess what, salah satu pionir human zoo di Jerman waktu itu adalah pedagang hewan liar, yang merasa kegiatan perdagangan hewannya kurang menguntungkan sehingga ia menambahkan manusia ke dalamnya.


Jadi saya menyimpulkan bahwa Nagini dipamerkan bukan karena dia bisa berubah menjadi ular. Apa anehnya buat para penyihir di dunia Harry Potter? Animagus juga bisa berubah menjadi hewan. Tetapi karena dia berasal dari "Indonesia" dengan kutukan eksotis maledictus yang semacam animagus versi KW (karena kita selalu lebih rendah dari bangsa Eropa tampaknya), dia menjadi menarik bagi para penonton Eropa. She's both a freak show and a human zoo object. Dengan demikian sedikitnya representasi orang-orang non kulit putih dalam kisah fantasi Harry Potter, untuk satu-satunya representasi orang dan/atau mitologi Asia Tenggara dia menampilkannya dalam sejarah tergelapnya, sebagai orang yang dianggap hewan tontonan oleh orang kulit putih. Menurut saya ini cukup jelas karena:

- Sebelum munculnya Nagini, pembawa acara harus mengumumkan asal-usul Nagini dari tempat eksotis "Indonesia" yang menandakan bahwa itulah yang membuatnya menjadi menarik dilihat
- Maledictus adalah kutukan yang tidak setara dengan sihir animagus, melainkan seperti yang sudah saya bilang di atas adalah versi KW nya. Maledictus adalah kutukan yang jatuh ke seseorang tanpa dia bisa memilihnya dan kutukan ini merupakan bencana bagi dia  karena dia akan berubah menjadi ular selama-lamanya. Human zoo memang dimaksudkan untuk memamerkan kebudayaan yang dianggap lebih "primitif" daripada kebudayaan bangsa kulit putih Eropa
- Nagini memang akan menjadi hewan untuk selama-lamanya
- Yang kemudian menjadi piaraan Voldemort....

Guys?....

Kesimpulannya, orang Indonesia tidak seharusnya bangga sama sekali dengan tokoh Nagini, malah seharusnya tersinggung. Sebab dasar dari penokohan Nagini teramat rasis dan merendahkan manusia lain yang seharusnya tidak muncul lagi di tahun 2018. Kalau saya bilang, kita semua harusnya bersyukur Acha Septriasa tidak jadi memerankan tokoh tersebut. She dodged a f***in bullet!

 

Saturday, July 27, 2013

Review: Pacific Rim

Image courtesy of Dimas Subagio
http://apps.warnerbros.com/pacificrim/designer/us/

Yes! A million time yes for this movie!

Okay, I might not be the right person to review this movie, as I don't have a thing for robots, Japanese stuff, action and stuff like that. I'm just a regular movie goer.

However,...

When it comes to action movies, I have an allergic tendency towards weepy dramatic or lovey dovey scenes. You can probably guess then, that I hated Superman and Spiderman and love Iron Man. I also hated Fast & Furious 1, 4, 6 and absolutely love 2, 3 and 5. (or maybe that's too complicated to guess?).

Pacific Rim is just perfect.

1. Full action! The main character doesn't even kiss, but we know that they're.. you know... A lot of the good guys are dead, but there's no dramatic weeping. At all. And you know those scenes, where the good guy is on the edge of danger, but still make time for a dramatic dialogue? There are no such thing in Pacific Rim. HALLE FRIKKIN LUYAHH!

2. The movie does not let us ask questions and complain about the scientific logic (like what happend to TRON for me) by not trying to explain the scientific details. They don't even go there, and just let it be. Let it be. Don't even go there. Don't even question why are there this huge monster came out of the ocean, and how the hell do connect human minds to control robots and why. They just provide necessary explanation (minimum), and you can just enjoy the awesome action. Which are AWESOME.

3. For those of you who enjoys beautiful men on your screen, you will not be dissapointed. The beautiful Aussie father-son, and ahem, Charlie Hunnam who will make you Channing all over his Tatum (he looks like a beautiful version of Channing Tatum. Versi tampan dari Channing Tatum)

4. The girl. Right on for the Mako Mori character. She's perfect, and adding value to the movie instead of distraction.

So what? It's a 5 star for me. And yes, do watch them on IMAX if you can. The action matters.


Sunday, January 29, 2012

*spoiler alert* Sherlock (BBC) Season 2

Still loving this version way better than the Hollywood movie. But for season 2, I am not loving the Adler story. The chemistry between Sherlock with Moriarty is way way HOTTER than with Ms. Adler.

Seriously the end of the first episode was kinda ruin Sherlock for me a bit and definitely ruin Irene Adler. The actress playing Irene is not young and pretty enough (compare to Benedict Cumberbatch as Sherlock who is really on the young and cute side instead of mature and sexy). For this one I root for the Rachel McAdams version.

It is interesting however the adaptation of Irene Adler as dominatrix. Kinda remind me of Gill Grissom with Lady Heather.

But the weepy lovey dovey ending... God! really? It's almost like the writer cannot decide on letting Sherlock stays asexual or not (the Hollywood version decides to let go of this idea) and decided to sort of stay in the middle but downgrade Ms. Adler entirely. Making HER fall in LOVE with Sherlock, that is just low! You should be ashame.

Well, it was kinda awkward because she is a mature lady while Sherlock is like a cute boy in the series. So except if you cast her as young woman....

FINE, call me judgemental, I don't like cougars.

WAIT NO, cougars doesn't fall in love and get all weak like that.

Anyway, enough about that, I'm gonna start with Moriarty, third episode.

*sigh

Two gorgeous genious fashionable guys, 'flirting' with each other. The chemistry is HOT HOT HOT.

And that's all I gotta say about them. I wonder why both Hollywood and BBC chose this ending at the same time.

Oh, right the second episode. I liked that they cast the werewolf from Being Human to play in The Hounds of Baskerville. It's just approriate 


Saturday, January 28, 2012

The Muppets

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
It's a great Muppet Show but not overall a great movie.

We laughed every 2 seconds (we here, is a bunch of people age 27-38 who grew and are still growing with American pop culture), the funny part was absolutely fine, although you need to be pop culture savvy to understand it. Well, most of it is because you're just happy to see the many cameos in the movie. In my case, I turn to be a 13 year old girl watching 'Never Say Never' when JIM PARSONS appeared (HUGE Sheldon fan). And who doesn't LOVE Neil Patrick Harris? (and John Krasinski, Selena Gomez, Dave Grohl, Emily Blunt, Sarah Silverman and Jack Black for that matter).

My favorite song/funny part is the "Man or Muppet" song (no, the song is funny, it has little to do with the fact that this is where Jim Parsons appear)

But overall the story was not well executed, it was not well-rounded. And Jason Segel's (and other actors') act was horrible.

Also even though the muppet show and songs was perfectly okay, it was not meeting my expectation as I was expecting something like Jason Segel made in 'Forgetting Sarah Marshal'. It was not close as special as that vampire muppet song :(

The good thing is, the movie really picked up towards the end, so I still end up feeling great coming out of theater. We in fact, got out singing and dancing the "Mahna Mahna" song.

Sunday, December 25, 2011

Sherlock Holmes: A Game of Shadows

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
I still can't give more than three stars for this movie even though I have gotten over the 'adaptation flaw' (like I've mentioned in my review for the first movie) and enjoy it much more than the first one. Because this movie is still missing some elements that makes Sherlock Holmes so lovable; a curious event and deduction.

As I said in my previous review, this movie explores Holmes in his specific abilities such as undercover work and boxing. In this movie the two characteristic appears much much more than the book. Not sure if it is a good thing or not, but the movie becomes much more action than deduction. Probably then the movie becomes more enjoyable for more people.

No curious event to begin the story. Just a very 'big' plot to work. World war. I don't know why it's necessary to make Holmes the hero of Europe in such a big way.

But again, the movie is really really fun to watch. I'm just being a nosy Holmes fan.

Tuesday, December 20, 2011

Drive

Rating:★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
SPOILER ALERT
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

Bukan hanya karena mungkin ada jalan cerita yang bocor di review ini, tetapi membaca pendapat saya mungkin akan mempengaruhi 'kenikmatan' anda menonton film ini.

Saya tidak menikmati film ini. Apparently we don't necessarily have to 'like' a 'good movie'. This movie is 'good' because it's an anti-thesis of a typical hollywood movie.

So I have a hollywood taste, sue me.

Nada yang dipasang di film ini adalah 'depresif', sepanjang film.

Laju film ini, lambat, bosen, gak sabar.

Adegan pacarannya, cheesy.

Violence: Tarantino level.

Ryan Gosling, harus menampilkan 'wajah batu' sepanjang film.

Setiap dialog, memiliki jeda 5 detik untuk balas-balasan.

Teknik menyupir mobil dalam heist, keren sih.

Alur logika cerita film, saya nggak nangkep dengan lengkap, cuma 60% lah

Tokoh utamanya gak bernama.

Overall impression: depressed.

After taste: depressed.

Wednesday, December 14, 2011

The Young Victoria (2009)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Romance
Untuk film ini saya nyerah deh, I'm a weepy hopeless romantic! And I adore the handsome prince.

Tadinya agak gimana gitu mau nontonnya, karena film-film tentang kaum bangsawan biasanya tragis, penuh intrik dan bikin cemas dan sedih. Ternyata film ini setenang kolam bening. There's absolutely nothing to worry about. Happy ending! Intriknya pun lumayan "cemen" dan berhasil diatasi dengan baik.

Chemistry antara Emily Blunt dan Rupert Friend, dapet banget! You root for them and you got it in the end. They both are just sooo beautiful and so beautiful together.

Teruuus, sedikit personal nih, Paul Bettany! Absolutely love him (sejak nonton dia di film Wimbledon). Dia terlalu muda untuk tokoh yang dia mainkan tapi katanya pembuat film kesulitan mendapatkan pemeran yang cukup tua tapi 'sexy and good looking enough'. Oh! You betcha Paul Bettany is the right choice. He is super sexy, dan suaranya itu lho, siapakah yang bisa tidak jatuh hati pada suaranya JARVIS? Hahaha (JARVIS is Tony Stark's computer)

Pokoknya ini feel good movie banget deh, seperti dongeng-dongeng putri untuk gadis kecil. Tapi untuk orang dewasa tetap bisa dinikmati melihat Ratu Victoria naik tahta dan berusaha berpolitik dan mempertahankan kekuasaan. Still feel-good to see her empower herself.

And Prince Albert is just....such a... prince! Selain memang aslinya dia pangeran baik hati yang mencintai istrinya dan bijaksana dalam memerintah rakyat yah, the character was really really well played. Aksennya ya TUHAN! Not fair. Not fair. Mana boleh ada laki-laki semempesona itu sih!!! Jadi pingin marah.

Not fair, everything is too beautiful in this movie! Habis nonton film ini harus buka wikipedia dan bersyukurlah bahwa Victoria dan Albert tidak secakep Emily and Rupert. Fiuh!

Saturday, December 10, 2011

le catching up hitchcock movies

Percaya atau enggak, saya mulai nonton film Hitchcock untuk melihat baju-baju keren di film itu. "To Catch A Thief" disebut sebagai salah satu film yang wajib tonton sebagai referensi gaya oleh Nina Garcia di bukunya. Grace Kelly was playing in that movie.


Lalu saya nonton "Rear Window", another of Grace Kelly in a Hitchcock movie, another super stylish movie, dan di sinilah saya mulai kecanduan.


Bukan, bukan bajunya (saja), tapi juga kenikmatan filmnya, dan kebrilianan beliau menciptakan suspense yang terkesan effortless. Allow me to fill you in on several of my favorite.

Rear Window

The movie that got me into it. Ceritanya tentang seseorang yang karena patah kaki gak bisa ngapa2in sehingga terpaksa ngeliatin kegiatan tetangganya melalui jendela belakang rumahnya. Dia mencurigai bahwa terjadi pembunuhan di salah satu rumah tetangganya tapi nggak ada bukti. Film ini tegang banget tanpa ada adegan kekerasan yang brutal. Briliant.

Dial M for Murder
Ketegangan film ini justru karena kita cemas rencana si penjahat nggak berhasil. Betapa briliannya bukan!!!! Plot cerita diatur agar kita mengetahui rencana si penjahat dengan sangat mendetil, kemudian kita diajak ke eksekusinya yang menemui hambatan-hambatan kecil tapi fatal, dan kita dibuat tegang melihatnya karena kita tau detil rencana yang semestinya kaya apa.

Sejauh ini dua itu lah favorit saya dan membuat saya sangat kagum dengan sang sutradara. Film-film lainnya ceritanya tidak sebrilian itu, tetapi semuanya sangat nikmat untuk ditonton dan punya kebrilianan tersendiri. Sangat tegang, atau bikin curious (film-film bertemakan spionase). Saya gak berani nonton Psycho dengan full audio, suara saya matiin di adegan2 seremnya. Gak kuaaaatt, habisnya nonton sendirian sih.


Lalu saya mengira saya udah nonton semua film-film pentingnya Hitchcock ya, selain yang udah disebut di atas; Notorious, The 39 Steps, North by Northwest, Strangers on a Train (penting abis, menginspirasi beberapa cerita di serial TV detektif), The Lady Vanishes, Vertigo. Ternyata masih ada Rope, Spellbound, Rebecca dan Shadow of a Doubt.


Dan itu baru yang terkenalnya. Belum film2 lainnya yang gak begitu populer.

Ok got to go! Got some catching up to do!

Wednesday, December 7, 2011

Nonton film tapi yang dipelototin bajunya: Fashionable Films

Ya ya ya, Breakfast at Tiffany's. Hoaem. Bosen ah, eksplorasi saya udah lumayan jauh untuk menganggap style di film itu membosankan. Hehehe. Film-filmnya Hepburn memang dianggap fashionable tapi menurut saya sedikit yang applicable untuk kita sehari-hari, kebanyakan gaun-gaun over the top yang bikin drooling memang, tapi gak mungkin dipake buat besok ke kantor. Selain itu, karena gaun ya emang udah cakep dari sononya, jadi gak melibatkan 'kreativitas'.

Semenjak "The Devil Wears Prada", saya jadi agak terobsesi untuk tampil gaya. Nggak mungkin segaya tokoh-tokoh di film itu sih, ampun DJ, nggak kuat atuh kalo disuruh beli Hermes atau Chanel. Kayaknya sih yang terdorong oleh film itu bukan saya doang, soalnya perasaan semenjak film itu industri gaya-gayaan semakin menggila, dan terasa bahwa keinginan untuk tampil gaya semakin diakomodasi oleh industri, bukti bahwa permintaan pasar memang meningkat. Nina Garcia aja sukses jualan buku yang ngajarin cewek-cewek untuk tampil bergaya.

Salah satu korbannya saya. Kemudian dari bukunya Nina Garcia, obsesi saya terhadap film pun dimulai. Kok bisa?

Soalnya beliau ngajarin untuk nyari inspirasi dari film dan menyertakan daftar film-film yang menginsipirasinya. Dari situ, pe-er saya dimulai, dan ini adalah beberapa film yang fashionnya berkesan buat saya:

And God Created Woman (1956)


I'm no Brigitte Bardot, and I'll never make a shirtdress looked that hot, but I don't care, I want one!


Annie Hall (1977)


Kepingin banget wide-legged pants. Kemarin nyoba di Gap dan hasilnya gw keliatan bongsor berat, gara-gara pinggul dan pantat gw yang gede banget :'(

Inglourious Basterds (2009)


Eits jangan salah, kebanyakan filmnya Tarantino itu gaya abis loh (if you can get over the bloody parts). Untuk yang ini, saya paling suka adegan Shosanna Dreyfus duduk di cafe, baca buku, minum wine dan merokok. Topinya....*sigh*

Factory Girl (2006)


Ampe gak tau mau masang foto dari shot yang mana. Semuanya gaya abis.

Midnight in Paris (2011)

Shirtdress! Shirtdress! Damn shirtdress!

Tentunya masih banyak lagi yang menginspirasi gaya berpakaian dan beraksesori. Ini hanya segelintir saja yang saya ingat saat ini. Post ini akan terus saya edit jika teringat atau baru nonton film yang bagus. Tapi dari rajin nonton film yang tadinya demi ngeliat baju-bajunya aja, saya jadi senang nontonin berbagai film (lama maupun baru, berbaju gaya maupun enggak), terutama film-film 'landmark' yang sering jadi referensi pop culture. Yang jelas pengetahuan saya jadi nambah dan beberapa film sangat enjoyable, bukan cuma melototin bajunya doang. 

Sebaliknya sekarang kalau nonton film apapun, jadi merhatiin baju para tokohnya. Oh ya sutradara yang kayaknya cukup merhatiin aspek fashion di film-filmnya adalah Tarantino (Pulp Fiction -d'uh!-, Inglourious Basterds, Reservoir Dogs), Hitchcock (Rear Window, among others, semuanya keren sih), Woody Allen (Annie Hall, Midnight in Paris - baru nonton dua ini tapi keren banget sih yeee). So I'm gonna watch out for their movies.

Ada yang punya rekomendasi?

Sunday, December 4, 2011

Midnight in Paris

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Other
Adrien Brody brought a very amusing "Dali!" (as in Salvador Dali) in this movie. The one scene that I just don't forget and keep playing in my head.

I totally enjoyed the whole movie. Also, I can relate very well on the message; How we are never satisfied with the present and always reminiscing the glory of the past. I always consider the 70s, 80s and 90s are golden age. When the earth is not so crowded and simple things can be special. But as this movie is trying to say, the people who lived in your 'golden age' seems to consider other times as the golden age.

Also, I can also relate very well on imagining to meet all these great people from the past. I always imagine that I can go to the past and meet great people.

Two pluses: Rachel McAdams clothes are just... *tsk! simple but gorgeous, she dressed as she should be dressing in Paris, and Paris is of course... Paris.

Thursday, December 1, 2011

Crazy Stupid Love

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
Oh my f***ing God...sexualizing men? This is exactly how to do it.

Ladies, your man is Ryan Gosling.

No no no, it's not just the body. It's the whole package. Karakternya, shot-nya, scene-nya....

Guys, only now that I fully understand the whole Megan Fox and Angelina Jolie thing that you have.

Aside from the whole Ryan f***ing Gosling thing, this movie is really good. Ceritanya lumayan 'baru' untuk rom-com meskipun beberapa formula lama masih ditemui. Cukup segar kok. Misalnya, formula 'makeover' diaplikasikan pada Steve Carrel alih-alih pada seorang cewek. Selain itu ada beberapa formula lain yang tampil dengan segar. Love all the cast as well, aside from the obvious Ryan Gosling (have I said that name three times now?).

Oh ya, the "dirty dancing" move? it works... it does...

I ended up with a big stupid grin on my red face after watching this movie.

Saturday, November 12, 2011

The Rum Diary

Rating:
Category:Movies
Genre: Drama
Instead of putting the movie poster, I am putting my reaction to the movie:

This movie is so not my cup of tea.

Some people might like it though :) my boyfriend is an example. He loves it.

Monday, November 7, 2011

Sang Penari

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Romance
Harap diingat bahwa film ini hanya "terinspirasi dari" buku Ronggeng Dukuh Paruk dan bukanlah sebuah adaptasi setia. Understandably, bukunya panjang banget.....kalau mau diadaptasi sih jelas harus milih salah satu konflik aja untuk jadi sentralnya kalau mau bagus. Nah film ini, memilih untuk fokus pada kisah cinta Srinthil dan Rasus (dan politik per-PKI-an tahun '65, actually), jadi kritik pertama saya mungkin harusnya judulnya jangan "Sang Penari". Saya nggak gitu berani menarik kesimpulan bahwa gara-gara penulis naskah dan sutradaranya laki-laki maka film ini jadi ber-angle laki-laki sih (teringat kata-katanya Nia Dinata mengenai betapa bisa berbedanya angle cerita dalam film kalau yang ngerjain perempuan), tapi yup at the risk of that saya akan mengatakan bahwa buat saya film ini cukup "maskulin" (which is totally fine by the way, IF it was meant to be that way).

The angry leftist chick is back with her review, people! :p

Oke, sedikit latar belakang untuk menjelaskan subjektivitas saya dalam memandang film ini. Ronggeng Dukuh Paruk, meskipun ditulis oleh seorang laki-laki, merupakan cerita mengenai seorang wanita. Sang Ronggeng adalah tokoh sentral di cerita itu, dan itulah yang buat saya membuat ceritanya sangat "feminin". Ya memang, Srinthil pada akhirnya kepingin jadi ibu rumah tangga ketimbang 'wanita karier', not so feminist. Dan ya, Rasus si tentara gagah harus 'menyelamatkan' Srinthil di akhir cerita, not so feminist. But the feminist part is actually the centrality of the character. How everything else is build around her and not the other way around.

Agak sulit dijelaskan bagaimananya, tapi itu adalah satu hal yang saya nggak dapet di film. Saya kurang merasakan Srinthil dalam film itu. Film yang penuh dengan laki-laki: transformasi si Rasus, politikus komunis, si dukun ronggeng... Tidak terasa bagaimana semua itu dibangun di sekitar sang Ronggeng, namun yang kerasa adalah bahwa Srinthil ada di dalam lingkaran itu. Transformasi dan konflik kejiwaan tokoh yang lebih terasa juga adalah justru Rasus dan bukan Srinthil.

Lalu, filmnya cukup dramatis ala sinetron (dramatisnya doang yang sinetron kok, lain2nya kualitas film yang sangat oke berat, will get to that later). You know, bagaimana adegan dan musik dibuat untuk memeras emosi penonton. Adegan dramatis dimana Rasus mengejar Srinthil yang dibawa pergi sambil teriak-teriak "Srinthiiiiiiiil". You know, right?

Oh tapi saya nangis di adegan tempe bongkrek bukan karena filmnya, tapi karena pas baca bukunya juga udah nangis. I think it was a crazy batshit sad story.

Buuuut putting that aside, you know, if you come into the theater only for watching a good movie and not being a (nosy) feminist and intelectually (over)demanding and all that, you will find that this is an excellent movie.

Castnya sodara-sodara!!! Castnya!!!! A-MA-ZING! Keren semua. KE-REN SE-MU-A!!!!. Serius. Mending gw ga usah sebut siapa yang keren, karena semuanya keren. Bahkan Happy Salma yang cuma dapet beberapa menit di awal film aja sangat mengesankan. Keren.

Gambar dan lain-lain, I'm not an expert so I dunno how to judge in details, but everything is nicely done. Sama sekali bukan kualitas kacangan deh! Excellent. A definitely must watch movie :)

Wednesday, August 24, 2011

Fast Five

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
I'm going to admit.

I really f***in love this movie!!!

But first of all, a disclaimer. Before you watch this movie, to relate to the five stars that I gave it, please leave your smart-ass macho attitude at home. And definitely, definitely leave also any angry-leftist-chick attitude. Just sit back, and enjoy the entertainment. Just sit, and enjoy the cheesy dish. I assure you that the cheese is not overboard.

Now where do I start?

Let's see. If you are a fast furious franchise fan, you'll be happy to see that ALL THE GANGS ARE HERE!!! Eva Mendes (yeah, I must mention her first), Tyrese, Ludacris from 2F2F; Sung Kang from Tokyo Drift; and the usual Vin Diesel, Paul Walker, Jordana Brewster. Yes. The gang's are here. Except maybe for Michele Rodriguez.

Additionally, Dwayne Johnson. Him and Vin Diesel in one movie? Expect an empty hand battle.

So not only, it is a car race action movie.. it is also *gasp* a heist movie. And BRAZIL setting? And REGGAETON soundtrack? God, was this movie made for ME?? Yes, ok, this is a very subjective review. Don't care. Moving on.

Unlike probably most people, I'm a fan of the 2nd F&F. No excessive drama involves. It was just Paul Walker with his boyish mischievous smile and car racing. Just that. And that's why I love it. (Okay, maybe it was because of Eva too). Now I got exactly that from this 5th movie with multiple dosage extra an-equally-mischievious-minus-the-drama Vin Diesel! My God, I swear! I cannot stand Paul Walker's naughty boy smile when it comes to taking a car and race.

The lines was also just fun and witty. Absolutely not too much drama.

Also, at first, when you think that the movie is so America superiorism, there is one scene that finally answers to that disturbance. It was cheesy but necessary.

Logic? Dont' go there. You are not allowed to think about the logic of the story if you want to enjoy the movie.

My favorite line: "From who did you take that car from? Papa Smurf?"