Sunday, April 27, 2014

Seri Kawinan #7: Undangan

Sebetulnya undangan adalah departemennya (waktu itu) calon suami. Jadi saya tidak bertanggung jawab untuk undangan. Tapi saya akan ceritain prosesnya.

Lagi-lagi dengan semangat cut-the-crap, kami mengharapkan undangannya tidak berlebihan, orang tidak "merasa bersalah" membuangnya dan tentu saja buat kami juga murah. Tujuan utama undangan adalah memberi tahu kapan dan dimana pestanya, setelah itu mau buat apa kalau tidak dibuang? Kalau diserahkan sama saya, mungkin saya akan bikin kartu selembar saja dengan amplop. Tapi Tito membawanya to the next level: kertas hvs dan fotokopian. Tapi dia berencana untuk undangannya berupa komik. Komiknya bukan tentang kami sih, cuma komik aja. Sesuatu yang exciting buat orang lain baca. At least, we made something, a form of art, something to be left in the memory afterwards and all those money are all well spent.

Ini hasilnya: http://menjadi.tumblr.com/

Sempat menimbulkan drama di keluarga saya saat seorang Bude merasa eksplorasi kami berlebihan dan bertekad mencetakkan undangan buat saya, yang dia anggap lebih decent. Kami paham concern beliau dan sangat menghargai perhatian beliau dan ketakutan beliau akan anggapan orang terhadap kami dan kedua orang tua. Tapi setahu saya justru kebanyakan orang menghargai dan menikmati hasil karya ini dan membuat undangan, pesta dan juga pernikahan kami memorable buat mereka.

Dan lagi-lagi saya sangat bangga semua itu dilakukan dengan resource yang seperlunya, tidak berlebihan.

The London Hair Drama

Siapa yang sangka tinggal di salah satu kota yang menjadi "pusat dunia" adalah the ultimate test buat perawatan rambut saya. Ya rambut. Padahal, kalau kita beli merk-merk produk perawatan rambut atau kecantikan atau fashion apapun pasti abis Paris atau New York, nyebut LONDON.


To begin with, rambut saya emang rewel. Aslinya memang keriting banget dan kaku, dan banyak. And I prefer to wear  it straight. Okay. There i said it. It's just less....drama with it and life is just so much easier. I prefer it straighthened and also blow dried. Di Jakarta pun, untuk mencapai tampilan yang pantas, saya harus melalui serangkaian uji coba dan kegagalan. Mencari salon dan kapster yang oke dan paham ngurus rambut saya, mencari potongan rambut yang ok, latihan blow dry sendiri sampai mencari produk dan metode perawatan yang sesuai. Sampai akhirnya saya sudah mendapatkan rutinitas dan tampilan yang saya mau. Hair smoothing dengan L'Oreal extenso plus gunting dua bulan sekali di salon Trenz di Giant sama mbak Lika. Keramas dengan urutan terbalik: sesekali hair mask L'Oreal, conditioner Sunsilk lalu baru terakhir keramas pakai shampoo mahal Phytoprogenium. Lalu hair serum Makarizo yang heat protectant untuk kemudian di blow dan habis itu gulung poni.


Yup. Begitulah rezim perawatan rambut saya yang lebih autoritatif daripada Orba.


Tentunya itu semua harus berakhir saat saya pindah ke London, tapi siapa sangka tantangannya akan lebih berat daripada sekedar kehilangan mbak Lika atau hair serum Makarizo. Pertama, salon itu mahal dan mahasiswa jarang ada yang afford, paling-paling mereka volunteer sebagai hair model di sekolah-sekolah hair dressing untuk mendapatkan potong rambut gratis. Gunting rambut di salon "murah" seharga 6 pound, kalau di salon yang serius setidaknya 20 pound. Kalau potong rambut aja segitu mahalnya, jangankan hair smoothing yaaaa. Don't even think about it. Kedua, saya belum uji coba produk-produk shampoo, conditionoer dan hair mask serta hair serum yang dijual di sini. Tapi ada tantangan lain yang bikin semuanya jauh lebih berat.


Saudara-saudara, air London itu sangat keras dan membuat rambut saya kering dan kaku lebih dari apapun. Waktu di awal-awal saat saya masih pegang segala produk dari Indonesia, sudah terasa bahwasanya rambut saya terasa jauh lebih kering dan kesat, bener-bener kayak sapu.


Anyway, my hair is a disaster for the first 4 months and I couldn't do anything about it. Sumpah penampilan yang nggak ok bikin gw bener-bener nggak pede. Call me superficial tapi gw bener-bener merasa down. Trus, udah beli shampoo yang mahalan dikit, conditioner ini itu, spray ini itu, hair mask lah, ga ada yang ngefek. Bahkan sesudah hair mask yang amat intensif pun rambut saya masih kaku dan kasar. Dari awal sebetulnya tante saya udah ngasih tau bahwa pasti airnya yang masalah, tapi saya gak percaya. Masa sih air bisa bikin rambut jadi rusak.


Setelah frustrasi selama 4 bulan akhirnya saya google juga soal efek air London terhadap rambut, dan bener loh, ternyata masalah dengan air London dialami oleh blogger-blogger lain. Membaca saran mereka, saya membeli filter jug dari amazon dan mulai melakukan bilasan terakhir dengan air yang difilter. Waktu jug-nya belom nyampe saya sempat beli air mineral botol buat ngebilas! Saya juga membeli minyak kelapa dan mulai meminyaki rambut saya selalu sebelum keramas. Hasilnya: rambut saya pun melunak.


Tapi karena tidak di-smoothing tentunya dia tetap keriting dan banyak kan, dan saya udah lumayan frustrasi dengan keadaannya. Bayangin rambut lo setengah lurus di bagian bawah, terus atasnya keriting! Bukan cuma tampilan saja, tapi rasanya punya rambut keriting di kulit kepala itu buat saya amat nggak nyaman. Jadi saya mulai cari L'Oreal extenso di amazon. Tadinya tante saya udah nawarin jasa temennya yang katanya bisa guntingin rambut dan mungkin bisa juga nge smoothing rambut untuk dipanggil ke rumah. Tapi saya takut, soalnya kalau sampai salah pegang, rambut saya bisa rusak parah. Saya lebih percaya diri saya sendiri daripada orang baru, karena toh saya udah ngeliat cara mbak Lika kerja berkali-kali. So be it, saya pesan lah itu obat dari amazon yang dikirim dari THAILAND seharga 20 pound (bisa untuk 3 kali proses), dan saya menunggu 2 minggu barangnya nyampe. It is not bad at all. My hair is now straight(ish) and I am happy.


Now, the quest for the right hair product is another story. Akhirnya saya cari produk Phyto di sini. Itu kan produk dari Paris, masa bisa nyampe Jakarta tapi ga bisa nyampe London ya. Meski harus mesen untuk dapet varian yang saya mau, tapi produknya ada dan saya kembali memakai Phytoprogenium kesayangan. Harganya kalau di kurs sama sih dengan di Jakarta. Saya yang sempat menjadi korban iklan produk Aussie dan juga produk Lush yang menawarkan "bahan alami" tapi akhirnya berhenti memakai kedua produk mahal (sekitar 4-6 pound sebotol) itu dan mengganti dengan conditioner Alberto Balsam seharga 99p yang ironisnya adalah produk yang diperkenalkan tante saya pertama kali. Saya ingat rambut saya lebih baik waktu pertama make conditioner itu daripada produk-produk apapun yang saya coba setelahnya. Sementara untuk serum, setelah sedikit riset di internet, saya coba produk Organix Moroccon Oil seharga 6 pound untuk menggantikan produk-produk sampah yang saya coba sebelumnya. Dan....my hair is back. It's back. It. is. back. After 6 months of misery.


Mungkin sebagai blogger yang baik harusnya saya ngambil selfie ya?....

Saturday, January 25, 2014

"Lactose Intolerant" bukan penyakit ah! Justru yang bisa minum susu adalah yang mutan.

"Lactose intolerance" adalah kondisi yang mungkin familiar bagi sebagian orang, tapi di Indonesia nggak umum dibicarakan kayaknya (setidaknya di kalangan orang awam seperti saya). "Penderita" lactose intolerance nggak bisa mengkonsumsi susu cair karena perutnya tidak bisa memproduksi enzim laktase yang semestinya memecah kandungan lactose dalam susu.

Hm, topik ini sebetulnya bukan keahlian saya, tapi bahan bacaan untuk kuliah pendekatan antropologi terhadap pertanian, makanan dan nutrisi minggu ini bikin saya tergelitik. Huuh, mungkin daripada nulis ini mendingan saya baca bahan bacaan untuk kuliah lain yang sudah menggunung, tapi saya bener-bener tergelitik. Apalagi sehabis mencoba meng-google soal lactose intolerance di Indonesia, cukup prihatin membaca bahwa keadaan itu dianggap "penyakit" yang dengan segala cara berusaha disembuhkan. Padahal bahan bacaan yang baru saya baca mengatakan sebaliknya:

Bahwa kemampuan manusia untuk mampu mencerna lactose setelah disapih adalah hasil mutasi. Mamalia yang normal, setelah disapih akan berhenti memproduksi enzim laktase. Fungsi satu-satunya enzim laktase adalah untuk mencerna lactose dan setelah disapih, tentu enzim itu tidak ada gunanya lagi, jadi untuk terus memproduksi laktase dianggap buang-buang energi (Wiley 2011: 64).

Jadi: saya adalah seorang MUTAN! Huahahahahahaha!

Sebelum berbicara lebih jauh, mungkin perlu dijelaskan lagi soal mekanisme evolusi melalui mutasi dan seleksi alamiah. Kita pakai contoh yang ada di buku teks biologi sekolah menengah:
Alkisah, ada jerapah yang lehernya panjang dan lehernya pendek. Leher panjang dan leher pendek ini muncul karena adanya mutasi genetik: "kegagalan" gen untuk mengkopi secara sempurna gen dari orang tua. Kalau Anda tidak 100% mirip Bapak atau 100% mirip Ibu Anda, itu karena hasil dari mutasi ini (jadi mutasi itu maksudnya bukan jadi mahluk bersisik atau bersayap kayak di X-Men). Ini penjelasan yang amat sangat kelewat disederhanakan sih, untuk kebutuhan ilustrasi aja. Nah begitupun jerapah, makanya ada yang lehernya panjang, pendek dan sedang. Nah jerapah yang lehernya panjang, bisa makan daun dari pohon yang tinggi, sehingga di musim kering dia bisa mendapatkan lebih banyak makanan daripada temen-temennya yang lehernya pendek. Hasilnya, jerapah yang lehernya pendek lebih banyak yang mati duluan, dan jerapah yang lehernya panjang, hidup lebih lama, bisa kawin, punya anak dan seterusnya. Sehingga lama-lama, tersisalah cuma si jerapah yang lehernya panjang aja. Kira-kira gitu, semoga penjelasannya bener, buat yang ahli, tolong dikoreksi kalau salah,

Nah, begitupun dengan kemampuan untuk mencerna lactose. Pada masyarakat yang secara historis melakukan domestikasi hewan untuk diambil susunya (domestikasi hewan penghasil susu terjadi baru 8,000 tahun yang lalu, spesies manusia ada sekitar 200,000 tahun yang lalu), frekuensi mutasi untuk terus memproduksi laktase hingga sepanjang hidupnya lebih tinggi. Individual dengan mutasi tersebut, pada masyarakat yang seperti itu, akan lebih sehat (karena mampu beradaptasi dengan sumber nutrisi yang tersedia pada masyarakatnya), dan mampu menghasilkan keturunan yang juga memiliki mutasi tersebut (Wiley 2011: 66).

Lalu gimana dengan individu-individu yang tidak memiliki mutasi itu? Menurut Sahi (1994 dalam Wiley 2011: 66) meskipun dipaksakan minum susu terus, si enzim itu tidak akan serta-merta muncul. Logikanya sih iya ya, karena kan itu keadaan genetik.

Sekarang udah sedih belum dengan kenyataan bahwa alih-alih dianggap keadaan genetik yang normal, orang yang tidak bisa mencerna susu dianggap memiliki "penyakit" genetik yang harus "dirawat"?

Susu memang sumber gizi yang baik, tapi bukan sumber gizi satu-satunya. Di Amerika, anggapan bahwa susu adalah sumber gizi yang premium dianggap sebagai propaganda untuk mempromosikan industri susu dan hasil susu mereka (pernah lihat kampanye "got milk?" di majalah-majalah Amerika?). Bahwa semua orang dianggap harus minum susu adalah hasil dari sebuah bio-ethnocentrims yaitu kepercayaan terhadap superioritas dari sebuah keadaan biologis atau praktik kultural, dalam hal ini keadaan biologis dan superioritas dari orang-orang Eropa Utara (masyarakat dimana frekuensi mutasinya untuk mencerna susu tinggi).

Penulis buku yang saya baca menggunakan istilah lactase persistance/impersistance agar lebih netral secara nilai (tidak menganggap yang manapun sebagai abnormal) daripada lactose intolerant, lactase deficiency, atau lactose maldigestion/malabsorption yang menandakan inferioritas/keabnormalan dari orang-orang yang tidak bisa mencerna lactose.

Ia pun memberikan informasi tentang keberadaan kelompok-kelompok anti-susu: www.notmilk.com, www.milksucks.com. Bahkan sebuah tuntutan hukum dilayangkan pada mereka yang mempromosikan susu pada kelompok minoritas (African American, Asian, Latin American yang mayoritas adalah lactase impersistance).

Jadiiiiiiiii........ ga bisa minum susu ya gak apa-apa laaah. Sumber gizi yang lain masih banyak kok. Nggak perlu terpengaruh iklan, nggak minum susu pun bisa tetap sehat :)

Reference
Wiley, Andrea S. 2011. Chapter 2: "Population Variation in Milk Digestion and Dietary Policy" in Re-imagining Milk. New York: Routledge, 15-36.

Friday, December 20, 2013

Latihan keseimbangan tubuh

Keseimbangan tubuh, ternyata bukan soal ketepatan postur saja, tapi juga kekuatan otot. Wah ini baru saya sadari setelah beberapa bulan berlatih yoga (dan tango).

Berdasarkan tes yang dilakukan oleh kawan saya si dokter olahraga, keseimbangan tubuh saya sungguh-sungguh buruk. Cuma bisa tahan beberapa detik saja :'( Instruktur yoga saya juga bilang, kalau dibandingkan dengan teman-teman, saya memang yang paling payah kalau udah masang postur-postur keseimbangan (dan juga postur-postur lainnya sih).

Tapi setahun kemudian, si instruktur yoga saya terkagum-kagum dengan kemajuan yang saya capai. Hehehe. Lah, iya lah mas, kan rajin latihan...saya yoga 3x seminggu loh. Saat tango pun begitu, gerakan-gerakan terasa lebih mudah, ringan dan mengalir, jingjit selama menari pun tidak terasa masalah besar, ketika sebelumnya jingjit terus sepanjang tarian bener-bener bikin menderita. Itu karena otot tungkai saya memang sudah semakin kuat.

Gimana cara latihannya? Well, kalau mau berlatih ya jangan disasar untuk satu hal aja atau satu bagian tubuh aja sih, harus seimbang untuk semua otot tubuh. Banyak pose-pose yoga yang bukan untuk keseimbangan tapi memperkuat otot seperti warrior atau chair pose.

yogaheels.wordpress.com



Tapi menurut saya, pose di bawah inilah yang merupakan the ultimate test, dan saya sampai sekarang cuma bisa melakukannya dengan kaki bengkok

www.ihanayoga.com.au

Kaki lo musti kuat banget untuk nahan gaya dorong dari kaki satunya lagi untuk diangkat agar badan tetap tegak dan nggak jatuh. Ini adalah pose yang menurut saya bikin progress bagus dalam hal keseimbangan dan kekuatan otot tungkai. Eh, tapi sebelum nyoba, tolong konsultasi dulu sama dokter atau instrukturnya ya, dan silakan cek versi pemula di website atau cari video tutorialnya di youtube. Gambar di atas sih emang udah versi hebohnya kok, dan saya ampe sekarang belum bisa yang kayak gitu, kakinya masih bengkok. Moga-moga dengan sering latihan bisa makin bagus ya :)

Friday, December 6, 2013

Mencegah para profesional kita bermigrasi ke luar negeri: Apakah nasionalisme jawabannya?

Nasionalisme. Kata yang sungguh powerful. Apalagi bagi orang Indonesia (subjectively speaking). Ya tentu saja, dengan begitu beragamnya "isi" Indonesia, nasionalisme tentu harus dipupuk habis-habisan jika bangsa ini masih ingin mempertahankan legitimasinya. Dan memang, bagi orang Indonesia yang nasionalis, emosi kesetiaan terhadap bangsa ini memang sungguh powerful.

Tapi tidak sedikit juga orang Indonesia yang (mengaku) tidak nasionalis. Buat saya, ini adalah defence mechanism mereka dalam menghadapi situasi negara yang memang sulit dihadapi. Carut marut. Korup. Miskin. Bigot. Terjajah. atau sesederhana "Macet". Lebih mudah untuk tidak berusaha membela yang sulit untuk dibela. Maka beberapa dari mereka meninggalkan Indonesia. Tinggal di tempat yang "lebih baik". Dan para nasionalis pun memandang mereka dengan kebencian. Kok bisa-bisanya tidak punya rasa cinta pada tanah air sendiri.

Saya pergi untuk kuliah ke Inggris dengan beasiswa dari Pemerintah Indonesia (ya, uangnya dari Anda para pembayar pajak). Program beasiswa ini mati-matian berusaha agar rasa nasionalisme kami, para penerima beasiswa, tetap cukup dalam untuk kembali. Kami diminta berjanji untuk kembali. Kami diminta untuk berjanji tetap mencintai tanah air, dan kembali untuk membangunnya. Tidak seperti mereka yang pengkhianat, pergi sekolah ke luar negeri, tapi kemudian malah kabur untuk meninggalkan Indonesia.

Lucunya, perspektif yang lebih jelas mengenai isu ini ada dibahas dalam salah satu mata kuliah saya (Antropologi Pembangunan). Isu migrasi adalah isu yang terutama sangat nampak di negara ini. Berjalan-jalan di kota London, kita hanya akan menemui sedikit sekali orang Inggris bule totok dibandingkan para imigran yang sangat dominan. Kebanyakan adalah pendatang. Maka dari itu, kami membahas isu imigran di kelas. Saya merasa sulit sekali untuk relate dalam bahasan ini. Di Jakarta imigran sama sekali tidak mendominasi. Satu-satunya isu migrasi yang dominan bagi kita adalah TKI. Imigran Indonesia yang profesional dan terdidik seperti yang tersebut di atas memang ada, tapi tidak sesignifikan ahli-ahli IT dari India misalkan. Saya tidak punya angkanya, tapi dari permukaan, isu imigran kita tidak mencuat.

Tapi salah satu bahan bacaan saya memberikan pengetahuan yang menarik. Tulisan oleh Alejandro Portes (2009) berjudul Migration and Development: Reconciling Opposite Views. Dia bilang bahwa begitu banyak studi mengenai efek migrasi bagi negera penerima tapi sedikit mengenai negara yang ditinggalkan. Adanya fenomena migrasi tenaga kerja menunjukkan adanya inequality. Migration as a symptom (or even cause) of underdevelopment. Dan inilah yang begitu mengganggu saya dan selalu mengganggu saya ketika kami berdiskusi mengenai imigran, refugee dan sebagainya. Mengapa ada tempat-tempat di dunia ini yang layak ditinggali dan mengapa ada tempat-tempat yang tidak layak. Seharusnya kita ngomongin tentang bagaimana membuat semua tempat di bumi ini layak ditinggali. Seharusnya semua orang senang dilahirkan dimanapun, menjadi warga negara apapun. Jadi bukan kita ngomongin sebaiknya kebijakan Inggris, Jerman, Amerika dan Belanda tentang imigran itu bagaimana dan apa dampaknya bagi mereka (tentu saja dalam jangka pendek, ini tidak terelakan, tapi ini adalah pikiran sederhana saya yang utopis berbicara).

Dan itulah persis yang dibicarakan oleh Portes. Ia berbicara tentang negara-negara yang ditinggalkan. Apa yang terjadi ketika semua (atau banyak dari) able bodied citizen sebuah negara pergi untuk mencari peruntungan di negara lain dan suka atau tidak turut "membangun" negara tersebut. Tidakkah inequality semakin membesar?

Solusi yang diajukan Portes tidaklah besar-besar amat sih. Intinya, si negara yang ditinggalkan harus pinter-pinter membuat insentif bagi para pekerja migran itu untuk kembali. Ada dua hal yang bisa saya refleksikan tentang hal ini:

1. Sepupu saya yang selama ini tinggal di luar negeri, simply karena di Indonesia tidak ada lapangan pekerjaan untuk bidangnya. Institusi yang ada sudah "penuh" dan sulit beregenerasi (birokrasi dan status quo, pffh). Intinya, ia sulit mengembangkan kepintarannya dan infrastruktur di sini tidak bisa mengakomodir apa yang bisa ia tawarkan. Untungnya ia sekarang sudah bisa kembali karena adanya institusi-institusi (swasta) baru yang bisa mengakomodasi dia.

2. Seorang teman yang baru saja kembali dari seminar yang khusus membahas masalah ini. Ketika dia mengajukan isu yang kurang lebih seperti yang saya sebutkan di nomor satu, dia di-bully dengan mengatakan bahwa itu adalah karena "malas mencari kerja" dan memberikan solusi "enterpreneurship" yang buat saya itu hanya menunjukan bahwa pemerintah malas memerintah dan menyerahkan masalah kembali kepada rakyat yang harusnya diurusinya.  Enterpreneurship kan tidak bisa berkembang kalau iklim kebijakan yang ada tidak mendukung (anjrit, belajar bahasa birokrat darimana gue??). Dan dalam kasus sepupu saya yang doktor di bidang fisika NUKLIR, dia mau enterpreneurship APA?......

My point is, saya setuju dengan Portes. Daripada sibuk memupuk nasionalisme, lebih baik memikirkan insentif apa yang bisa diberikan agar para imigran itu kembali untuk membangun Indonesia. Jalur-jalur apa yang bisa dipupuk agar mereka bisa berkarya di dalam negeri. Dan seperti Jokowi, seriuslah menata negara agar nyaman ditinggali. Deep down inside, saya yakin mereka pun lebih senang pulang kalau memang ada pilihan itu. Dengan resiko menjadi klise, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan kata-kata: There's no place like home.


Sunday, November 3, 2013

Seri Kawinan #6: Suvenir

Akhirnya keinget dan ada niatan juga untuk ngelanjutin si kawinan series ini. Biar nggak jadi males, saya mau mengulas yang mudah aja dulu deh, yaitu bab suvenir.

Suvenir, yang kata temen gw Indon hanyalah sebuah pelengkap penderita, pada awal mulai memikirkannya bener-bener emang pelengkap penderita doang. Udah nggak penting, tapi kalau nggak diurusin juga bisa menyebabkan kita jadi omongan orang dan orang tua jadi malu (kalo kita mah bodo amat). Juga, kalau buatnya asal, selain orang yang nerima males, gw yang ngasih juga males dan bisa bete.

Tadinya departemen suvenir juga saya serahkan pada calon suami, dan karena sangking cuma pelengkap penderita, dia nggak mulai mikirin sama sekali. Akhirnya, gue juga deh yang mikirin.

Ide dari calon suami: sisir (duh, nggak personal ah). Semetara ide dari saya pun ditolak mentah-mentah: CD (nggak ada yang mau dengerin lagu kita, tauk. Lagian itu melanggar hak cipta), tas, cermin saku, hanya salah dua-nya benda suvenir kawinan yang pernah saya benar-benar gunakan... (duuh..errghh, ya udah terserah).  Sampai akhirnya: ya udah terserah. Saya pun mulai melihat-lihat suvenir murah-murah di toko online. Banyak ketemu yang murah-murah tapi jelek minta ampun dan nggak ada gunanya. Yang agak mahal, lucu tapi ga ada gunanya juga. Di rumah saya udah berserakan segala macam benda suvenir. Tas dan cermin saku meskipun saya akui terpakai, tapi dua benda tersebut tidaklah "personal", dan karena kita belinya kodian ya jelas tampilannya akan...kodian.

Di sebuah website bule yang pernah saya baca, ada ide dimana suvenir pesta diganti dengan charity. Jadi budget untuk suvenir disumbangkan ke sebuah yayasan dan ini diumumkan ke tamu-tamu atau tiap tamu diberi secarik kertas yang mengumumkan hal itu. Tapi ya sebetulnya budget suvenir yang saya miliki kan tidak begitu besar (1-3 juta rupiah saja), ditambah saya agak malas due diligence memilih yayasan yang ok, dan lagi-lagi cukup personal buat kami. Lalu, ibu-ibu adalah spesies lain yang harus dipikirikan. Tidak seperti para Homo sapiens sapiens lain yang bodo amat, ibu-ibu maunya nerima "benda" yang bisa dipegang-pegang, dilihat-lihat dan dibilang lucu, lalu dipajang atau masuk tas. Teman saya Indon, yang menyiapkan photo booth sebagai suvenir kawinannya, akhirnya ibunya dia menambah kipas dan entah apa lagi suvenir yang bisa dipegang-pegang demi memuaskan spesies yang satu ini. Dia berakhir dengan 3 jenis suvenir yang berbeda di pestanya.

Akhirnya saya browsing lagi ke website bule, dimana biasanya ketemu tuh ide aneh-aneh. Naaah, di sebuah website ada suvenir kawinan teh celup dengan bungkusan yang customized. Contohnya begini:


BINGO! Teh!

Beberapa alasan bagus:


  • Calon suami memang HOBI BANGET bawa suvenir teh kalau habis dari Jogja. Teh tubruk kampung dengan berbagai merk dan aroma. Kawan-kawan geng puspa sudah hafal dan merasakan nikmatnya nge-teh bareng.
  • Orang Indonesia dimana-mana hobi minum teh.
  • Teh tubruk harganya murah
  • Seperti iklan Sariwangi, teh memang membawa kehangatan dan kekeluargaan. Cocok sebagai suvenir pesta orang yang mau membangun keluarga.
  • Teh habis diminum dan tidak akan tergeletak nyampah-nyampahin rumah aja.


Yup, maka suami yang kebetulan ada rencana ke Muntilan akhirnya membeli 5 bal (500 bungkus) teh tubruk merk Kepala Djenggot. Habis Rp. 700 ribu saja. Sampai Jakarta, teh itu kami bungkus dengan kertas sampul buku coklat, lalu ditempel ucapan terima kasih yang diprint di hvs dan difotokopi. Hasilnya begini:


Bahkan kemasannya pun ekonomis dan minim sampah. Nyokap sempat ingin agar dikemas dalam plastik mika, yang langsung saya veto karena itu bikin sampah dan plastik mika jelas tidak gampang terurai. Kantong dengan bahan tulle pun lumayan sampah dan buat saya kurang cantik dan juga kelewat mainstream, hehe. Tadinya pun hampir membuat paper bag khusus karena malas membungkusi satu-satu yang untung saja calon suami mem-vetonya dengan mengingatkan bahwa paper bag itu cukup nyampah dan juga mahal dengan manfaat yang tidak signifikan. Akhirnya dengan mengerahkan para tante, terbungkus lah 500 teh Kepala Djenggot dalam kemasan cantik dan ramah lingkungan seperti di atas.

Untuk desain gambarnya, itu ada kaitannya dengan kisah undangan yang akan saya ceritakan (moga-moga) tak lama lagi ya. Nantikan.

Saturday, November 2, 2013

Tablet atau E-Reader?

Beli tablet atau E-Reader yaaa? Emang apa sih perbedaan keduanya? Tanpa sok menjadi ahli gadget, saya akan mencoba mengulas tentang hal ini. Ini adalah ulasan pengguna, bukan ahli yaa.


Saya sendiri akhirnya membeli sebuah e-reader dengan fungsi tablet. Nah loh, apaan lagi tuh. Ya jadi, saya membeli tablet Nook HD. Nook adalah sebuah merk e-reader keluaran Barnes & Noble (toko buku asal Amrik). Nah seperti Kindle keluaran Amazon yang sekarang mengeluarkan tablet Kindle Fire, Nook juga punya versi tablet. Jadi sebetulnya sih dia adalah sebuah tablet, tapi dikembangkan oleh produsen e-reader. Something like that lah. Nook HD yang saya beli memiliki fungsi seadanya, tak ada kamera, tak ada slot untuk SIM card (ada wifi tapi), makanya juga bisa murah. Harganya GBP 79, untuk saya yang saat ini sedang tinggal di London, cukup ekonomis (jangan dibandingin ama Jakarta yaaa). Ringan dan enak digenggam untuk fungsi membaca buku elektronik (ada bingkainya dengan bahan agak kayak karet, jadi enak megangnya), tapi masih bisa dipakai browsing, nonton video, ngetik dan menjalankan fungsi berbagai aplikasi android meskipun nggak semuanya.

Nook HD


Balik ke pertanyaan awal, apa sih bedanya E-Reader dengan Tablet, dan mana yang harus dibeli? Seperti biasa, sebelum membeli sesuatu, saya riset gila-gilaan dulu melalui google, makanya jadi tau gini-ginian. Padahal suami udah nawarin i-Pad lamanya, dan dia beli yang lebih baru dan mahal. Tapi karena bahan bacaan kuliah udah membayangi saya, saya memutuskan mau beli sendiri aja biar cepat punya sendiri (meskipun akhirnya dibeliin hehe). Ya saya beli karena emang sangat-sangat butuh untuk baca bahan kuliah. Dari dulu saya merasa cukup aja dengan netbook dan smartphone. Tapi untuk membaca, kedua gadget ini tentu tidak memadai.


Well, yang jelas e-reader diperuntukan untuk fungsi membaca. Tampilan layarnya enak untuk membaca dengan teknologi macam-macam seperti tampilan yang hampir menyerupai kertas, biasanya ringan dan compact, dengan baterai yang tahan lama (bisa sampai 2 bulan!), juga harganya lebih murah! Iya lah fungsinya kan terbatas.


Sedangkan tablet, jelas fungsinya lebih banyak, kayak komputer atau smartphone lah, bisa browsing, potret-potret (kalau ada kameranya), main game, dan bisa baca buku juga. Fungsi e-reader sudah tercakup dalam tablet, tapi fungsi tablet tidak tercakup dalam e-reader. Cuma e-reader kelebihannya ada pada tampilan layar yang lebih enak untuk mbaca, ketahanan batere dan harga. Juga dengan terbatasnya fungsi, e-reader menghilangkan banyak distraction dari internet, games, social media, dll sehingga kita bisa fokus membaca.


Jadi kenapa akhirnya saya pilih tablet? Hehe, karena saya udah capek bawa si netbook yang berat kemana-mana. Tapi kalau cuma punya e-reader jadinya tidak bisa mengetik, padahal fungsi ngetik juga penting buat taking notes atau ngerjain tugas essay kalau-kalau kepepet. Wekekekek :p


Nah untungnya Kindle, Nook dan Kobo (merk-merk e-reader yang ada di UK) punya versi tablet. Saat saya beli, best deal ditawarkan oleh Nook, jadilah saya membeli Nook HD dengan harga GBP 79. Saya sangat hepi dengan gadget baru ini. Saya nggak pasangin aplikasi chatting kecuali google hangout yang otomatis terpasang karena OS-nya android (dengan aplikasi standar lain seperti gmail, google maps dan google+). Saya nggak pasangin social media tentu saja. Aplikasi yang saya pasang cuma notes, semacam aplikasi untuk MS word, duolingo buat belajar bahasa, flipboard dan current, sama 9gag buat bahan bacaan, sama peta tube London deh.


Fungsi yang saya nggak expect, tapi membuat saya sangat girang adalah fungsi highlight dan notes. Jadi di bacaan kita, kita bisa highlight atau nambah notes. Nanti highlight dan notes kita itu akan terkumpul rapi dalam aplikasi bawaannya si Nook ini. Praktis deeeh, nggak usah nyalin quote atau bingung mau ngasih catatan dimana.


Si Nook ini juga ada shopnya dimana kita bisa beli buku-buku dan majalah (dari Barnes & Noble tentunya). Lumayan lengkap sih, so far ada beberapa buku yang Amazon pun belum ada versi Kindle-nya tapi di Nook shop udah ada. Format reader yang dipakai memang katanya sih "umum" yaitu EPUB. Bahan-bahan kuliah saya dalam bentuk PDF bisa dibuka, dihighlight dan di note di gadget ini.


Siang ini saya mencoba membuat catatan kuliah menggunakan si tablet ini dan ternyata saya bisa mengetik cukup cepat di layar 7 inchinya. Berarti saya nggak perlu bawa buku notes lagi, yang mana mengurangi beban tas saya yang udah rempong isinya dengan benda-benda khas ibu-ibu. Fungsi browsing juga berguna untuk mencari kata-kata sulit yang ditemukan saat membaca, atau mencari keterangan latar belakang yang diperlukan.


So? Sejauh ini saya sangat hepi tapi itu karena si gadget sangat sesuai dengan kebutuhan saya, dan saya yang namanya megang tablet ya emang baru sekarang ini jadi mungkin nggak rewel ya. Tentunya membeli gadget ya harus sesuai kebutuhan dan juga budget masing-masing.


Happy reading everyone!


Referensi:


http://electronics.howstuffworks.com/gadgets/high-tech-gadgets/tablet-or-e-reader.htm


http://www.which.co.uk/technology/computing/guides/how-to-buy-the-best-ebook-reader/ebook-reader-or-tablet/