Thursday, July 18, 2013

Bolehkah saya menyalahkan penjajah Belanda atas kurangnya partner Tango?

Menyukai dunia dansa-dansi kalau kamu perempuan, orang Jakarta dan bukan sosialita, dan ditambah kere sangatlah problematik.

Wait, sebetulnya menjadi atau menyukai apapun kalau kamu kere ya pasti problematik sih. Anyway, moving on.

Saya jatuh cinta pada dunia dansa, terus terang karena pengaruh mantan sahabat saya (yes, mantan and I don’t want to talk about it), yang suka nonton film  dansa  terutama Salsa. However, I always take obsession to the next level, dan saya berakhir menjadi junkie film dansa yang lebih akut dari dia. Apalagi dengan kemahiran ber-torrent, lengkaplah sudah. I’ve probably watch any dance movie (from Hollywood) there is in this world. Kami memulai obsesi dengan salsa, dan mempelajarinya selama beberapa bulan, akan tetapi obsesi saya yang paling akut adalah Argentine Tango.

Tidak, jangan berani-berani Anda mengira bahwa Antonio Banderas (Take the Lead, blah over dramatic)



atau Richard Gere (Shall We Dance, blah over dramatic)



yang menampar saya dengan Argentine Tango. Bahkan bukan pun Al Pacino (yang adegan tango dalam film Scent of a Woman-nya orang-orang hebohkan, not dramatic but he was blind in the story).



Sebuah film yang mungkin unremarkable, tapi sungguh membuat saya terobsesi dengan Argentine Tango adalah film Robert Duvall berjudul Assassination Tango. Mr. Robert Duvall dan terutama keanggunan isterinya Luciana Pedreza lah yang benar-benar memukau saya. Tidak ada dramatisasi berlebihan, hanya keeleganan yang memukau dan memicu rasa penarasaran dan gemas. Buat saya, film itu menampilkan Argentine Tango yang sesungguhnya, gerakan-gerakan sederhana yang tetapi menggelitik, bukan dramatisasi berlebihan. (bahkan stunt-stunt andalan memukau ala Argentine Tango pun nggak terlalu ditampilkan, tidak ada gancho, planeo, barridas, volcadas, colgadas, hanya basics, dengan embellishments dan SOUL).

Robert Duvall dan Luciana Pedreza dalam Assassination Tango


Kenapa dari tadi saya terus-terusan bilang “Argentine” Tango. Karena, bagi Anda yang belum tahu, Tango itu ada Ballroom Tango dan Argentine Tango dan keduanya sangat-sangat berbeda.Tapi saya tidak akan membahas sejarah, latar belakang dan perbedaan mendasar antara keduanya. Saya pikir sudah cukup banyak sumber internet mengenai itu.

Jadi setelah Salsa, tentu saja saya harus belajar Argentine Tango. Tapi berhubung saya kuper, pemalu dan enggak pernah dugem (maklum kere), susah banget ya cari guru. Sumber internet nggak membantu, dan satu-satunya petunjuk dari internet ke salah satu sanggar, setelah si sanggar ditelepon nggak membuahkan hasil. Entah itu sanggar bohong bahwa dia punya guru, nggak butuh duit, nggak butuh murid apa gimana, saya nggak ngerti deh. Sampai akhirnya setelah bertahun-tahun nggak nemu petunjuk, akhirnya internet mempertemukan saya dengan guru Argentine Tango saya sampai sekarang. Nggak, bukan bule, bukan Filipino, tapi pria Ambon. Yang hebat adalah, sama dengan saya, beliau tertarik belajar Argentine Tango gara-gara filmnya Duvall.

Masalah pertama selesai, dapat guru, mulai belajar. Masalah kedua, masalah yang sama dengan ketika belajar Salsa adalah cari partner.

FYI

Di Jakarta, kalau Anda pergi ke club pada untuk berdansa Salsa atau Tango, jangan harap ada laki-laki yang mau ngajak Anda dansa secara sosial (kecuali Anda ke sana sama teman laki-laki yang bisa dansa). Cowok-cowok yang ada di sana dan bisa dansa kebanyakan adalah apa yang disebut “Dance Instructor” alias cowok (atau cewek) bayaran yang disewa oleh club atau dibawa oleh pengunjung sendiri. Yes… jadi selain transport, minuman dan keberanian, Anda harus ngeluarin duit buat fee atau tip si dance instructor (plus transport, makan dan minum dia kalau Anda yang bawa dia). Welcome to a world where kere-ness is just unacceptable.

Faktanya adalah, begitu banyak perempuan yang senang dansa, tetapi begitu sedikit laki-laki yang senang dansa. Setidaknya di Indonesia. Atau mungkin juga di dunia. Terus terang, tugas cowok di lantai dansa itu cukup berat, sedangkan si perempuan cukup senang-senang dibawa dansa and act pretty.

Guru Tango saya, si spesies endemik langka itu, pernah bilang “pria Indonesia Timur itu harus bisa dua hal: perang dan berdansa”.

Cakalele, tarian perang dari Maluku
Sumber: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Tari_Cakalele


Hmm…setelah saya pikir-pikir, not that I know much about it, tapi saya merasa lumrah mendengar pria Ambon, NTT, Timor-Timur, Papua, Manado bisa dansa (atau menari. Saya pernah lihat pria Papua menari secara live di depan kelas antropologi, and he was magnificent.). Tapi kalau pria dari Jawa, Sunda, Padang, Batak….not so much.

Fakta lain adalah, banyaaaak sekali dance instructor di Jakarta ini, berasal dari Filipina.

OK can I blame the Dutch on this one?  Really, it’s either they don’t have much dancing culture but even if they do, they won’t teach us inlanders, right? Pola penjajahan Belanda adalah memisahkan antara mereka penjajah dengan pribumi, atau mengutip Wikipedia “Mereka hidup terkait dengan subyek asli mereka, namun secara terpisah di bagian atas kasta rasial dan sosial yang kaku mereka mendirikan masyarakat Hindia.”  


Sementara Indonesia timur (dan Filipina), cukup “beruntung” mendapatkan lebih banyak pengaruh Portugis dan Spanyol I guess. Maka barangkaliiii, kultur berdansa dan menari lebih lekat bagi mereka daripada pria-pria di Indonesia bagian barat. I actually don't really know. Anybody have any thought about this?

Sunday, July 7, 2013

why i can't dance Indonesian traditional dance

I dance Salsa, Bachata, Merengue, Jive and last but not least, Argentine Tango. But I can't dance traditional Indonesian dance. Not even one. Why?

For the last 11 days, I was participating in a leadership program, which allows me to explore Indonesian dance. We were suppose to perform lots of Indonesian dance, and that got me thinking why i haven't learn any Indonesian dance. My friends perform Indonesian dance in the inauguration night: Saman from Aceh, Indang from Minangkabau, and the most awesome one is Mask Dance from Cirebon. Oh Dayak dance is also super awesome. It follows the moves and sounds of the Hornbill bird which is very important animal in their cultural identity. I was also at first, participating in a simple Indonesian dance coreography performance for the closing session. I finally decided not to participate as main dancer in that performance anymore, mainly because the program is quite demanding and I feel that the practice would be too exhausting for me.

When I was given the moves and coreography, after 2 or 3 tries, I can execute it very very well. Seriously. Thanks to the Latin dance I'm already good at, my moves was excellent and smooth (even though my moves was salsa-like. Can you imagine my salsa hips during Papua dancing?!). And it's a coreographed dancing, so you just have to remember the moves. And so yes, the difference between Salsa/Tango with Indonesian dancing is that: Salsa/Tango has basic moves that you have to remember but executed according to the music and personal expression, while Indonesian dancing is coreographed.

So maybe that's why it doesn't seem so exciting for me. Because, you don't have to "conquer" a dancing logic (yes Salsa and Tango steps, required lots of logic), but you just have to "know the moves" (mind you, the moves can be very challenging and beautiful and exciting to conquer too). But, then it got me thinking again. Do you realize why it is coreographed in a precise way? Because, it is danced together. A group of dancer must execute the dance in a harmonious way (except for some solo dancing, or group dancing which can be performed solo). You can clearly see this in Saman and Indang dance of course.

Yes, Indonesian has a very strong communal and togetherness spirit. HAHA so that's why! I am very individualist and I generally hate people, so I don't like communal dancing. I am selfish. Hahahaa.

But another excuse that I have and another characteristic is that, almost all Indonesian dance is a performance dancing, while Salsa/Tango is a social dance (even though it can be made as a performance).

But seriously, I really do want to learn Indonesian dance. The problem is that I have limited time and money and therefore I have to decide priority. Based on purely technical and aestethic preference, I chose Salsa/Tango. If I have all the time in the world and can do anything with it, dancing is all I would be doing :)

Saturday, April 13, 2013

antropologi itu bukan di FMIPA tauuuuk! - a report from star gazing tonight.

aktivitas favorit gw, adalah star gazing. tiap kali star gazing, selalu teringat culture shock yang pernah gw alamin waktu awal masuk antrop. ngobrol sama temen seangkatan yang lain fakultas:

dia: ooooh, jurusan antropologi. kok makaranya warna orange sih, bukannya FMIPA?
gw: haaah? enggak lah kan FISIP....? :/
dia:.....

*seabad kemudian

dalam otak gw: HAAAH DIA KIRA ANTROPOLOGI ITU ASTRONOMI YAAAK????

setelah lama kuliah di antropologi, ternyata itu adalah kesalahpahaman klasik yang terjadi pada hampir semua kerabat-kerabat di antropologi. yang paling klasik adalah "tukang gali-gali" alias "indiana jones" alias "arkeologi". ok lah itu masih deket, dan memang semester 1 pun masih dapet arkeo. yang kedua adalah "manusia purba", which, gak salah, tapi masalahnya di UI kita belajarnya antropologi sosial, bukan paleoantropologi. lah yang astronomi ini lah yang cukup parah "ooo belajar bintang-bintang ya.." *gubraks.

yang lucu adalah, sejak kecil gw terpesona dengan astronomi. mungkin kalau gw gak tolol dalam matematika, gw akan masuk jurusan astronomi. dulu keluarga gw punya buku seri pengetahuan dan yang paling sering gw buka adalah astronomi (kedua adalah buku seri binatang-binatang). itu buku ampe jilidannya rusak dan lecek dan kumel karena seringnya gw lihat-lihat. dan hebatnya nyokap gw, beliau mau bersabar menjelaskan pada gw tentang cara bumi berotasi dan berevolusi mengelilingi matahari, dengan menggunakan telor sebagai alat peraga. dan pada masa gw kecil pun, keluar ke teras pada malam dan mengamati bulan dan bintang adalah hiburan paling mengasyikan selain televisi (kedua adalah mengamati cicak dan berperang dengan laron kalo pas lagi ada).

also didn't help that my older brother is a geek. dia penggemar star wars dan acara-acara seperti star trek dan babylon 5. otomatis gw ikutan nonton meskipun masih terlalu kecil untuk ngerti dan inget ceritanya. gw yang jelas juga nonton sailor moon sih. kalau itu, atas inisiatip sendiri dan kakak gw gak ikutan nonton. tapi selain nonton, gw juga membaca buku-buku dia (beberapa, gak semua) dan termasuk diantaranya buku Hawking.

dan sekaraaaang, berkat google sky map, gw bisa melanjutkan hobi star gazing tapi dengan lebih mendalam lagi. selain gw bisa tahu bintang, konstelasi atau planet apa yang sedang bisa gw lihat, lalu kalau penasaran dengan cerita doski, tinggal langsung me-wiki bintang/konstelasi/planet yang dimaksud.

posisi betelguese dalam rasi orion.
image courtesy: wikipedia


betelgeuse adalah bintang yang paling gw ingat, karena buku seri pengetahuan yang sering gw baca waktu kecil itu mengatakan bahwa betelgeuse adalah salah satu bintang paling besar (pada gambar di bawah terlihat bahwa antares lebih besar lagi daripada betegeuse). warnanya merah. dan kalau kita amati, kita bisa lihat bahwa cahayanya memang merah. bintang ini sedang sekarat, dan entah apakah usia mengijinkan kita untuk menyaksikannya meledak menjadi supernova.

perbandingan ukuran betelguese, matahari kita cuma setitik kalau dibandingkan
image courtesy: www.saintjoe.edu

bintang kedua yang memorable adalah aldebaran, soalnya ya.... aldebaran itu nama model lelaki yang lagi tenar jaman gw ABG hahahaha. emang aldebaran nama yang lumayan populer buat lelaki, karena terdengar keren dan macho. artinya sendiri sebetulnya gak macho amat sih, aldebaran berasal dari bahasa arab yang artinya 'yang mengikuti', karena bintang ini terlihat seperti mengikuti rasi pleiades. cahaya lebih redup daripada betelgeuse tapi masih terlihat merah. karena red giant adalah tahap terakhir bintang sebelum dia mati, maka si aldebaran ini juga sudah hampir metong cyiin. gw selalu merasa mellow kalau menatap kedua red giant dengan cahaya merahnya yang berkelip dan redup (dibandingkan dengan bintang putih di sekitarnya) dan membayangkan bahwa ia sudah begitu tua dan akan mati, meledak menjadi supernova.

lalu tentunya ada sirius. bintang paling terang di langit yang bisa diamati manusia. posisinya ada di rasi canis major (anjing besar), tidak jauh dari orion sang pemburu. dua rasi ini paling sering terlihat dan mudah dikenali. mitosnya adalah sirius ini memang anjingnya si orion yang menemani tuannya berburu. hehehe.

orion sang pemburu dengan anjingnya yang setia
image courtesy: www.starrynighteducation.com


selalu ada cerita di balik benda-benda berkilau di langit yang sangat menarik! well, at least buat gw lah. dan dengan teknologi smartphone, gw bisa 'meneropong' dan langsung mempelajari cerita si bintang. ah yes, star gazing buat gw itu seperti sholat buat orang islam, nyanyi buat orang kristen dan meditasi buat orang buddha. menatap jagat raya membuat gw merasa mellow, kesepian, takut, rapuh dan rendah hati :)




Saturday, March 30, 2013

the socially awkward anthropologist

saat gw daftar kuliah antropologi 10 tahun yang lalu, gw gak tau bahwa social skill adalah sangat penting bagi seorang antropolog. gw tumbuh sebagai anak yang kuper dan pemalu. bahkan sampai sekarang pun gw selalu mendeklarasikan bahwa 'i hate people' and my closest friends knows that i do hate people, in general, except the very few people that i liked (well, d'uh).

Malinowski in Trobriand Island
Picture credit: www.civilization.org.uk


barangkali kalau gw tahu bahwa tugas antropolog adalah untuk menjalin hubungan baik dengan informan, meraih kepercayaan mereka dan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari informan, mungkin gw akan gak jadi daftar. dan sampai beberapa tahun pertama pun memang gw adalah antropolog lapangan yang buruk! skripsi aja gw milih autoetnografi, which means, informannya adalah diri sendiri. curang kan? hehehe. dan selain itu gw pun gak pernah terlibat proyek sebagai antropolog. yah nasib, jaman saya dulu proyek buat mahasiswa antropologi masih sepi, tetapi kalaupun ada, gw gak yakin bahwa gw akan semangat berpartisipasi.

well, untungnya selama kuliah kekuperan gw kemudian terkikis habis. sebagian karena semakin sedikitnya 'persaingan'; gw kuliah di SD, SMP dan SMA populer yang banyak anak gaul, pinter, cakep dan kaya, sedangkan jurusan antrop jelas tidak seglamor kom misalnya ;), sebagian lagi karena bertemu teman-teman yang bisa mengajari gw untuk bergaul dengan orang. yes people, gw baru belajar bergaul dengan proper pada usia kuliah. caranya? sama seperti bagaimana bayi belajar: yaitu meniru. di masa kuliah ini gw bertemu dengan teman-teman dengan social skill luar biasa, terutama sekali my most cheerful friend Indon yang teknik rapporting-nya gw contek habis karena sungguh efektif!

ok, so that's addressing my socializing problem, tapi bagaimana dengan my research technique problem? tentunya butuh skill yang lebih jauh lagi untuk bisa memasukan diri dalam setting masyarakat yang berbeda-beda untuk bisa menggali informasi. teknik mencairkan suasana dan menjalin kedekatan sangat berguna, tapi bagaimana dengan teknik menggali informasi? long story.

setelah lulus dari antrop, gw mendapat kerjaan yang non-antrop yaitu sebagai auditor untuk sertifikasi lacak balak kayu. so, untuk sementara gw merasa cukup aman lah dengan kekuperan gw, altho i struggle a lot to fit myself into the newly professional world. nah, nggak lama dari dunia auditor itu, gw cabut dan pindah ke pekerjaan di semacam sekretariat organisasi. nah kebayang kan kalau kerja di kesekretariatan harus berhubungan dengan banyak orang. teknik si Indon harus diperas habis dan dimodifikasi untuk bisa sesuai dengan dunia profesional. dan gw pun tidak berhenti belajar, gw tetap meniru dan meniru. yang gw lakukan adalah gw memperhatikan teknik-teknik para kolega senior dan atasan-atasan gw (thanks Mbak Iis, Mbak Desi) dan mengambil apa yang gw pikir bagus dan cocok dengan kepribadian gw. ini terus gw lakukan sampai sekarang. and now i realize i'm pretty good at people's relationship and asking questions and i am just totally a different person from who i knew i was. far from perfect, but huge improvement.

Picture credit: www.victorialabalme.com


tiny example: basa-basi alias small talk. i haaatttee small talk and i still do, but i no longer suck at it. dulu gw bener-bener gak tau kalo harus basa-basi ngomong apa, atau hal-hal apa yang harus gw tanyain untuk menginisiasi pembicaraan. tapi sekarang gw udah sangat lumayan melakukannya.

big example: teknik wawancara. masih terkait dengan kemampuan basa-basi. kemampuan berbasa-basi sangat membantu dalam teknik wawancara. belum lama ini kemampuan gw diuji dalam sebuah project kantor, lalu teknik wawancara gw mengundang pujian dari para klien yang menyaksikan gw beraksi. cihuyy! biasanya kalo harus wawancara orang, ga ada yang menyaksikan tapi di project kemarin, si klien turut hadir dalam wawancara tersebut. dan ini membuat gw sadar betapa gw sudah banyak berubah dari gw 10 tahun yang lalu. gw sekarang bisa berbasa-basi dan mampu menciptakan pembicaraan yang mengalir, dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan 'sulit' dengan cerdik. saelah!

Picture credit: http://data.whicdn.com


kemudian, beberapa hari setelahnya, gw menyadari diri gw sedang di salon untuk potong rambut dan ngobrol dengan si mbak salonnya dengan super lancar. pake nunjukin foto cowok gw segala ke dia. something that was almost impossible a few years ago. i would normally: (a) avoid going to salon at all, and (b) talk as little as possible. but heeey, look at me now! ;)

so there you go, the socially awkward anthropologist. gw masih harus banyak belajar tentunya, dan gw pun belum pernah masuk ke setting budaya yang sama sekali berbeda sebagaimana para antropolog-antropolog legendaris seperti Malinowski dan Geertz, but realizing where I am right now compare to where I was, really felt like something. Alhamdulillah, sesuatu banget.

Friday, March 1, 2013

eating breakfast like a pauper, i am

waks lagi-lagi gw nge-post blog soal diet/olahraga. maklum deh, sedang dalam program ingin mencari diet dan program olahraga yang sesuai dengan diriku, mengingat sejak usia 24 tahun metabolisme menurun drastis dan berat badan menanjak. ah memang si faktor U ini susah dilawan.

diet sebetulnya kan artinya adalah jumlah dan jenis nutrisi yang dikonsumsi oleh mahluk hidup meskipun orang awam lebih mengartikannya sebagai pengaturan asupan nutrisi secara sengaja untuk mengontrol berat badan atau jenis nutrisi tertentu. gw agak bermasalah dengan definisi awam ini, karena ini bisa berarti bahwa 'diet' itu tidak permanen, hanya dilakukan sampai berat badan yang diinginkan tercapai (makin cepat makin baik). menurut gw ini nggak sehat dan melakukannya bisa jadi terasa sangat menyiksa, dan bisa ditebak, setelah 'diet' berakhir, berat badan kembali menanjak.

saran utama gw dalam tulisan ini adalah, kembalilah pada definisi sejatinya (alamak, kenapa ini bahasa gw jadi ala silet??). maksudnya, aturlah asupan nutrisi kita, selalu dan selamanya. pilihlah pola makan yang bisa diterapkan sampai selamanya, bukan hanya untuk periode waktu pendek sampai kita mencapai berat badan impian.(catatan: diet bisa jadi harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan, usia atau kultural sekitar kita dari waktu ke waktu). jadi kalau ada diet yang buat kita menyiksa banget ngelakuinnya, tapi ditahan-tahanin demi mencapai berat badan ideal, mending gak usah lah.

gw udah pernah cerita sedikit tentang diet ala teman gw si dokter gizi (nama temen gw Himma). nah gw pingin bahas diet ini lebih lanjut (cos I just love it so much!)

sering banget kita dengar bahwa sarapan adalah waktu makan terpenting sepanjang hari, kalau lagi 'diet' jangan lupa sarapan, sarapan membuat kita makan lebih sedikit nantinya di sisa hari. lebih gampangnya, kepercayaan itu diartikulasikan dalam peribahasa bule seperti berikut:

"eat breakfast like a king, eat lunch like a prince, and eat dinner like a pauper"

logikanya adalah menyesuaikan jumlah asupan nutrisi sesuai dengan intensitas dari aktivitas. karena aktivitas kebanyakan orang adalah sibuk di pagi dan siang hari serta istirahat di malam hari, makan asupan nutrisi terbesar harus di pagi dan siang hari.

apakah gw pernah mencoba diet ini? tentu saja! gw dan juga banyak sekali orang lain yang memilih untuk 'tidak makan malam'. wuiiih! 'tidak makan malam' adalah jenis diet yang pualing sering gw denger. dan ini pun gw lakukan meskipun diam-diam menderita. jujur saja, perut gruyukan kalo nggak makan malem, tidur susah karena kelaperan, kalau lagi hang out sama teman-teman yang biasa terjadi di waktu makan malam cuma bisa gigit jari dan nelen ludah, gosh! entah kenapa malem kok ya bener-bener nafsu makan lagi naik-naiknya.dan bayangin, lo baru bakal makan lagi besok paginya cuyy! setelah 8 jam bobo :'( sebaliknya saat sarapan yang harusnya makan sekenyang-kenyangnya, malah nggak mood makan banyak, dan berasa kaget dan begah kalo langsung diisi penuh. ini adalah hal-hal yang gw rasakan tapi nggak pernah gw sadari ketika melakukan diet ini.

one of those socializing time at dinner


trus suatu hari si himma laporan deh via grup whatsapp. dia katanya mau sharing tentang diet dia sewaktu di Belgia (dia ngambil s2, masih soal food and nutrition, di sana). jadi dia juga sempat mengikuti diet yang sarapan besar dan makan malam kecil itu. terus, karena dia belajar gizi, dia punya food diary dong! hasilnya, total kalori yang dikonsumsi seharian jadi besar banget karena sarapan yang full ini. waah, kalau nggak percaya coba buka link ini dan ini yang mendukung pengalaman teman gw itu. menurut penelitian, sarapan yang buanyak tidak menekan nafsu makan dan rasa lapar di siang dan malam hari, sehingga sarapan nggak sarapan, jumlah makan siang dan malam tetap sama.

akhirnya dia mencoba mengikuti 'pola makan orang Eropa' yang justeru adalah kebalikan dari peribahasa itu. Kalau dibalik jadi begini:

"eat breakfast like a pauper, eat lunch like a prince and eat dinner like a king".

tapi sebagai tambahan, ada "jatah" 2x ngemil di pagi dan sore hari. kata sepupu gw Mungki yang pernah tinggal di Belanda, emang bener orang sono makannya begitu. seperti induk semang dia yang kalau makan malam buanyak banget tapi tetep kurus. jadi mari diulang:

pagi: sarapan kecil saja, Himma sih bilangnya "sebiji kue jajan pasar" + kopi. kalau gw sih kopi + 2 keping biskuit. buat anak kos kayak gw, biskuit adalah yang termudah. gw nyetok biskuit sampe buat 2 minggu, karena tetap benar; you better not skip breakfast, tapi janganlah makan menggila saat breakfast. oya kafein dalam kopi (atau teh) juga membantu meningkatkan metabolisme dan juga menekan nafsu makan. coba aja kalo nggak percaya, minum kopi (preferably tanpa gula), maka niscaya lo gak kepingin makan lagi setelahnya.

setok makanan sarapan eyke


ngemil pagi: preferably buah, atau boleh juga agak padat seperti 2 biji siomay. kadang-kadang gw indomie kalo pas lagi laper. hehehe :p but in my best moments, gw cuma makan pisang atau buah lainnya.

makan siang: setengah porsi aja, kalau ke warteg liatin ibunya pas nyendokin nasi dan jerit-jerit dengan histeris kalau dia ngasih kebanyakan. kadang udah minta setengah sambil jerit-jerit di depan termos nasi tetep aja pas bungkusan dibuka kok nasinya masih buanyak aja ya, jadi gw siasati dengan menu vegetarian (atau bahkan seluruhnya plant-based, tanpa telur ataupun susu) untuk mengurangi kalorinya. nggak harus selalu dan setiap kali makan siang menunya vegetarian, tapi diusahakan begitu. (<--- ini inisiatip gw, bukan dari himma). kalau masih merasa nggak puas (masih laper, gak hepi, jiwa terasa kosong dan merana dalam hidup ini) diguyur es teh aja kata Himma. Manis boleh, tapi lebih bagus kalau tawar.

ngemil sore: ini biasanya gw gak begitu laper sih, jadi buah aja cukup, atau lagi-lagi dua keping biskuit.

makan malam: yup, inilah waktu makan dengan porsi full. kalau gw sih coba batasin menu daging merah 2x seminggu (ketika gw ingin makan daging merah, gw makan saat makan malam), daging putih (ayam dan ikan) boleh lebih sering, tapi kalau bisa tetap dengan menu vegetarian, lebih baik.

lalu dessert! sesekali, manjakan diri dengan dessert yang lezat, cake, es krim, yoghurt, coklat, semua boleh asalkan dalam jumlah yang dibatasi (moderat)

so far diet ini ngejalaninnya sangat-sangat gampang. toh pagi males ngisi perut penuh-penuh, begah! lagian nanti siang juga bisa makan, sehingga nahan laparnya gak lama-lama amat, paling 3-4 jam doang. dan malem emang laper dan tidur lebih nyenyak dengan perut kenyang dan hati senang. perut terisi sebelum tidur 8 jam. apakah menurunkan berat badan dengan cepat? enggak juga sih, tapi apa poinnya melakukan diet dengan tersiksa dan nggak bisa dipertahankan secara jangka panjang? diet ini nggak ada pantangan, makanan apa saja silakan asalkan porsi dan frekuensinya diatur. yang jelas dengan 'memangkas' jatah sarapan, total kalori yang dikonsumsi dalam satu hari jadi lebih rendah.

diet ini juga nggak membuat lambung kita mengkerut. yes, you read them right, lambung mengkerut. besar lambung itu menyesuaikan dengan makanan yang kita masukan ke dalamnya. dulu waktu heboh2 diet, gw makan sedikit banget dan lambung gw mengkerut, jadi ketika gw sedang pingin 'libur diet', itu makanan gak bisa masuk! porsinya stuck dengan jumlah porsi sekecil yang biasa gw makan. bete kan kalo lagi ada party, makanan enak, atau sedang pingin memanjakan diri dengan makanan.

well, sejak gw mulai diet ini (ditambah dengan olahraga yang lumayan intens sih) gw turun 3 kg dalam 3 bulan (yes, that is the healthy pace, people! you can't lose weight too fast), dan visibly kehilangan banyak body fat. tapi yang lebih penting lagi, gw gak keberatan kalo gw harus mengikuti pola makan ini selamanya. and i think that matters the most. dan kesimpulan akhirnya, lo pun gak perlu ngikutin diet ini kalau emang nggak cocok dengan perut lo, rutinitas lo, keinginan lo. if breakfast is your thing, then go ahead, carilah diet yang memungkinkan lo sarapan dengan puas. dalam kasus gw, metabolisme gw, rutinitas gw dan juga kebiasaan kultural di sekitar gw bisa dengan mudah mengikuti diet ini :)

Friday, February 8, 2013

cuci rambut dengan urutan terbalik

i love the internet! you can find weird tips that works ;)

tips aneh kali ini adalah keramas dengan urutan terbalik yaitu pake conditioner dulu baru pake shampoo. tips ini gw temukan di sini

seperti sudah pernah gw ceritakan di post sebelumnya, rambut gw di smoothing 2 bulan sekali sehingga cukup ringkih dan harus dirawat mati-matian. maka, setiap kali keramas - ya, SETIAP KALI - gw biasanya memakai hair mask selain conditioner, dan hair mask ini biasanya gw diamkan selama 20 menit. pe'er? banget! anyway, kemarin gw nyoba beli krimbat merk rudy hadisuwarno yang ginseng, karena mbak-mbak salon complain katanya rambut gw rusak banget. dia bilang harus sering-sering pake masker yang ginseng. ok, jadilah gw berganti merk dari l'oreal ke rudy yang ginseng itu. gw keramas dengan shampoo phytolactum, maskeran 20 menit pake krimbat ginseng, lalu pake conditioner sunslik yang kuning. setelah itu waktu nge-blow, keringnya susaaah banget, dan tak lama setelah di blow, rambut gw layu dan ya ampuuun kepala gw sakit karena berasa keberatan rambut! seriously! waktu gw iket itu rambut, sakit kepala langsung mereda. heboh kan?



nah langsung lah gw berniat untuk potong rambut lagi, dan mulai cari-cari model agar rambut gw yang super tebal ini bisa dikurangi agar nggak kelewat berat. nah anehnya, lagi asik-asik browsing model rambut kok malah nemunya si blog itu tadi. hmm.. menarik, jadi gw cobalah keramas terbalik kemarin. urutannya gw basahin rambut trus pake krimbat ginseng dulu, diemin 20 menit lalu bilas, pake conditioner sunslik kuning, lalu keramas pake shampoo phyto. hasilnya....: kusut xD. tapi tetap halus dan mudah disisir kok dan waktu di blow, dia agak lebih cepat kering daripada waktu itu. rasanya: bersih, ringan tapi halus! uenakeeeee! jadi, yaaay, mulai sekarang gw akan keramas seperti ini :)

Monday, February 4, 2013

my hair cost a damn lot

Hari ini, yang rencananya gw mau menghabiskan Rp. 220 ribu untuk shampoo, akhirnya end up menghabiskan Rp. 600 ribu. Shame! Shaaamee!! Begini nih yang katanya mau nabung. Bahkan semestinya gw udah cukup malu menghabiskan Rp. 220 ribu untuk sebotol shampoo.

Jadi gini ceritanya, my boss was gushing about this Phyto brand. Kata temannya, merk ini efektif sekali untuk menangani kerontokan rambut. Mbak Iis - my boss - memang memiliki masalah kerontokan rambut. Jadi, berhubung, ane orang Jakarte sedangkan die orang Bogor, beliau titip sama gw untuk beliin. Nah pergilah gw ke mall untuk beliin, tapi end up nggak berani membelikan dikarenakan beragamnya pilihan produk untuk rambut rontok/tipis/aging et cetera et cetera. Udah mana sebotolnya mahal beuuut, ntar salah beli bisa gawat.

Tapi lalu akhirnya Mbak Iis beli sendiri pas kebetulan ke Jakarta. Nah, tapi setelah beberapa lama memakai produk itu, dia complain, katanya jadi ketombean, nggak cocok. Lalu, sisa shampoo yang masih banyak itu dihibahkan ke gw. Waaawww senangnya dapet hibah sampo mahal setelah beberapa waktu lalu pernah kehibahan minyak pembersih wajah merk SK II. Hehehehehe. Sering-sering ya Mbaaak ^____^

Sebagai latar belakang, rambut gw super keriting dan super tebal helaiannya dan juga super banyak dan sekarang statusnya itu rambut di-smoothing tiap 2 bulan sekali biar tetap lurus. Sebetulnya banyak yang bilang bagusan kalau keriting, tapi masalahnya, kalau rambut keriting ditipisin, dia jatuhnya nggak bagus, sedangkan kalau nggak ditipisin, gw nggak kuat, soalnya berat dan gerah dan bikin gw sakit kepala (literally). Ditambah, rambut keriting membuat gw tampil kurang polished dan kurang profesional di dunia kerja.

Tebak gw yang mana! xD


Anyway, dengan jadwal smoothing rambut yang sangat sering dan ditambah nature dari rambut keriting yang memang kering dari sononya (most rambut keriting memiliki tekstur yang sangat kering dan harus rajin sekali dirawat), rambut gw cukup rusak, kering dan kaku. Gw pun mulai hati-hati memilih produk rambut. Pernah membaca tips bahwa shampoo yang merk 'normal' beli di supermarket itu terlalu keras untuk rambut. Disarankan membeli shampoo 'merk salon' yang memiliki formula lebih lembut. Sebelum ini gw makai Schwarzkopf yang belinya di Food Hall dan cukup ok sebetulnya. Tapi gw tergoda membeli Suave yang lebih murah dan ngakunya "salon quality" tapi ternyata ngehe. Jadi begitu dapet si lungsuran Phyto (Phytolalctum, varian yang untuk frequent use), langsung dengan hepi gw coba, dan OOOOHHH BETAPA RAMBUT GW JADI LEMAS DAN HALUUUUSS.

Rambut yang sudah dilurusin


So.. there you go.. Shit. Now, I have to buy a goddamn expensive shampoo. Sebotolnya Rp. 220 ribu. Well, if I am to buy a shampoo that expensive, it better be the correct one, jadilah gw riset dan pilihan jatuh pada Phytokeratine (varian untuk rambut rusak) karena sepertinya rambut yang dismoothing 2 bulan sekali membutuhkan perawatan untuk rambut rusak.

Nah hari ini gw ke toko untuk beli, karena botol hibahan sudah habis. Eh dasar ya salesnya jago, gw end up spending Rp. 600ribu. Ditawarin gratisan travel pack isi shampoo + conditioner seharga Rp. 200ribu kalau belanja Rp. 500ribu. Hm, beli shampoo 2 botol belum nyampe Rp. 500ribu... eh si masnya nawarin hair spray dan sialnya gw emang berniat beli hair spray (meskipun tadinya cuma niat beli Blue Minkle yang harganya kagak nyampe Rp 50ribu pun). Hair spray Phyto seharga Rp. 178 ribu....yang akhirnya gw rela beli hanya karena ada kata 'botanical' di depan kata 'hair spray'. 'Botanical hair spray". Take note advertising people, put the word 'botanical' in front and may be able to sell anything -____-'