Showing posts with label mujeres. Show all posts
Showing posts with label mujeres. Show all posts

Wednesday, December 7, 2011

Nonton film tapi yang dipelototin bajunya: Fashionable Films

Ya ya ya, Breakfast at Tiffany's. Hoaem. Bosen ah, eksplorasi saya udah lumayan jauh untuk menganggap style di film itu membosankan. Hehehe. Film-filmnya Hepburn memang dianggap fashionable tapi menurut saya sedikit yang applicable untuk kita sehari-hari, kebanyakan gaun-gaun over the top yang bikin drooling memang, tapi gak mungkin dipake buat besok ke kantor. Selain itu, karena gaun ya emang udah cakep dari sononya, jadi gak melibatkan 'kreativitas'.

Semenjak "The Devil Wears Prada", saya jadi agak terobsesi untuk tampil gaya. Nggak mungkin segaya tokoh-tokoh di film itu sih, ampun DJ, nggak kuat atuh kalo disuruh beli Hermes atau Chanel. Kayaknya sih yang terdorong oleh film itu bukan saya doang, soalnya perasaan semenjak film itu industri gaya-gayaan semakin menggila, dan terasa bahwa keinginan untuk tampil gaya semakin diakomodasi oleh industri, bukti bahwa permintaan pasar memang meningkat. Nina Garcia aja sukses jualan buku yang ngajarin cewek-cewek untuk tampil bergaya.

Salah satu korbannya saya. Kemudian dari bukunya Nina Garcia, obsesi saya terhadap film pun dimulai. Kok bisa?

Soalnya beliau ngajarin untuk nyari inspirasi dari film dan menyertakan daftar film-film yang menginsipirasinya. Dari situ, pe-er saya dimulai, dan ini adalah beberapa film yang fashionnya berkesan buat saya:

And God Created Woman (1956)


I'm no Brigitte Bardot, and I'll never make a shirtdress looked that hot, but I don't care, I want one!


Annie Hall (1977)


Kepingin banget wide-legged pants. Kemarin nyoba di Gap dan hasilnya gw keliatan bongsor berat, gara-gara pinggul dan pantat gw yang gede banget :'(

Inglourious Basterds (2009)


Eits jangan salah, kebanyakan filmnya Tarantino itu gaya abis loh (if you can get over the bloody parts). Untuk yang ini, saya paling suka adegan Shosanna Dreyfus duduk di cafe, baca buku, minum wine dan merokok. Topinya....*sigh*

Factory Girl (2006)


Ampe gak tau mau masang foto dari shot yang mana. Semuanya gaya abis.

Midnight in Paris (2011)

Shirtdress! Shirtdress! Damn shirtdress!

Tentunya masih banyak lagi yang menginspirasi gaya berpakaian dan beraksesori. Ini hanya segelintir saja yang saya ingat saat ini. Post ini akan terus saya edit jika teringat atau baru nonton film yang bagus. Tapi dari rajin nonton film yang tadinya demi ngeliat baju-bajunya aja, saya jadi senang nontonin berbagai film (lama maupun baru, berbaju gaya maupun enggak), terutama film-film 'landmark' yang sering jadi referensi pop culture. Yang jelas pengetahuan saya jadi nambah dan beberapa film sangat enjoyable, bukan cuma melototin bajunya doang. 

Sebaliknya sekarang kalau nonton film apapun, jadi merhatiin baju para tokohnya. Oh ya sutradara yang kayaknya cukup merhatiin aspek fashion di film-filmnya adalah Tarantino (Pulp Fiction -d'uh!-, Inglourious Basterds, Reservoir Dogs), Hitchcock (Rear Window, among others, semuanya keren sih), Woody Allen (Annie Hall, Midnight in Paris - baru nonton dua ini tapi keren banget sih yeee). So I'm gonna watch out for their movies.

Ada yang punya rekomendasi?

Thursday, December 1, 2011

Crazy Stupid Love

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
Oh my f***ing God...sexualizing men? This is exactly how to do it.

Ladies, your man is Ryan Gosling.

No no no, it's not just the body. It's the whole package. Karakternya, shot-nya, scene-nya....

Guys, only now that I fully understand the whole Megan Fox and Angelina Jolie thing that you have.

Aside from the whole Ryan f***ing Gosling thing, this movie is really good. Ceritanya lumayan 'baru' untuk rom-com meskipun beberapa formula lama masih ditemui. Cukup segar kok. Misalnya, formula 'makeover' diaplikasikan pada Steve Carrel alih-alih pada seorang cewek. Selain itu ada beberapa formula lain yang tampil dengan segar. Love all the cast as well, aside from the obvious Ryan Gosling (have I said that name three times now?).

Oh ya, the "dirty dancing" move? it works... it does...

I ended up with a big stupid grin on my red face after watching this movie.

Monday, November 7, 2011

Sang Penari

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Romance
Harap diingat bahwa film ini hanya "terinspirasi dari" buku Ronggeng Dukuh Paruk dan bukanlah sebuah adaptasi setia. Understandably, bukunya panjang banget.....kalau mau diadaptasi sih jelas harus milih salah satu konflik aja untuk jadi sentralnya kalau mau bagus. Nah film ini, memilih untuk fokus pada kisah cinta Srinthil dan Rasus (dan politik per-PKI-an tahun '65, actually), jadi kritik pertama saya mungkin harusnya judulnya jangan "Sang Penari". Saya nggak gitu berani menarik kesimpulan bahwa gara-gara penulis naskah dan sutradaranya laki-laki maka film ini jadi ber-angle laki-laki sih (teringat kata-katanya Nia Dinata mengenai betapa bisa berbedanya angle cerita dalam film kalau yang ngerjain perempuan), tapi yup at the risk of that saya akan mengatakan bahwa buat saya film ini cukup "maskulin" (which is totally fine by the way, IF it was meant to be that way).

The angry leftist chick is back with her review, people! :p

Oke, sedikit latar belakang untuk menjelaskan subjektivitas saya dalam memandang film ini. Ronggeng Dukuh Paruk, meskipun ditulis oleh seorang laki-laki, merupakan cerita mengenai seorang wanita. Sang Ronggeng adalah tokoh sentral di cerita itu, dan itulah yang buat saya membuat ceritanya sangat "feminin". Ya memang, Srinthil pada akhirnya kepingin jadi ibu rumah tangga ketimbang 'wanita karier', not so feminist. Dan ya, Rasus si tentara gagah harus 'menyelamatkan' Srinthil di akhir cerita, not so feminist. But the feminist part is actually the centrality of the character. How everything else is build around her and not the other way around.

Agak sulit dijelaskan bagaimananya, tapi itu adalah satu hal yang saya nggak dapet di film. Saya kurang merasakan Srinthil dalam film itu. Film yang penuh dengan laki-laki: transformasi si Rasus, politikus komunis, si dukun ronggeng... Tidak terasa bagaimana semua itu dibangun di sekitar sang Ronggeng, namun yang kerasa adalah bahwa Srinthil ada di dalam lingkaran itu. Transformasi dan konflik kejiwaan tokoh yang lebih terasa juga adalah justru Rasus dan bukan Srinthil.

Lalu, filmnya cukup dramatis ala sinetron (dramatisnya doang yang sinetron kok, lain2nya kualitas film yang sangat oke berat, will get to that later). You know, bagaimana adegan dan musik dibuat untuk memeras emosi penonton. Adegan dramatis dimana Rasus mengejar Srinthil yang dibawa pergi sambil teriak-teriak "Srinthiiiiiiiil". You know, right?

Oh tapi saya nangis di adegan tempe bongkrek bukan karena filmnya, tapi karena pas baca bukunya juga udah nangis. I think it was a crazy batshit sad story.

Buuuut putting that aside, you know, if you come into the theater only for watching a good movie and not being a (nosy) feminist and intelectually (over)demanding and all that, you will find that this is an excellent movie.

Castnya sodara-sodara!!! Castnya!!!! A-MA-ZING! Keren semua. KE-REN SE-MU-A!!!!. Serius. Mending gw ga usah sebut siapa yang keren, karena semuanya keren. Bahkan Happy Salma yang cuma dapet beberapa menit di awal film aja sangat mengesankan. Keren.

Gambar dan lain-lain, I'm not an expert so I dunno how to judge in details, but everything is nicely done. Sama sekali bukan kualitas kacangan deh! Excellent. A definitely must watch movie :)