Sunday, March 4, 2018

Black Panther (2018): Wakanda-Aid Forever

Menulis postingan blog sepanjang 4.000 kata adalah mungkin bukan reaksi yang normal terhadap pengalaman habis menonton Black Panther. Kecuali kalau kerjaan sehari-hari lo emang kaitannya dengan menulis, baik sebagai jurnalis atau blogger atau pemerhati perfilman. Dulu gw lumayan rajin sih nulis blog, sampai kemudian akhirnya gw merasa terlalu sadar diri, sehingga sekitar 5 tahun yang lalu gw berhenti menulis blog sama sekali. Akan tetapi sehabis menonton film ini, rasanya tergoda banget untuk menulis lagi. Bagaimana tidak, film ini ngomongin tentang hal-hal yang menjadi topik perhatian gw selama ini; poskolonialisme dan pembangunan. Dan keduanya dibalut dalam sebuah film superhero Marvel.

Jadi begitulah tulisan ini ada.


Black Panther dan Plot Subversif terhadap Poskolonialisme dan Development


Sejak berkenalan dengan poskolonialis-poskolonialisan di sebuah mata kuliah dulu, gw merasa sulit untuk berpaling dari studi yang mempelajari bagaimana kolonialisme sangat berperan dalam membentuk pengalaman hidup manusia di saat ini. Ya, sebagai subyek poskolonial, salahkah kalo gw seringkali baper dengan hubungan antara negara-negara "maju" dengan negara "berkembang". Dan lihatlah film Black Panther dengan premis subversifnya. Wakanda, sebuah negara di benua Afrika yang semua orang kira adalah negara berkembang, ternyata diam-diam lebih kuat dan lebih kaya dari negara-negara para kulit putih penjajah.


Lebih jauh lagi, melalui plotnya, Black Panther juga punya cerita subversif soal development. Di akhir cerita, Wakanda akan melakukan development project di sebuah negara maju adidaya Amerika Serikat. Ha ha ha ha! Sungguh kampret sekali.

Lalu kemanakah plot subversif ini akan membawa kita? Jujur gw tidak tahu sejauh mana maksud satire si pembuat film, terutama dengan plot development project outreach centre untuk African American di Oakland, California tersebut. Akan tetapi gw tidak bisa tidak kecewa bahwa sebuah agenda politik penting yang dibawa oleh sang villain Erik Killmonger, harus dibungkam dengan pendekatan apolitis Wakanda-Aid. Lebih jauh lagi, untuk memajukan agenda "development" ini, mereka harus melakukannya dengan membantai story arc Erik, membuatnya menjadi karakter yang mletot-mletot (kagak bulet gitu maksud gw).


The Anti-Politics Machine



"The Anti-Politics Machine", James Ferguson menyebutnya. Development, maksudnya. Sebuah mesin yang bisa mentransformasi masalah-masalah politis menjadi tidak politis. Saat persoalan-persoalan kekurangan bisa diubah menjadi persoalan teknik pertanian, soal "kapasitas", soal kredit permodalan, soal pasar. Semua ini adalah persoalan-persoalan teknis, sehingga kita tidak harus menghadapi kenyataan bahwa dunia ini penuh akan ketimpangan ekonomi politik yang secara struktural menciptakan kekurangan-kekurangan tersebut. Maka ketika Erik ingin ada perubahan untuk kehidupan kaum kulit hitam yang teropresi secara politis, apakah Wakanda-Aid bisa mencapainya dengan education dan technology sharing? Sementara film ini jelas-jelas menempatkan "aid" sebagai solusi dari permasalahan yang diajukan Erik.

The Ever-So-Suave Villain



Konon Marvel dianggap payah kalo bikin villain, kritik demi kritik dilayangkan untuk villain-villain Marvel yang katanya kurang menarik. Bahwa dari setadi satu-satunya karakter yang udah gw sebut adalah si Erik, apakah ini berarti doi adalah villain yang sukses? Sepertinya sih pada dasarnya iya. Banyak yang mencintai Erik. Coba aja scrolling sebentar di tag #Black Panther di Tumblr, kita bisa liat banyak cinta untuknya. Atau lihat artikel ini yang membandingkan dia dengan Magneto. Ya, gw setuju dia villain yang sukses, akan tetapi gw juga akan bilang bahwa arc karakter dia di film ini kacau.

Sekarang mari kita bahas kenapa dia sukses. Ngganteng? Pasti. Backstory? Cukup untuk membuat penonton bisa berempati padanya, dan memahami kemarahannya. Ia harus menyaksikan dan mengalami kehidupan keras orang-orang kulit hitam di AS, sementara T'Chaka, sang raja superpowerful dari Wakanda malah membunuh ayahnya dan meninggalkannya di sana. Padahal ayahnya hanya ingin menolong nasib sesamanya. Dan ya, ia mewarisi motivasi tujuan besar ayahnya untuk menolong sesama kaum kulit hitam. Ditambah dengan dialog-dialog suave “hey auntie” nya, tak heran dia panen cinta penonton. Singkat kata, dia punya semua latar belakang dan sifat yang diperlukan untuk menjadi seorang Byronic hero, salah satu archetype karakter dalam cerita yang hampir dijamin membuat semua cewek klepek-klepek.

Apakah Erik Seorang Pejuang Radikal atau Hanya Preman



Lalu apanya yang kacau? Gw akan mengutip beberapa artikel lain, karena gw payah dalam menjelaskan hal ini. Ini kata Lebron di Boston Review yang gw kutip sebagian sebagai berikut:

“In the course of Killmonger’s swift rise to power, however, Coogler muddies his motivation. Killmonger is the revolutionary willing to take what he wants by any means necessary, but he lacks any coherent political philosophy. Rather than the enlightened radical, he comes across as the black thug from Oakland hell bent on killing for killing’s sake—indeed, his body is marked with a scar for every kill he has made. The abundant evidence of his efficacy does not establish Killmonger as a hero or villain so much as a receptacle for tropes of inner-city gangsterism.”


Gw terjemahkan sebagai berikut: [Dalam kenaikan Killmonger menjadi penguasa, sayangnya, Coogler (Ryan Coogler - penulis dan sutradara film) mengotori motivasinya. Killmonger adalah sang revolusioner yang mau mengambil apa yang dia mau dengan cara apapun yang diperlukan, namun ia kurang filosofi politis yang koheren. Daripada seorang radikal yang tercerahkan, dia sampai ke penonton sebagai preman kulit hitam dari Oakland yang bersikeras untuk membunuh demi pembunuhan itu sendiri--sehingga, tubuhnya ditandai dengan luka untuk setiap pembunuhan yang dilakukannya. Banyaknya bukti terhadap kemampuannya tidak menetapkan Killmonger sebagai pahlawan maupun penjahat sebanyak pengejawantahannya sebagai preman kota"]


Yap setuju banget, tidak ada koherensi antara tindakannya dengan filosofi politis yang dianutnya. Semua hal yang Erik lakukan, tidak ada yang bisa dijustifikasi untuk mendukung tujuan politiknya. Yang paling membingungkan gw adalah, kenapa dia dibikin jadi agen black ops CIA?? Apalagi tugasnya menggulingkan pemerintahan negara-negara dunia ketiga. Padahal bukankah filosofi politis dia adalah menolong mereka yang teropresi?

Dan semakin plot film maju, semakin jelas bahwa Erik memang mau dilukiskan sebagai penjahat sosiopat dan dibawa ke sebuah irredeemable path. Mungkin dia tumbuh dengan masa lalu pahit yang membuat dia memiliki kemarahan besar dan hasrat untuk balas dendam, tapi kemarahan dan balas dendam tidak serta merta membuat orang kehilangan empati dan dan belas kasihan dan tentunya tidak kehilangan arah. Karena arah adalah sesuatu yang harusnya Erik punya, karena Erik sudah mewarisi arah tersebut dari bapaknya. And remember that it is a very empathic cause. Keinginan N'Jobu untuk membantu pembebasan kaum kulit hitam datang dari rasa empati yang sangat besar. Anaknya sang N'Jadaka semestinya mewarisi tujuan besar itu dan rasa empati besar itu.

Namun di film kita melihat Erik memperoleh panggilan "Killmonger" karena efisiensinya dalam membunuh. Ia lalu tampak seperti membunuh sana sini tanpa arah yang jelas, tanpa berhenti untuk belas kasihan dan ia membunuh karakter-karakter yang disayangi penonton. Dia membunuh pacarnya sendiri tanpa berpikir panjang, saat sang pacar dijadikan tameng oleh Ulysses Klaue, lalu dia juga membunuh Klaue dan antek-anteknya, dia membunuh sang shaman Zuri yang dipanggilnya dengan "Uncle James", sebuah panggilan yang menunjukkan bahwa mereka pernah punya hubungan dekat, dia membakar semua herba bentuk hati (yang sampai sekarang gw ga jelas KENAPA), sambil mengancam hidup seorang ibu-ibu penjaga herba itu, dia hampir membunuh Shuri kalau saja T'Challa tidak datang menyelamatkan, dan... dan dia punya tanda torehan di badannya yang membuatnya sangat sangar dan menunjukkan betapa banyaknya orang yang dia bunuh. Dan sekarang mari kita bicarakan soal tanda-tanda torehan tersebut.

The Scars of a Criminal or a Thug



Soal scarification di badannya itu adalah hal yang menjadi perhatian gw. Gara-garanya belum lama gw nonton satu episode Elementary, serial Sherlock Holmes yang Watsonnya Lucy Liu. Di episode ini Holmes berhasil mengidentifikasi masa lalu seorang tersangka sebagai child soldier di Uganda saat melihat si tersangka tanpa baju. Holmes melihat ritual scarification di torsonya, dan mengidentifikasi si tersangka sebagai bagian dari suku tertentu di Uganda. Kemudian si tersangka diidentifikasi oleh Holmes sebagai mantan child soldier yang banyak melakukan pembunuhan, dari luka-luka senjata di tubuhnya dan iklan pencarian war criminal di Uganda yang ditemukannya.

Lumayan mirip kan. Akan tetapi di film ini Erik membuat satu torehan di badannya untuk setiap nyawa yang dia bunuh, ala penjahat DC Victor Zsaz, dan seluruh torso serta lengannya sudah penuh dengan tanda torehan. Jadi bukan saja dia mampu membunuh, namun dia juga mengumpulkan trophy dari setiap pembunuhan yang dilakukannya. Victor Zsaz, sudah jelas adalah seorang psikopat sadis. Nah yang menarik, ritual scarification adalah praktik yang umum bagi suku-suku Afrika, hanya saja hasil googling gw menunjukkan bahwa torehan ini menandai status sosial, etnisitas atau tingkat kedewasaan. Tidak ada yang berhubungan dengan penandaan yang berhubungan dengan perang atau pembunuhan.

Jadi serial Elementary dengan benar mengasosiasikan ritual scarification dengan identitas kesukuan, meskipun akhirnya ada asosiasi tidak langsung dengan identitas seorang war criminal kejam. Tapi film Black Panther kemudian secara langsung mengasosiasikan ritual scarification dengan sifat sosiopati. Kenapa sebuah film yang semestinya mengangkat budaya dan identitas keAfrikaan malah menciptakan stereotipe negatif adalah sesuatu yang tidak gw pahami.


Sebuah Invalidasi akan Sebuah Tujuan Politis



Jadi begitulah, bagaimana beberapa bagian plot Erik tidak masuk dengan filosofi politisnya, dan bagaimana plot-plot tersebut merampok dia bersama tujuan politisnya dari simpati penonton. Keluhan keras akan hal ini sudah datang dari tulisan Lebron, yang kemudian menyatakan bagaimana plot Erik yang membawanya ke irredeemable path justru semakin menjatuhkan orang kulit hitam Amerika. Lagi-lagi gw akan mengutip beliau di sini

“Black Panther presents itself as the most radical black experience of the year. We are meant to feel emboldened by the images of T’Challa, a black man clad in a powerful combat suit tearing up the bad guys that threaten good people. But the lessons I learned were these: the bad guy is the black American who has rightly identified white supremacy as the reigning threat to black well-being; the bad guy is the one who thinks Wakanda is being selfish in its secret liberation; the bad guy is the one who will no longer stand for patience and moderation—he thinks liberation is many, many decades overdue. And the black hero snuffs him out.”

Gw terjemahkan sebagai berikut: [Black Panther menampilkan dirinya sebagai pengalaman radikal untuk kulit hitam di tahun ini. Kita dimaksudkan untuk merasa disemangati dengan citra T'Chall, seorang laki-laki kulit hitam yang memakai pakaian pertempuran yang sangat kuat melawan orang jahat yang mengancam orang-orang baik. Namun pelajaran yang saya ambil adalah ini: orang jahatnya adalah orang kulit hitam Amerika yang sudah benar mengidentifikasi supremasi kulit putih sebagai ancaman terhadap kelangsungan hidup orang kulit hitam; orang jahatnya adalah ia yang berpikir Wakanda bersikap egois dalam pembebasan rahasianya; orang jahatnya adalah dia yang tidak lagi mau berdiri dengan sabar dan rendah hati--ia berpikir pembebasan sudah terlambat selama berdekade-dekade. Dan si pahlawan kulit hitam menyingkirkannya."]
Keluhan Lebron mewakili sisi kekecewaan Black Americans, yang semestinya identify dengan tokoh Erik dan juga tujuan besarnya. I'm not a Black American, but I am disappointed all the same. Karena gw membaca karakter Erik sebagai perwakilan dari keberanian yang mengakui sebuah masalah politik sebagai apa adanya dan lebih penting lagi sebagai juxtaposisi dari pilihan lain yang diajukan di film ini yaitu development.



Nakia dan Pilihan Non-Politis yang Aman


Ketika Erik dan agenda liberation-nya sudah dikalahkan, agenda development aid dimajukan sebagai solusi. Kita sudah diumpankan dengan ide ini dari awal oleh karakter Nakia. Karakter Nakia sendiri dari awal sudah dimantapkan sebagai seorang pahlawan yang harus 100% mendapatkan simpati penonton. Ia jagoan, baik hati, penolong (dengan sedikit atau banyak bumbu white saviour complex) dan cantik, T'Challa saja selalu terpaku setiap kali melihat Nakia. Maka kita penonton pun juga harus mencintainya. Ia tidak sekalipun melakukan perbuatan dengan moral yang meragukan dan selalu mendukung T'Challa 100%. Bandingkan dengan tokoh Okoye, yang pada satu titik harus memilih loyalitasnya. Ia adalah prajurit tersumpah pada tahta kerajaan, maka saat Erik dengan sah memperoleh tahta, Okoye tak punya pilihan selain "mengkhianati" T'Challa. Tidak dengan Nakia.

Kalau tidak percaya, lihat di bawah ini. Gw punya kutipan reaksi penonton yang mendiskreditkan Erik dan berpaling pada Nakia sebagai solusi. Dari mana? Dari Tumblr tentu saja, sumber paling valid untuk segala hal terkait fandom, hehehe. Berikut adalah kutipan dari user bernama twentythreeyearoldelusivemimi:


"what really bothers me about Black Panther discourse is how willingly people attribute the change in T’challas mentality to Killmonger and how easily they excuse Killmongers actions because he said a few things they agreed with. Killmonger is not an antihero and guaranteed he doesn’t care about Black liberation half as much as he claims. you know who does? Nakia! the woman who was actively liberating Black people, the one who first brought up the idea of providing aid to T’challa, the one who was so dedicated to her mission of liberation that she left the man she loved. Nakia saw a need unfilled and she filled it. literally by herself. Meanwhile Eric spent his time murdering people of color and destabilizing their countries in the name of an imperialistic government. What did Eric actually ever do to back up all his talk? All we know he did is murder people, including his girlfriend. Eric talks about the way Wakandans never used their resources to help other black people, but what did he, the brilliant MIT grad, do to further the cause? The truth is that Eric was never about that life. Eric cared about Eric and used talk of Black liberation to mask his selfish desire for revenge. the fact that no one sees him for the fraud and hypocrite that he is annoys me almost as much as the way that everyone ignores Nakias unwavering dedication to her beliefs. Nakia didn’t just talk the talk, she walked the walk."
Gw terjemahkan sebagai berikut: [yang paling mengganggu saya tentang wacana Black Panther adalah bagaimana orang mau saja mengaitkan perubahan mentalitas T'Challa kepada Killmonger dan bagaimana dengan mudahnya mereka membenarkan tindakan Killmonger hanya karena ia mengatakan beberapa hal yang mereka setujui. Killmonger bukanlah seorang antihero dan dijamin dia tidak peduli tentang pembebasan kaum kulit hitam sebanyak yang dia katakan. kau tau siapa peduli? Nakia! Perempuan yang secara aktif membebaskan kaum kulit hitam, yang pertama kali memberikan ide pemberian bantuan kepada T'Challa, yang sangat berdedikasi pada misinya untuk pembebasan sampai ia meninggalkan laki-laki yang dicintainya. Nakia melihat adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi dan dia mengisinya. Sendirian. Sementara Eric menghabiskan waktunya membunuh orang-orang dengan kulit berwarna, dan mengacaukan negara mereka atas nama sebuah pemerintahan imperialis. Apa yang pernah Eric lakukan untuk mendukung omongannya? Kita hanya tau bahwa ia membunuh orang, termasuk pacarnya sendiri. Eric berbicara tentang cara orang Wakanda tidak pernah menggunakan sumber dayanya unntuk membantu orang kulit hitam lain, namun apa yang ia lakukan, ia yang seorang lulusan MIT yang pintar lakukan untuk memajukan tujuannya? Kenyataannya adalah Eric tidak pernah peduli akan kehidupan itu. Eric hanya peduli pada Eric dan menggunakan pembicaraan tentang pembebasan kaum kulit hitam untuk menutupi hasrat egoisnya untuk balas dendam. Fakta bahwa tidak ada yang melihat dia sebagai penipu dan munafik mengganggu saya hampir seperti bagaimana semua orang mengabaikan dedikasi utuh Nakia terhadap kepercayaannya. Nakia tidak hanya ngomong, namun ia juga berbuat] 

Dan begitulah, pembuat film mencapai tujuannya, untuk memajukan solusi Nakia dan menginvalidasi Erik. Kedua karakter tersebut dimaksudkan sebagai juxtaposisi dan dari karakterisasi dan plot keduanya, jelas agenda mana yang didukung oleh film ini. Sebagai seseorang yang merasa bahwa hegemoni development harus ditantang, tentu ini adalah sebuah kekecewaan. Karakter Nakia adalah ekstensi lebih jauh dari hegemoni tersebut dengan memanjangkan wacana development kepada subyek-subyek kulit hitam. Tidak sedikit anggota fandom yang merupakan perempuan kulit hitam pada akhirnya mengidolakan Nakia karena mereka identify dengan Nakia sebagai sesama perempuan kulit hitam, saat Nakia mewakili stereotype tokoh yang *tahan napas* *berbisik* amat sangat kulit putih.

I mean come on, tidakkah?...

Lihatlah adegan kehebatan dia saat membebaskan tawanan penjahat itu dan besarnya compassion yang ia miliki terhadap seorang child soldier. Lihatlah betapa ia menguasai development lingo dengan "aid, refuge, education, technology sharing" saat ia membujuk T'Challa. Lihatlah kosmopolitanismenya seperti yang ditunjukkannya di Busan, seperti seseorang dengan paspor yang bisa membawanya kemanapun kapanpun dengan mata uang yang bisa membantunya kemanapun kapanpun, lihatlah...dorongannya yang besar untuk membantu mereka yang keadaan hidupnya...berada di bawahnya, lihatlah loyalitasnya yang besar pada tujuan yang "benar" dan besarnya agency yang dimilikinya sementara Okoye tunduk terhadap sumpah tradisi. Semua adalah stereotype seorang white heroine in an exotic setting. Dia hanya kurang memakai kemeja putih, celana safari, sepatu boot dan scarf.



Women and Erik's Archetype


Ngomong-ngomong soal Nakia dan Okoye, coba perhatikan bagaimana T'Challa dikelilingi sosok perempuan-perempuan hebat dalam hidupnya; Ramonda, Shuri, Nakia dan Okoye. Sementara Erik hanya punya bapaknya. Menarik bagaimana ibu Erik yang katanya orang AS sama sekali tidak muncul di film dan tidak mempengaruhi narasi sama sekali. Pacarnya pun hanya nongol selama beberapa menit, tidak memiliki peran yang signifikan dan mati dibunuh oleh Erik sendiri (lagi-lagi sebuah plot tak masuk akal yang hanya bertujuan untuk membuat kita kehilangan simpati pada Erik).

Masih dalam rangka ngomong-ngomong, fakta tentang hilangnya sosok ibu untuk Erik yang baru saja gw omongin itu sungguh membuat Erik sangat masuk dalam archetype "the Usurper". Gw membaca soal archetype karakter ini ketika sedang obses sama Kylo Ren dan Rey dari Star Wars Sequel Trilogy. Penjelasannya amat panjang, dan silakan untuk membacanya di sini, akan tetapi singkatnya archetype ini mengacu pada Oedipus. Elemen yang mau gw bahas adalah elemen ketiadaan sosok ibu untuk si tokoh Usurper, sehingga dia sepanjang hidupnya mendambakan sosok ibu dan ini bercampur dengan hasrat seksualnya.


Enemies to Lover is My Jam


Gosh, kalau kalian pikir Marvel payah dalam bikin villain, menurut gw Marvel lebih payah lagi dalam membuat cerita cinta-cintaan. Gw ga akan pernah memaafkan apa yang mereka lakukan dengan Nat x Bruce! Sementara pasangan-pasangan lain semuanya adem-adem aja, nggak ada yang sungguh menarik.

Gw tidak puas ketika Erik sudah mengejawantahkan archetype seorang Usurper akan tetapi tidak ada kecenderungan bagi dia untuk mencari atau menemukan sosok sang Holy Mother. Yang lebih goblok lagi, kalau menurut gw mereka punya satu tokoh yang berpotensi besar menjadi Holy Mother untuk Erik yaitu Shuri. Shuri adalah The Princess of Wakanda, sedangkan Wakanda adalah sang ibu pertiwi bagi Erik yang ia dambakan sepanjang hidupnya. Lebih gampang lagi kalau gw bilang bahwa Erik itu Kovu, sedangkan Shuri adalah Kiara, dan kalau gw bisa girang liat dua ekor singa jatuh cinta setelah sebelumnya sebel-sebelan, gw pasti lebih girang lagi kalau kedua singa itu adalah Michael B. Jordan dan Letitia Wright.

Gw ngomongin The Lion King 2, by the way. Dan ya, gw tau Shuri usianya 16 tahun dan di film Erik berusaha membunuh dia tanpa ampun sampai diselamatkan oleh T'Challa. Tapi lagi-lagi, kedua hal ini adalah keputusan pembuat film yang bisa aja diubah kalau aja mereka mau.

I meaaaaaan, forbidden love, enemies to lover, unresolved sexual tension, AAAANNNGGGGSSSTTTTT! Ripe for the taking untuk kedua tokoh itu, dan tentu saja Marvel TIDAK memilih jalan itu. Tapi yang mereka lakukan hanyalah meledek gw dengan membuat si Mr. Suave hey auntie memanggil Shuri dengan "princess".


Lahirnya Wakanda-Aid


Baiklah, balik ke soal development.

Yah, pada akhirnya T'Challa (dan juga penonton) berkompromi dengan jalan yang diajukan Nakia sebagai jalan yang benar untuk Wakanda mulai berpartisipasi menolong sesama. Sebuah pilihan yang jauh lebih aman dan menghindari konflik, tidak menyentuh sisi politis. Ini hanya soal teknis yaitu teknologi Vibranium. Wakanda mengumumkan di rapat PBB bahwa mereka akan mulai membuka diri dan membagi kemajuan teknologinya pada dunia. Kemudian kita ditunjukkan T'Challa membuka pusat outreach di California, AS.

Yeeesss!

Gw sungguh nggak tau apakah pembuat film bermaksud subversif di sini atau ini sesederhana bahwa film ini sangatlah AS-sentris. Karena terasa sekali bahwa fokus cerita adalah terhadap Black Americans.

Soalnya gini, jika ada hal yang juga membingungkan untuk gw adalah juga bagaimana negara-negara lain di benua Afrika (yang bukan negara fiksional) hampir sama sekali tidak muncul atau mempengaruhi narasi. Hanya satu kali, saat negara tersebut digunakan untuk mengangkat sifat kepahlawanan karakter Nakia. Ketika Erik harus memperoleh skillset yang diperlukannya untuk bisa menginfiltrasi Wakanda, pembuat film memilih CIA. Gw jujur bertanya-tanya, mengapa Erik tidak memilih untuk pergi bertualang di negara-negara Afrika, untuk bisa lebih dekat dan juga memperoleh intel soal Wakanda. Kemudian ketika berbicara soal black liberation, Erik hanya menyebut New York, London dan Hong Kong. Ketika berbicara soal Wakanda-Aid, T'Challa melakukannya di AS, nevermind negara-negara tetangga Wakanda di Afrika yang konon begitu amat sangat kekurangannya sebagai akibat dari kolonialisme berabad-abad.

Kita hanya bisa berspekulasi apakah alasan pembuat film memilih plot Wakanda-Aid di AS. Mungkin agenda mereka untuk film ini memang hanya berpusat pada masalah kehidupan orang kulit hitam di sana. Atau ada keengganan untuk lagi-lagi menampilkan citra Afrika sebagai kawasan miskin tertinggal. Atau memang mereka memaksudkan agar penonton bisa berefleksi atas wacana 'development aid' dengan subversi mereka terhadap AS.

I mean..., development aid bertumpu pada usaha besar untuk meletakan negara-negara sasarannya dalam kategori "less developed countries", negara-negara yang tertinggal dalam pembangunan, dan harus mengejar untuk mencapai keadaan yang sama "maju"nya dengan negara-negara kuat yaitu negara-negara kaya yang dulunya adalah pengkoloni. Seluruh hubungan antara negara-negara developed dan less developed bertumpu pada ketimpangan power, yang satu lebih baik dari yang lain, yang satu lebih kuat dari yang lain.

Memasukan AS ke Dalam Anti-Politics Machine


Ferguson sudah mengatakan bahwa ini adalah salah satu hal pertama yang dikutak-katik oleh anti-politics machine kita. Yaitu dengan mencoba mencitrakan calon beneficiaries sebagai negara yang "tertinggal" (masyarakat tradisional dan sebagainya), bukan menampilkan situasi ekonomi politik yang merugikan mereka. Untuk lebih menjelaskan apa yang dimaksud dengan ini, dalam literatur lain yang lebih baru, seorang antropolog lain bernama Engelke menjelaskan bagaimana subyek-subyek yang biasanya menjadi target beneficiaries development aid dipandang sebagai masyarakat yang terjebak di masa lalu dan harus dibawa masuk ke "masa depan". Dengan mengklaim bahwa mereka "hanya" tertinggal dalam waktu membuat kita tidak harus melihat situasi mereka apa adanya, yaitu bahwa mereka hidup di masa sekarang dalam situasi yang dibentuk oleh dinamika ekonomi dan politik. Sehingga yang harus mereka lakukan hanyalah mengejar ketertinggalan, sementara kita tetap nyaman dalam ketimpangan penguasaan sumber daya.

Jadi...., apakah ini yang akan dilakukan Wakanda? Mengklaim bahwa negara-negara lain tertinggal secara teknologi dan harus mengejar kemajuan Wakanda, dan Wakanda akan membantu dengan development aid-nya, dengan technology sharing dan education. Padahal kita semua tau bahwa hanya Wakanda yang memiliki Vibranium dan selama ini mempertahankan eksklusifitas Vibranium untuk mereka sendiri. Lalu, selain membagi teknologinya, apakah Wakanda berencana untuk membagi Vibranium-nya? Apakah ada gunanya membagi teknologi Vibranium tanpa membagi Vibranium itu sendiri?

Lebih jauh lagi, dengan menggunakan pendekatan education, Wakanda meletakan tanggung jawab terhadap rehabilitasi keadaan kaum kulit hitam di AS di tangan mereka sendiri. Jika mereka tak mampu bangkit dengan bantuan education, maka itu adalah salah mereka sendiri. Ini mengalihkan tanggung jawab dari AS sebagai sebuah institusi kenegaraan terhadap kemaslahatan warganya. Sebuah pendekatan neoliberalis.

Dan tidakkah ini menjadi sebuah pengamatan untuk development aid yang benar-benar ada saat ini. Saat negara maju mengklaim bahwa negara-negara lain tertinggal dalam pembangunan dan harus mencapai tingkat pembangunan yang sama dengan mereka, saat pada kenyataannnya ada ketimpangan besar akan penguasaan sumber daya bumi sebagai akibat dari berabad-abad kolonialisme, dan ditambah lagi ukuran-ukuran yang dipakai adalah ukuran yang ditentukan oleh mereka sebagai penguasa. Seperti kalau Wakanda mau mengukur teknologi AS dengan ukuran kemajuan teknologi Vibranium.

Lebih jauh lagi, bagaimana persoalan orang kulit hitam di AS yang terepresi secara politis akan dipecahkan dengan pendidikan dan outreach tentang teknologi Vibranium Wakanda? Atau, pendidikan seperti apa yang bisa diberikan oleh Wakanda yang bisa membantu membebaskan mereka dari opresi politik? Bagaimana cara Nakia me-reframe masalah orang kulit hitam AS untuk menjustifikasi intervensi teknis oleh foreign aid Wakanda? Seperti apa kebijakan development aid-nya T'Challa? Mana concept note, white paper dan log-framenya? Bagaimana dengan sistem monitoring dan evaluationnya?

But no, really. Tutup mata dan bayangkan, bagaimana cara Wakanda untuk masuk ke AS? Berapa pertanyaan yang akan ditanyakan oleh AS dan berapa banyak scrutiny yang harus mereka lalui? Apa efek dan hasil dari proyek? Bagaimana mereka menjamin efek proyek mereka tidak melenceng dari tujuan awal dan merugikan negara AS? Kenapa harus Wakanda yang melakukannnya? Bagaimana mereka menjamin tidak akan ada penyalahgunaan? Dan seterusnya dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan yang semestinya juga dilayangkan oleh negara manapun yang menjadi sasaran development project. Sayangnya biasanya negara-negara ini tidak cukup memiliki kekuasaan untuk melakukannya.

Jokes aside, it's a nice subversion, hanya saja gw tidak sepenuhnya yakin bahwa ini adalah maksud dari si pembuat film.

Jadi begitulah, semacam rangkuman dari kekecewaan gw terhadap bagaimana film Black Panther mengangani cerita yang semestinya menyentuh hati para subyek poskolonial dimana-mana. Sebuah premis cerita yang berpotensi menjadi sangat hebat, akan tetapi pada akhirnya memilih jalan yang aman, sehingga pada akhirnya berujung pada ketidakpuasan akan seorang karakter villain. Tapi ya, fakta bahwa gw menulis blog ini adalah sebuah bukti bahwa paling tidak film Black Panther sudah berhasil mengangkat pembicaraan tentang masalah-masalah yang penting yang bisa merangsang refleksi kita terhadap masalah-masalah tersebut. Tentu saja, tulisan ini adalah refleksi yang sifatnya cukup ngasal dan sama sekali tidak luput dari kesalahan. Untuk itu, semoga pembaca bisa memaklumi.
 

Saturday, July 26, 2014

I adore the adornment

Salah satu hal yang membuat saya begitu terpukau dengan Argentine Tango adalah gerakan-gerakan kecil yang sekilas tidak signifikan tapi membuat saya tergila-gila dan membuat keseluruhan tarian jadi menarik. Sebuah ketukan kecil sebelum melangkah, gerakan menggambar lingkaran dengan kaki dan tentunya gerakan sensual mengelus betis pada saat menari, gerakan-gerakan ini disebut adornos atau bahasa Inggrisnya adornment atau embelishments. Penghias gerakan yang membuat gerakan jadi indah dan menarik. Partner-partner dansa saya pasti tahu betapa "boros"nya saya memakai adornment ini ketika menari because I love it too much


Lihat di sini kalau penasaran kayak apa sih adornos yang saya maksud


Damn it, I haven't dance for too many months :(


Tapi bukan hanya adornment pada Tango yang membuat saya terpukau. Saat menonton wayang orang pun, saya menyadari adanya gerakan-gerakan serupa "adornment" yang membuat pertunjukkan menjadi menakjubkan.


Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan bisa menikmati sebuah pertunjukkan wayang orang. Tidakkah hiburan ala TVRI tersebut begitu membosankan? Tapi ketika kelompok wayang orang dari desa di kaki gunung Merapi tempat Tito penelitian tampil di acara pernikahan kami, saya hanya bisa ternganga, terpukau dan ingin melihat lagi dan lagi.


Arjuna dan Buto Chakil ditampilkan oleh Mas Ateng dan Mas Markayun


Saya diajak Tito datang ke tempat tinggal mereka untuk berkenalan. Betapa beruntungnya saya berkesempatan menyaksikan sebuah latihan pentas. Latihan tanpa kostum saja bisa membuat saya benar-benar terpukau. Segitu ditambah saya nggak bisa bahasa Jawa, namun dialognya tetap terdengar indah. Saya pun benar-benar terpesona melihat transformasi para pemain, yang dari orang biasa-biasa saja yang sehari-harinya sangat humble, namun di panggung bisa punya energi dan kepercayaan diri yang begitu besar, dengan gerakan-gerakan dan dialog yang powerful. Dan ini saya menonton mereka belum memakai kostum loh dan dialog masih salah-salah dan harus dikoreksi terus dan diulang-ulang. Nggak kebayang ketika nonton pertunjukkan benerannya.



Kemudian saya pun memerhatikan gerakan-gerakan kecil yang mereka lakukan; menggoyang-goyangkan kain saat berdialog, gesture dengan goyangan tangan dan kepala dan sebagainya. Saya pelan-pelan pun mulai paham keindahan seni ini. Mungkin ini equivalent dengan pertunjukkan opera di Barat dan saya sungguh nggak terima kelompok wayang orang dari desa ini tidak bisa tampil di tempat semegah Royal Albert Hall ditonton seluruh dunia dan diapresiasi setinggi-tingginya.


Dan di sini saya akan berhenti menulis sebelum saya mulai ngoceh tentang Foucault dan power relation. It would make me too much as a typical SOAS student :p 


Plus, I'm just lazy.

Monday, April 28, 2014

Kalau bukan lagi 4 sehat 5 sempurna jadi apa dong?

Hai teman-teman, pada tau nggak kalau 4 sehat 5 sempurna udah diganti? Pasti enggak. Hehehe. Saya pun nggak akan pernah mendengar bahwa pendekatan itu sudah diganti kalau nggak punya teman dokter gizi. Saat ini dengan mudahnya akses terhadap informasi, kita para manusia urban modern bergantung pada sumber-sumber selain daripada penyuluhan pemerentah. Sekian banyak buku-buku tentang diet di toko buku, majalah kesehatan dan kecantikan dan juga trend aktris-aktris Hollywood bisa kita akses dengan mudah. Kayaknya kita akan lebih tertarik mendengar soal diet Atkins yang dilakukan oleh Renee Zellweger daripada Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang dikeluarkan pemerintah untuk menggantikan 4 sehat 5 sempurna.


Saya teringat teman saya Anki yang menolak mencoba pecel lele dengan alasan “pokoknya gua sih makan apa yang diajarin ama Ibu gua aja deh!”. Hmm, bayangkan bertahun-tahun setelahnya, saat lagi belajar S2 saya membaca artikel dari Michael Pollan, seorang professor jurnalisme yang ahli di bidang makanan yang menyarankan hal yang sama persis dengan yang dibilang teman saya itu. Juga, membaca artikel beliau, saya semakin menghargai betapa briliannya slogan 4 sehat 5 sempurna itu (ok, ini bukan karena suami saya adalah cucunya dr. Purwo yang membuat slogan itu ya…. Tapi ini berdasarkan artikel serius dan pertimbangan intelektual.. caelah).


Kenapa makan itu menjadi sangatlah kompleks dijawab oleh Prof. Pollan dengan menceritakan berpindahnya fokus dari makanan menjadi nutrisi. Pada awal abad 19, seorang dokter dan ahli kimia bernama William Prout menemukan apa yang disebut makronutrien, yaitu protein, lemak dan karbohidrat. Lalu pada akhir abad 19, seorang ahli kimia bernama Casimir Funk menemukan mikronutrien pertama yaitu vitamin. Berpindahnya fokus dari makanan ke nutrisi itu ternyata gara-gara seorang senator AS yang ogah kehilangan dukungan dari industri daging dan susu pada saat beliau harus membuat rekomendasi gizi untuk rakyat AS. Rekomendasi yang harus dibuat saat itu adalah untuk mengurangi konsumsi daging merah dan susu untuk mengurangi resiko sakit jantung. Tentunya bisa dibayangkan ketakutan para pelaku industri daging dan susu di AS jika rekomendasi itu benar-benar dibuat. Akhirnya, rekomendasi “diperhalus” dengan menyarankan untuk “mengurangi asupan lemak jenuh”. Ketika rekomendasi ini dibuat di Washington pada tahun 1977, pada saat itulah dimulainya “Era Nutrisionisme”.


Ini menjadi penting karena sejak fokus pada makanan berganti pada nutrisi yang “tidak terlihat” bagi mata awam, kita semakin dan semakin bergantung pada ilmuwan untuk tahu apa yang sehat untuk dimakan dan apa yang tidak. Menyusahkan buat konsumen, tapi sangat menguntungkan buat industri makanan. Coba aja bacain semua kemasan makanan yang dibuat pabrik: ada klaim gizinya nggak? Pasti ada. Mengandung vitamin A, serat, omega-3, dan semua istilah-istilah nutrisi yang mungkin kita bacanya aja nggak bisa. Dan kita pun terjual dengan semua klaim tersebut, percaya bahwa asupan nutrisi-nutrisi itu baik buat tubuh kita dan makanya kita membeli semua makanan itu.


Secara ilmiah pun, fokus pada nutrisi menyebabkan apa yang disebut sebagai “reductionist science”. Nutrient diamati secara terisolasi dari interaksinya dengan nutrient lain dalam makanan, interaksi makanan dengan makanan lain dalam sebuah hidangan dan juga gaya hidup orang dalam mengkonsumsi makanan tersebut (Marion Nestle, dikutip oleh Pollan).Contoh yang diambil oleh Pollan adalah diet Mediterania (sama populernya sama diet Atkins), yang mengacu pada pola makan “orang Mediterania” yang mengandung banyak minyak zaitun (berkontribusi pada kepopuleran minyak zaitun). Padahal kesimpulan bahwa diet Mediterania itu sehat adalah berdasarkan studi pada masyarakat di pulau Kreta, Yunani pada tahun 1950. Ya memang, mungkin benar mereka makan banyak minyak zaitun dan juga benar bahwa resiko penyakit mereka lebih rendah dibanding orang AS pada umumnya, tapi harus diingat mereka punya gaya hidup yang berbeda secara keseluruhan, bukan hanya dietnya. Mereka banyak melakukan pekerjaan fisik, banyak makan sayur, punya kebiasaan berpuasa dan juga total kalori yang mereka konsumsi juga jauh lebih sedikit.


Pada akhirnya dengan segala kekompleksan nutrisi, rakyat AS tidaklah menjadi lebih sehat. Bahkan yang ada, sekarang orang semakin bingung dengan saran gizi yang berbeda-beda bahkan bertentangan. Jangan makan daging, makan daging, hindari karbohidrat, karbohidrat dibutuhkan oleh tubuh, susu bagus, susu nggak bagus, vitamin C penting, vitamin C nggak penting. Akhirnya, Pollan memberikan saran yang sederhana: “makan apa yang diajarin sama nenek buyut lo”. Kenapa nenek buyut, soalnya beliau belum terekspos sama makanan bikinan pabrik dan juga segala ilmu-ilmu pergizian. Ada alasan kenapa diet tertentu diteruskan dari generasi ke generasi: karena berhasil. Selain itu juga setiap masyarakat memiliki metabolisme dan keadaan lingkungan yang berbeda-beda. Tentunya nenek buyut kita memiliki kebiasaan makan yang sudah teruji sesuai dengan metabolisme dan lingkungan beliau. Pollan memberikan banyak saran lain, tapi silakan saja baca sendiri ya.


Tidakkah 4 sehat 5 sempurna adalah konsep yang brilian? Pertama, konsepnya berfokus pada makanan dan meskipun berdasarkan nutrisi, tapi mudah dikaitkan dengan makanan tertentu, hanya istilah awam. 4 sehat: makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah-buahan, ditambah susu. Kedua, tentunya ini jargon yang mudah diingat dan amat sangat mudah diikuti. Bandingkan sama piramida makanan yang sekarang digunakan sebagai penggantinya. Nggak heran jarang ada orang yang ngeh bahwa udah diganti.  Ketiga, susu hanya sebagai pelengkap. Soal apakah susu harusnya direkomendasikan sama sekali adalah hal lain, tapi setidaknya ini jauh mendingan daripada kampanye susu gila-gilaan yang terjadi di amrik.


4 sehat 5 sempurna



Pedoman gizi seimbang (PGS)

Ya betul, jaman sudah berubah dan 4 sehat 5 sempurna mungkin sudah ketinggalan jaman. Tapi sulit menyaingi kepraktisannya sementara piramida makanan yang baru bikin pusing euy! Untuk sekarang, saya mau sebisa mungkin mengikuti saran Michael Pollan saja dulu meskipun tidak mau terlalu strict (nenek buyut saya kayaknya nggak makan spaghetti bolognaise deh… L). 

Sunday, April 27, 2014

Seri Kawinan #7: Undangan

Sebetulnya undangan adalah departemennya (waktu itu) calon suami. Jadi saya tidak bertanggung jawab untuk undangan. Tapi saya akan ceritain prosesnya.

Lagi-lagi dengan semangat cut-the-crap, kami mengharapkan undangannya tidak berlebihan, orang tidak "merasa bersalah" membuangnya dan tentu saja buat kami juga murah. Tujuan utama undangan adalah memberi tahu kapan dan dimana pestanya, setelah itu mau buat apa kalau tidak dibuang? Kalau diserahkan sama saya, mungkin saya akan bikin kartu selembar saja dengan amplop. Tapi Tito membawanya to the next level: kertas hvs dan fotokopian. Tapi dia berencana untuk undangannya berupa komik. Komiknya bukan tentang kami sih, cuma komik aja. Sesuatu yang exciting buat orang lain baca. At least, we made something, a form of art, something to be left in the memory afterwards and all those money are all well spent.

Ini hasilnya: http://menjadi.tumblr.com/

Sempat menimbulkan drama di keluarga saya saat seorang Bude merasa eksplorasi kami berlebihan dan bertekad mencetakkan undangan buat saya, yang dia anggap lebih decent. Kami paham concern beliau dan sangat menghargai perhatian beliau dan ketakutan beliau akan anggapan orang terhadap kami dan kedua orang tua. Tapi setahu saya justru kebanyakan orang menghargai dan menikmati hasil karya ini dan membuat undangan, pesta dan juga pernikahan kami memorable buat mereka.

Dan lagi-lagi saya sangat bangga semua itu dilakukan dengan resource yang seperlunya, tidak berlebihan.

The London Hair Drama

Siapa yang sangka tinggal di salah satu kota yang menjadi "pusat dunia" adalah the ultimate test buat perawatan rambut saya. Ya rambut. Padahal, kalau kita beli merk-merk produk perawatan rambut atau kecantikan atau fashion apapun pasti abis Paris atau New York, nyebut LONDON.


To begin with, rambut saya emang rewel. Aslinya memang keriting banget dan kaku, dan banyak. And I prefer to wear  it straight. Okay. There i said it. It's just less....drama with it and life is just so much easier. I prefer it straighthened and also blow dried. Di Jakarta pun, untuk mencapai tampilan yang pantas, saya harus melalui serangkaian uji coba dan kegagalan. Mencari salon dan kapster yang oke dan paham ngurus rambut saya, mencari potongan rambut yang ok, latihan blow dry sendiri sampai mencari produk dan metode perawatan yang sesuai. Sampai akhirnya saya sudah mendapatkan rutinitas dan tampilan yang saya mau. Hair smoothing dengan L'Oreal extenso plus gunting dua bulan sekali di salon Trenz di Giant sama mbak Lika. Keramas dengan urutan terbalik: sesekali hair mask L'Oreal, conditioner Sunsilk lalu baru terakhir keramas pakai shampoo mahal Phytoprogenium. Lalu hair serum Makarizo yang heat protectant untuk kemudian di blow dan habis itu gulung poni.


Yup. Begitulah rezim perawatan rambut saya yang lebih autoritatif daripada Orba.


Tentunya itu semua harus berakhir saat saya pindah ke London, tapi siapa sangka tantangannya akan lebih berat daripada sekedar kehilangan mbak Lika atau hair serum Makarizo. Pertama, salon itu mahal dan mahasiswa jarang ada yang afford, paling-paling mereka volunteer sebagai hair model di sekolah-sekolah hair dressing untuk mendapatkan potong rambut gratis. Gunting rambut di salon "murah" seharga 6 pound, kalau di salon yang serius setidaknya 20 pound. Kalau potong rambut aja segitu mahalnya, jangankan hair smoothing yaaaa. Don't even think about it. Kedua, saya belum uji coba produk-produk shampoo, conditionoer dan hair mask serta hair serum yang dijual di sini. Tapi ada tantangan lain yang bikin semuanya jauh lebih berat.


Saudara-saudara, air London itu sangat keras dan membuat rambut saya kering dan kaku lebih dari apapun. Waktu di awal-awal saat saya masih pegang segala produk dari Indonesia, sudah terasa bahwasanya rambut saya terasa jauh lebih kering dan kesat, bener-bener kayak sapu.


Anyway, my hair is a disaster for the first 4 months and I couldn't do anything about it. Sumpah penampilan yang nggak ok bikin gw bener-bener nggak pede. Call me superficial tapi gw bener-bener merasa down. Trus, udah beli shampoo yang mahalan dikit, conditioner ini itu, spray ini itu, hair mask lah, ga ada yang ngefek. Bahkan sesudah hair mask yang amat intensif pun rambut saya masih kaku dan kasar. Dari awal sebetulnya tante saya udah ngasih tau bahwa pasti airnya yang masalah, tapi saya gak percaya. Masa sih air bisa bikin rambut jadi rusak.


Setelah frustrasi selama 4 bulan akhirnya saya google juga soal efek air London terhadap rambut, dan bener loh, ternyata masalah dengan air London dialami oleh blogger-blogger lain. Membaca saran mereka, saya membeli filter jug dari amazon dan mulai melakukan bilasan terakhir dengan air yang difilter. Waktu jug-nya belom nyampe saya sempat beli air mineral botol buat ngebilas! Saya juga membeli minyak kelapa dan mulai meminyaki rambut saya selalu sebelum keramas. Hasilnya: rambut saya pun melunak.


Tapi karena tidak di-smoothing tentunya dia tetap keriting dan banyak kan, dan saya udah lumayan frustrasi dengan keadaannya. Bayangin rambut lo setengah lurus di bagian bawah, terus atasnya keriting! Bukan cuma tampilan saja, tapi rasanya punya rambut keriting di kulit kepala itu buat saya amat nggak nyaman. Jadi saya mulai cari L'Oreal extenso di amazon. Tadinya tante saya udah nawarin jasa temennya yang katanya bisa guntingin rambut dan mungkin bisa juga nge smoothing rambut untuk dipanggil ke rumah. Tapi saya takut, soalnya kalau sampai salah pegang, rambut saya bisa rusak parah. Saya lebih percaya diri saya sendiri daripada orang baru, karena toh saya udah ngeliat cara mbak Lika kerja berkali-kali. So be it, saya pesan lah itu obat dari amazon yang dikirim dari THAILAND seharga 20 pound (bisa untuk 3 kali proses), dan saya menunggu 2 minggu barangnya nyampe. It is not bad at all. My hair is now straight(ish) and I am happy.


Now, the quest for the right hair product is another story. Akhirnya saya cari produk Phyto di sini. Itu kan produk dari Paris, masa bisa nyampe Jakarta tapi ga bisa nyampe London ya. Meski harus mesen untuk dapet varian yang saya mau, tapi produknya ada dan saya kembali memakai Phytoprogenium kesayangan. Harganya kalau di kurs sama sih dengan di Jakarta. Saya yang sempat menjadi korban iklan produk Aussie dan juga produk Lush yang menawarkan "bahan alami" tapi akhirnya berhenti memakai kedua produk mahal (sekitar 4-6 pound sebotol) itu dan mengganti dengan conditioner Alberto Balsam seharga 99p yang ironisnya adalah produk yang diperkenalkan tante saya pertama kali. Saya ingat rambut saya lebih baik waktu pertama make conditioner itu daripada produk-produk apapun yang saya coba setelahnya. Sementara untuk serum, setelah sedikit riset di internet, saya coba produk Organix Moroccon Oil seharga 6 pound untuk menggantikan produk-produk sampah yang saya coba sebelumnya. Dan....my hair is back. It's back. It. is. back. After 6 months of misery.


Mungkin sebagai blogger yang baik harusnya saya ngambil selfie ya?....

Saturday, January 25, 2014

"Lactose Intolerant" bukan penyakit ah! Justru yang bisa minum susu adalah yang mutan.

"Lactose intolerance" adalah kondisi yang mungkin familiar bagi sebagian orang, tapi di Indonesia nggak umum dibicarakan kayaknya (setidaknya di kalangan orang awam seperti saya). "Penderita" lactose intolerance nggak bisa mengkonsumsi susu cair karena perutnya tidak bisa memproduksi enzim laktase yang semestinya memecah kandungan lactose dalam susu.

Hm, topik ini sebetulnya bukan keahlian saya, tapi bahan bacaan untuk kuliah pendekatan antropologi terhadap pertanian, makanan dan nutrisi minggu ini bikin saya tergelitik. Huuh, mungkin daripada nulis ini mendingan saya baca bahan bacaan untuk kuliah lain yang sudah menggunung, tapi saya bener-bener tergelitik. Apalagi sehabis mencoba meng-google soal lactose intolerance di Indonesia, cukup prihatin membaca bahwa keadaan itu dianggap "penyakit" yang dengan segala cara berusaha disembuhkan. Padahal bahan bacaan yang baru saya baca mengatakan sebaliknya:

Bahwa kemampuan manusia untuk mampu mencerna lactose setelah disapih adalah hasil mutasi. Mamalia yang normal, setelah disapih akan berhenti memproduksi enzim laktase. Fungsi satu-satunya enzim laktase adalah untuk mencerna lactose dan setelah disapih, tentu enzim itu tidak ada gunanya lagi, jadi untuk terus memproduksi laktase dianggap buang-buang energi (Wiley 2011: 64).

Jadi: saya adalah seorang MUTAN! Huahahahahahaha!

Sebelum berbicara lebih jauh, mungkin perlu dijelaskan lagi soal mekanisme evolusi melalui mutasi dan seleksi alamiah. Kita pakai contoh yang ada di buku teks biologi sekolah menengah:
Alkisah, ada jerapah yang lehernya panjang dan lehernya pendek. Leher panjang dan leher pendek ini muncul karena adanya mutasi genetik: "kegagalan" gen untuk mengkopi secara sempurna gen dari orang tua. Kalau Anda tidak 100% mirip Bapak atau 100% mirip Ibu Anda, itu karena hasil dari mutasi ini (jadi mutasi itu maksudnya bukan jadi mahluk bersisik atau bersayap kayak di X-Men). Ini penjelasan yang amat sangat kelewat disederhanakan sih, untuk kebutuhan ilustrasi aja. Nah begitupun jerapah, makanya ada yang lehernya panjang, pendek dan sedang. Nah jerapah yang lehernya panjang, bisa makan daun dari pohon yang tinggi, sehingga di musim kering dia bisa mendapatkan lebih banyak makanan daripada temen-temennya yang lehernya pendek. Hasilnya, jerapah yang lehernya pendek lebih banyak yang mati duluan, dan jerapah yang lehernya panjang, hidup lebih lama, bisa kawin, punya anak dan seterusnya. Sehingga lama-lama, tersisalah cuma si jerapah yang lehernya panjang aja. Kira-kira gitu, semoga penjelasannya bener, buat yang ahli, tolong dikoreksi kalau salah,

Nah, begitupun dengan kemampuan untuk mencerna lactose. Pada masyarakat yang secara historis melakukan domestikasi hewan untuk diambil susunya (domestikasi hewan penghasil susu terjadi baru 8,000 tahun yang lalu, spesies manusia ada sekitar 200,000 tahun yang lalu), frekuensi mutasi untuk terus memproduksi laktase hingga sepanjang hidupnya lebih tinggi. Individual dengan mutasi tersebut, pada masyarakat yang seperti itu, akan lebih sehat (karena mampu beradaptasi dengan sumber nutrisi yang tersedia pada masyarakatnya), dan mampu menghasilkan keturunan yang juga memiliki mutasi tersebut (Wiley 2011: 66).

Lalu gimana dengan individu-individu yang tidak memiliki mutasi itu? Menurut Sahi (1994 dalam Wiley 2011: 66) meskipun dipaksakan minum susu terus, si enzim itu tidak akan serta-merta muncul. Logikanya sih iya ya, karena kan itu keadaan genetik.

Sekarang udah sedih belum dengan kenyataan bahwa alih-alih dianggap keadaan genetik yang normal, orang yang tidak bisa mencerna susu dianggap memiliki "penyakit" genetik yang harus "dirawat"?

Susu memang sumber gizi yang baik, tapi bukan sumber gizi satu-satunya. Di Amerika, anggapan bahwa susu adalah sumber gizi yang premium dianggap sebagai propaganda untuk mempromosikan industri susu dan hasil susu mereka (pernah lihat kampanye "got milk?" di majalah-majalah Amerika?). Bahwa semua orang dianggap harus minum susu adalah hasil dari sebuah bio-ethnocentrims yaitu kepercayaan terhadap superioritas dari sebuah keadaan biologis atau praktik kultural, dalam hal ini keadaan biologis dan superioritas dari orang-orang Eropa Utara (masyarakat dimana frekuensi mutasinya untuk mencerna susu tinggi).

Penulis buku yang saya baca menggunakan istilah lactase persistance/impersistance agar lebih netral secara nilai (tidak menganggap yang manapun sebagai abnormal) daripada lactose intolerant, lactase deficiency, atau lactose maldigestion/malabsorption yang menandakan inferioritas/keabnormalan dari orang-orang yang tidak bisa mencerna lactose.

Ia pun memberikan informasi tentang keberadaan kelompok-kelompok anti-susu: www.notmilk.com, www.milksucks.com. Bahkan sebuah tuntutan hukum dilayangkan pada mereka yang mempromosikan susu pada kelompok minoritas (African American, Asian, Latin American yang mayoritas adalah lactase impersistance).

Jadiiiiiiiii........ ga bisa minum susu ya gak apa-apa laaah. Sumber gizi yang lain masih banyak kok. Nggak perlu terpengaruh iklan, nggak minum susu pun bisa tetap sehat :)

Reference
Wiley, Andrea S. 2011. Chapter 2: "Population Variation in Milk Digestion and Dietary Policy" in Re-imagining Milk. New York: Routledge, 15-36.

Friday, December 20, 2013

Latihan keseimbangan tubuh

Keseimbangan tubuh, ternyata bukan soal ketepatan postur saja, tapi juga kekuatan otot. Wah ini baru saya sadari setelah beberapa bulan berlatih yoga (dan tango).

Berdasarkan tes yang dilakukan oleh kawan saya si dokter olahraga, keseimbangan tubuh saya sungguh-sungguh buruk. Cuma bisa tahan beberapa detik saja :'( Instruktur yoga saya juga bilang, kalau dibandingkan dengan teman-teman, saya memang yang paling payah kalau udah masang postur-postur keseimbangan (dan juga postur-postur lainnya sih).

Tapi setahun kemudian, si instruktur yoga saya terkagum-kagum dengan kemajuan yang saya capai. Hehehe. Lah, iya lah mas, kan rajin latihan...saya yoga 3x seminggu loh. Saat tango pun begitu, gerakan-gerakan terasa lebih mudah, ringan dan mengalir, jingjit selama menari pun tidak terasa masalah besar, ketika sebelumnya jingjit terus sepanjang tarian bener-bener bikin menderita. Itu karena otot tungkai saya memang sudah semakin kuat.

Gimana cara latihannya? Well, kalau mau berlatih ya jangan disasar untuk satu hal aja atau satu bagian tubuh aja sih, harus seimbang untuk semua otot tubuh. Banyak pose-pose yoga yang bukan untuk keseimbangan tapi memperkuat otot seperti warrior atau chair pose.

yogaheels.wordpress.com



Tapi menurut saya, pose di bawah inilah yang merupakan the ultimate test, dan saya sampai sekarang cuma bisa melakukannya dengan kaki bengkok

www.ihanayoga.com.au

Kaki lo musti kuat banget untuk nahan gaya dorong dari kaki satunya lagi untuk diangkat agar badan tetap tegak dan nggak jatuh. Ini adalah pose yang menurut saya bikin progress bagus dalam hal keseimbangan dan kekuatan otot tungkai. Eh, tapi sebelum nyoba, tolong konsultasi dulu sama dokter atau instrukturnya ya, dan silakan cek versi pemula di website atau cari video tutorialnya di youtube. Gambar di atas sih emang udah versi hebohnya kok, dan saya ampe sekarang belum bisa yang kayak gitu, kakinya masih bengkok. Moga-moga dengan sering latihan bisa makin bagus ya :)