Thursday, August 29, 2013

A License to Judge People? :)

A friend of mine once said that I can come and judge a society because I have a degree specifically on that. I can say "Dude, I'm judging you and I can! I have a degree for that!" Haha. Yes, I have a degree on Anthropology, a science which tries to figure out human beings. That's just about it. Human beings. Anthropos.

Spending almost 4 years in college, learning a science of unravelling the nature of human being, seeking pattern in their behaviour and trying to describe and explain "culture", you would think that I, the person who manage to hold a degree on anthropology, would be able to explain human beings and culture a lot easier than those who doesn't. While this may hold true for other anthropologists out there, it is just completely the opposite for me. But maybe I'm just a really crappy anthropologist :)

I have met a lot of people who would talk a lot about what they know and what they think, about people, society and culture. They would speak in a very confident manner, going through various topic about various people and society. Most of the time, I just listen and most of the time, I didn't and couldn't reciprocate. I would have this complicated toughts racing in my head, faster than I could understand it and a lot faster than I could articulate it.

Why? Because the first thing I learned from my anthropology courses is that: I don't know a damn thing about people. People and society are just....complicated.

First of all, do you know that there are more than 400 definitions of culture? So when somebody ask a question that they considered simple question "what is culture?" I would just think "well, shit".

Second, anthropologist spend years, and I mean years, doing research in a society until they are confident enough to write an ethnography (a description) about what they think (what the anthropologist think) about that particular society (only that particular society). In anthropology, we learn about cultural relativism, we learn about ethnographic method, we learn about how careful we must be in drawing a conclusion about a society. Almost the same with how careful a chemist must be in creating a chemistry experiment; taking notes, ensure safety, selecting the right tools, ensure the tools are clean, ensure the measurement is correct, etc. The different is, we cannot measure "people" with a beaker glass or scale and we cannot label them with alphabets and make equation out of them. The only tool an anthropologist has is him/herself; his/her senses and his/her judgement.

I don't actually know what I wanted to say in this post, except that sometimes, people who doesn't take such careful measure before judging something bothers me. A lot. I myself still make this mistake sometimes; too easy in judging something, but I try not to and I am lucky to have a wise person in my life to always remind me :) But some people...doesn't even try, and can't be reminded of it. And that bothers me.

Friday, August 16, 2013

Beda Yoga dengan Pilates

Yoga dan pilates amat sering dibandingkan dan dianggap mirip satu sama lainnya. Saya sendiri awalnya nggak ngerti bedanya apa, well…sampai sekarang juga nggak ngerti-ngerti amat sih bedanya apa, secara saya juga bukan instruktur yoga apalagi pilates. Jadi mendingan Anda nggak usah jadi baca tulisan ini deh, hehehe. Tulisan ini bukanlah pendapat ahli, hanya refleksi pengalaman dari orang awam yang pernah mencoba dan mempraktikan kedua jenis olah tubuh ini ditambah kegemaran meng-google dan membaca-baca. Tulisan ini juga bukan dimaksudkan untuk memberikan opini berimbang karena saya jelas-jelas penggemar yoga.

Pengalaman saya mencoba yoga dan pilates adalah di kelas salah satu gym yang pernah saya jajal kira-kira 4 tahun yang lalu. Saat mencoba kedua kelas ini, saya berada dalam kondisi tidak fit; nggak pernah olahraga, makan tidak diatur baik jumlah maupun jenisnya, dan usia juga membuat saya makin kehilangan metabolisme tubuh yang baik. Pertama dicoba, kelas yoga. Perasaan selama kelas adalah ngos-ngosan, keringetan dan otot jerit-jerit karena dipaksa kerja, dan tentunya saya pingin banget nonjok si instruktur yang perilakunya tenang macam air itu. Tapi setelah kelas, wuaah, kok rasanya badan enak dan lega ya, semua otot rasanya terrenggang dengan baik. Minggu depannya, nyoba kelas pilates. Ternyata kelas ini lebih bikin nangis, tapi saya nggak berani kepingin nonjok si instruktur, soalnya doski adalah alpha female yang sangat galak. Sepanjang kelas perintah-perintahnya ala ospek senior yang kalo di antrop UI, dinamakan “pos bangsat” dan doski juga nggak ragu-ragu ngatain “gendut”, “badannya berat sih”, dan “abis ini makannya kwetiau goreng ya”. Saya cinta banget sama si instruktur ini! :D  Keringet mengucur super deras, dan setelah kelas rasanya otot sakit semua dan capek. Lalu….besoknya otot paha saya super sakit dan saya nyaris nggak bisa jalan apalagi naik turun tangga selama 2 hari. Dua hari itu saya jalan dan naik turun tanggal kayak nenek-nenek. Pengalaman tak terlupakan.

Waktu berlalu, saya berhenti nge-gym, lalu mulai lagi, lalu berhenti lagi, lalu mulai lagi. Kali ini dengan kekuatan penuh; les dansa, rutin treadmill + strength training, plus yoga seminggu sekali karena kebetulan ada kawan-kawan yang ngajakin untuk patungan manggil instruktur yoga. Pengalaman yang dirasakan masih sama, sepanjang kelas mau nangis dan keringet bercucuran, tapi setelahnya badan terasa enak, lega dan ringan. Saya bersemangat banget ikutan yoga karena saudara-saudara, saya payah banget di dansa karena tidak punya postur, keseimbangan dan core strength yang baik.

Lalu, ngobrol-ngobrol dengan kawan saya si dokter olahraga, dia menyarankan untuk melakukan pilates aja kalau memang tujuannya untuk memantapkan kebisaan berdansa. Senam pilates memang banyak digunakan oleh penari karena berfokus pada postur, keseimbangan dan terutama sekali adalah core strength. Jadi…saya mencari di youtube, video pilates untuk pemula. Mencari video instruksi senam adalah kebiasaan baru yang saya lakukan dan sudah saya lakukan untuk yoga, buat nambah-nambah rutinitas sama instruktur sekali seminggu. Terus ketemu lah satu video pilates untuk pemula yang kemudian saya praktikan. Dan yak, perasaannya masih sama. Otot-otot, terutama otot perut, paha dan pantat berasa dihajar bener (padahal cuma setengah jam latihannya), dan di akhir latihan, rasanya cuma bete dan sakit.

Pilates juga menggunakan alat untuk membantu allignment tubuh
www.pilatesofdunwoody.com

Berdasarkan pengalaman melakukan latihan pilates (yang cuma 2 kali itu), dan yoga, kalau boleh saya membandingkan, di yoga jauuh lebih banyak perenggangan, sedangkan di pilates jauuuh lebih banyak crunching (maaf saya nggak bisa nemukan padanan dalam bahasa Indonesia, apa ya, pengkontraksian? Pengerasan?) otot. Itu aja sih beda utama yang saya rasakan, dan itulah mengapa di akhir kelas yoga tubuh terasa lega, sedangkan di akhir kelas pilates tubuh terasa..uhm, sakit. Pilates juga jauh lebih fokus pada kekuatan otot perut, paha dan pantat karena orientasinya pada core strength, sedangkan yoga melatih berbagai otot, dari segi kekuatan dan juga fleksibilitasnya.

Hm, sebelum saya membahas lebih jauh lagi, sebagai latar belakang, yoga yang saya lakukan adalah hatha/power/vinyasa yoga dan juga ashtanga (versi introduction). Ini adalah jenis-jenis yoga yang relatif berfokus pada gerakan fisik, jadi saya tidak merapal mantra, meditasi, bahkan tidak melakukan pernapasan yang macam-macam, hanya ujayi saja. Akan tetapi bahkan dengan mempraktikan yoga jenis ini saja saya merasakan pendekatan yoga lebih “spiritual” dibandingkan pilates. Yoga mendekati tubuh secara lebih halus, memahami tingkat keadaan tubuh, “memaafkan” tubuh jika belum mampu mencapai sebuah pose (tiap pose ada tingkatan mudah hingga sulit), melatih tubuh secara perlahan dan fokus pada pernapasan dan kesadaran mendalam (inner awareness). Sementara pilates lebih “memecut” tubuh untuk dapat mencapai sebuah kondisi tertentu; core yang kuat, postur yang benar, keseimbangan yang baik. Inilah mengapa bagi tubuh-tubuh yang tidak fit, latihan pilates bisa terasa amat menghajar. Tapi siapa tahu, latihan pilates bisa sangat memuaskan bagi tubuh yang sudah relatif fit dan membutuhkan tantangan. Kalau aja gratis, saya sih mau aja nanti nyoba-nyoba pilates lagi, hehe.

Yoga sangat lekat dengan ilmu spiritualitas asal Timur (India)
www.guideyoga.org

Jadi kesimpulannya, yoga dan pilates beda kan? Tapi enggak ada salahnya kalau mau melakukan keduanya, karena keduanya sebetulnya saling mendukung dan tidak berkontradiksi. Lakukan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan sifat Anda.

Wednesday, August 14, 2013

Kumpulan tips olahraga dan diet

Dikarenakan saya sudah beberapa waktu sejak tulisan terakhir saya, sedangkan (katanya) blogger yang sakses adalah yang konsisten bikin postingan, maka dari itu saya mencoba membuat tulisan ringan ini.

Saya adalah internet junkie, dan saya sering 'tersesat' di internet. Tiap orang candunya beda-beda, kalau saya: 9gag, fashion blog, wikipedia, video nari-nari daaaan...saya paling demen nge-google tips atau how to. Tentunya tips/how to ini terkait dengan interest saya, yaitu tentang fashion atau kecantikan, diet, olahraga, sampai cara menulis essay buat melamar beasiswa (saelah, biar kesannya pinteran dikit, gak cuma urusan muke ame bodi doang). Yang saya mau bahas di tulisan ini, khusus tips diet dan olahraga ajah. Bukan cuma dari internet aja sih, tapi juga dari teman-teman dan juga pengalaman pribadi. Saya baru aja sakit sebulan (istilah Sundanya harugrag, makanya lama beut sakit), dan tentunya urusan diet dan olahraga jadi tertinggal. Karena sekarang sedang berusaha kembali pada jalur, maka saya terinspirasi menulis ini. Beberapa hal yang ada di sini adalah pengulangan dari tulisan-tulisan terdahulu.

Sebelumnya, apakah saya sukses mencapai target diet dan olahraga dengan tips-tips ini? Kalau pakai standar saya sih, saya akan mengatakan bahwa saya sukses! Tapi kalau standar Anda adalah turun berat badan 10 kg...waduh...maap saya cuma turun 3 kg sajah. Tapi saya merasa metabolisme saya jauh lebih bagus, saya makan lebih baik, badan saya meskipun berat tapi tidak glombor-glombor seperti dulu waktu belum ikut rejimen olahraga dan diet.

Baiklah, kita mulai saja

1. Pemanasan dan pendinginan sebelum olahraga adalah super wajib. Lakukan dynamic stretching saat pemanasan, dan static stretching saat pendinginan.

Ini saya ketahui sejak SMA. Dengan stretching pemanasan dan pendinginan, ambil nilai lari tidak membuat paha saya sakit seperti biasanya. Akan tetapi saya belum lama mendapatkan tips baru, bahwa ketika badan masih 'dingin' sebaiknya jangan melakukan stretching statis. Tau kan stretching statis? Yang ototnya ditarik ajah tanpa banyak gerak. Stretching statis saat badan masih dingin beresiko otot bisa putus. Serem kan? Gerakan-gerakan dynamic stretching bisa ditemukan di youtube.

2. Minum kafein sebelum olahraga meningkatkan pembakaran dan membuat semangat berolahraga.

Ini sih logis lah? Gw kalau minum kafein biasanya jadi agak hiperaktif, dan cara apa yang lebih baik untuk menyalurkan energinya kalau bukan olahraga. Kafein juga meningkatkan resistensi otot, jadi kita gak cepet ngerasa "sensasi terbakar" saat otot lelah. Sebagai informasi, dosis kafein tertentu dilarang di Olimpiade. Kafein dianggap doping.

3. Metabolisme, metabolisme, metabolisme

Hidup akan lebih mudah jika metabolisme kita bagus. Saya kadang agak kaget ketika saya lagi gak gitu kontrol, makan agak banyak atau jenisnya yang berkalori tinggi, tapi badan saya nggak langsung menggendut tuh. Ini karena saya udah meningkatkan metabolisme. Ada tiga cara tubuh kita membakar kalori: melalui olahraga dan bergerak, melalui pencernaan makanan kita, dan melaksanakan fungsi dasar tubuh seperti memompa darah, berpikir dan menghangatkan tubuh alias metabolisme basal (lihat di sini). Nah 70% dari kalori yang kita bakar setiap hari adalah dari metabolisme basal ini (yang ahli, silakan mengkoreksi kalau ini salah). Jadi kalau metabolisme basal ini bisa ditingkatkan, enak kan? Nggak ngapa-ngapain tapi badan sibuk bakar kalori.

Caranya gimana? Yaitu dengan memperkuat otot. Kalistenik, pilates, yoga, angkat beban adalah berbagai olahraga yang dapat memperkuat otot. Disarankan untuk memprioritaskan jenis olahraga ini daripada cardio jika waktu kita terbatas. Saya pribadi, hanya melakukan yoga, dan sekali-sekali jalan cepat kalau pas bisa. (Cardio adalah kemewahan buat saya, soalnya harus jadi anggota gym atau turun di car free day. Jogging di kompleks? Enggak lah yaw).

Cara lain? Jangan membiarkan diri Anda kelaparan. Ketika tubuh lapar, dia akan panik dan mulai berhati-hati membakar kalori, alias...metabolisme akan turun. Jadi pastikan Anda mengatur asupan makanan Anda agar kalori tidak berlebihan tapi juga badan tidak terlalu kelaparan (kelaparannya dikit ajah).

4. Kalau baru mulai, paling mudah dengan cardio

Berlainan dengan tips sebelum ini, kalau Anda memulai dengan kondisi tubuh yang kurang fit, barangkali overweight atau obesitas, atau bodyfat tinggi, paling mudah dan aman memulai dengan cardio dan paling enak make alat di gym (treadmill, sepeda atau eliptical, lebih enak soalnya lebih stabil dan kita bisa atur tantangannya). 3-4 kali seminggu sejam, diikuti dengan strength training.

5. Kalau otot kesakitan, artinya si otot makin kuat

Maka disyukuri aja, jangan dirutuki. Eh ini maksudnya sakit otot yang pegal-pegal karena abis olahraga loh ya, bukan cedera seperti keseleo atau putus. Tapi jangan dipaksa untuk berolahraga dalam kondisi pegal begini. Tunggu 1-2 hari sampai dia berkurang sakitnya. Kalau saya pribadi, mempercayakan minyak kayu putih untuk meredakan sakit (just FYI, cara ini ditentang habis oleh teman saya yang dokter olahraga dengan alasan belum ada bukti ilmiah untuk ini, sedangkan bukti ilmiah yang ada justru menyuruh agar otot dikompres dingin, but seriously...minyak kayu putih works O______O), dan beberapa gerakan stretching ala yoga.

6. Yang penting adalah total asupan kalori seharian

Terserah mau diatur makan banyaknya siang atau malam atau pagi, dibagi 3 kali makan atau 6 kali makan, pokoknya yang penting total kalori seharian tidak berlebihan. Sesuaikan dengan rutinitas dan gaya hidup dan apa yang nyaman buat Anda. Saya pribadi, paling menahan diri di pagi hari, agak menahan diri di siang hari, dan makan yang kenyang di malam hari.

7. Jangan terjebak dengan obsesi untuk menjadi sempurna

Ini terutama jebakan banget buat saya si Virgo yang perfeksionis. Gagal menahan diri untuk nggak makan seporsi penuh makan siang? Nggak apa-apa, lanjutin aja dietnya abis itu. Nggak sempet olahraga selama seminggu? Nggak apa-apa, mulai aja lagi. Ini adalah yang harus terus-menerus ingat. Soalnya seringkali terjebak untuk menyerah sama sekali ketika gagal sekali aja dan kemudian susah mulai lagi. Nggak usah perfect-perfect amat dan nggak perlu total menahan diri. Jajan aja bubble tea atau es krim kalau mau, atau makan aja sepotong cake coklat sisa Lebaran itu, asalkan ingat untuk nggak bablas. Jujur, meskipun turun berat badannya lamaaa dan nggak sebanyak yang diinginkan, cara ini lebih baik daripada bisa turun banyak, jadi kurus, tapi nggak tahan lama. Sejauh ini, ini adalah badan ter-ok saya (bahkan dibandingkan waktu SMA), dan bertahan paling lama juga.

So that's it, I guess. Good luck!

Thursday, August 1, 2013

Gerakan yoga sudah ada dalam shalat?

Siapapun yang bilang bahwa "gerakan yoga itu udah ada di dalam shalat", bakalan ane fentung!

Apakah shalat menyuruh Anda melakukan gerakan ini

Locust Scorpion Pose
www.fitsugar.com

 Atau ini

Peacock pose
www.yogaposeweekly.com


Atau ini

King Pigeon Pose
www.fitsugar.com


Sebagai seorang yogi yang meskipun pemula (enggak, gw gak bisa melakukan pose-pose di atas) tapi sedang tekun-tekunnya mempraktikan yoga, dan bener-bener merasa “dihajar” tiap habis sesi latihan (saat ini deltoid dan quad gw lagi sakiiiiit abis yoga kemarin), saya tiba-tiba sebal ketika teringat bahwa ada yang bilang bahwa “gerakan yoga udah ada di dalam shalat”.

Apanya!

Usut punya usut (google punya google), ternyata pernyataan itu asal muasalnya adalah dari sebuah buku berjudul Ketika Dokter Memaknai Shalat yang ditulis oleh dr. Bahar Azwar SpB Onk. Saya nggak tau sih isi buku itu apa, tapi usut punya usut (google punya google) poin-poin penting dapat ditemukan di blog ini.

Ah! Tipikal cocologi Islam. Cocologi, atau yang istilah kerennya Bucailleism adalah usaha untuk mencocok-cocokan agama (khususnya Islam), atau kitab suci (khususnya Qur’an) dengan fakta-fakta ilmiah. Kegiatan ini dipelopori oleh Maurice Bucaille dengan mempublikasikan buku berjudul The Bible, The Qur’an and Science yang bahwa pernyataan dalam Qur’an tidak berkontradiksi dengan sains dan bahwa isi Qur’an sesuai dengan fakta-fakta ilmiah. Ada banyaaaak sekali cocologi yang kita temui, dari yang “serius” tentang Teori Big Bang yang katanya sudah ada di Qur’an, perkembangan embrio yang katanya sudah ada di Qur’an, bumi bulat, 7 lapisan langit, sampai yang “aneh-aneh” kayak gambar satelit mengkonfirmasi bulan pernah terbelah, daging babi bahaya buat kesehatan, atau Neil Armstrong mendengar azan di bulan (eh itu masuk cocologi bukan yah?). Anyway, list cocologi (beserta debunk-nya) bisa ditemui di sini.

Mengutip blog ini, ada dua kata kunci dalam membahas cocologi; prediksi dan postdiksi. Cocologi adalah ilusi mereka yang merasa sedang melakukan prediksi, padahal sedang melakukan postdiksi. Temuan ilmiahnya ada dulu, baru kemudian diklaim cocok dengan kitab suci. Akan tetapi tidak pernah, berdasarkan kata-kata dari kitab suci, kemudian menghasilkan penemuan. Ya jelas, karena metode ilmiah harus mendasarkan hipotesis dari fakta dan fenomena yang diamati, baru kemudian melakukan berbagai pengujian untuk mengkonfirmasi hipotesis. Lalu ingat, bahwa sains selalu dapat dikoreksi. Sekarang misalkan sebuah teori sains sudah dianggap “sesuai” dengan sebuah ayat. Eh, tau-tau ternyata ada ilmuwan yang kemudian menemukan bahwa teori tersebut salah, dan menemukan fakta baru dengan penelitian yang dilakukannya. Lalu bagaimana? Sedangkan kitab suci semestinya berisi kebenaran absolut.

Ada banyak sekali orang yang senang dengan cocologi. Mereka tidak punya maksud jahat. Mereka tentu senang mendapat konfirmasi bahwa kitab suci agama yang dianutnya adalah benar, bahkan superior. Ini membuat mereka semakin semangat beribadah dan semakin yakin dengan kepercayaannya. Bagaimana bisa disalahkan? Akan tetapi di sini sains yang menjadi korban. Saya yang cuma urusan yoga aja bisa sebal, apalagi ilmuwan seperti Copernicus, Newton dan Einstein. Seperti saya yang lagi kesakitan otot hamstring dari latihan yoga, para ilmuwan ini bekerja keras untuk penemuannya. Sementara para cocolog meng-klaim kemenangan dengan mengatakan “oh itu sudah lebih dulu disebut di kitab suci”, sementara tidak satu pun pencapaian sains yang diapat dengan menggunakan kitab suci.

Ada baiknya berhenti melakukan cocologi meskipun kita pikir itu harmless. Kalau masih butuh konfirmasi sains dan pengakuan dari orang lain, mungkin Anda harus merenungkan kembali iman Anda. Anda shalat karena butuh olahraga atau karena perintah agama? Anda nggak makan babi karena takut cacingan atau karena perintah agama? Soal kenapa agama memerintahkan demikian, apakah Anda berhak mempertanyakan itu? Apakah Anda berani menilai kebenaran perintah Tuhan?

Balik ke yoga dan shalat, ada statement hebat di situ yaitu “shalat lebih canggih daripada yoga”. Masalahnya, lebih canggih dengan cara yang bagaimana itu tidak dijelaskan. Nah, kenapa saya nggak setuju. Ada beberapa hal

Pertama dari segi stretching…. Serius nih mau ngebandingin shalat sama yoga? Mendingan nggak usah kali ya?

www.athomeyoga.typepad.com

Kedua dari segi muscle endurance and strength, shalat sama sekali nggak ada gerakan yang menantang muscle endurance and strength. Gerakan shalat mungkin dianggap sama dengan yoga karena di yoga ada urutan pemanasan yang dinamakan Surya Namaskara atau Sun Salutation.

Gerakan Shalat
http://fitrianijafar.blogspot.com/2012/11/sunnah-sunnah-shalat.html
Sun Salutation
www.yogavibes.com

Bisa dilihat bahwa dalam sun salutation ada gerakan plank yang menantang core muscle, push up yang menantang lengan dan bahu, warrior yang menantang otot paha dan betis. Lebih jauh lagi, dalam yoga, cara melakukan pose benar-benar diperhatikan agar benar, dan semua otot diperhatikan dan dipakai. Dan mengapa muscle endurance and strength itu penting? Karena otot kuat, maka metabolisme tubuh semakin baik. Lebih jauh lagi, beberapa pose (yang tidak ada dalam shalat) bisa merangsang kelenjar hormon untuk berfungsi lebih baik. Dalam hal metabolisme misalnya, pose shoulder stand merangsang kelenjar thyroid yang menjalankan metabolisme.


Ketiga, balance. Shalat tidak melatih balance Anda.

Crow Pose
www.espn.go.com


Keempat, pernapasan. Di yoga, napas adalah satu-satunya yang bisa membuat bertahan. Kalau Anda nggak bisa atur napas dengan baik, wassalam. Berbagai pose dalam yoga membantu untuk lebih “terkoneksi” dengan pernapasan dan bagaimana napas mempengaruhi keadaan tubuh dan kesadaran, karena hanya dengan mengatur pernapasan lah kita bisa mencapai pose tersebut.

Hummingbird Pose
www.fitsugar.com

Kelima, manfaat cardio. Pernah ngos-ngosan karena shalat? Saya sih enggak. Tapi kalau yoga...hmm bisa sampe muka merah, netes-netes, ngos-ngosan, ampe matnya licin dah!

So, maaf ya kalau saya nggak setuju bahwa shalat lebih canggih daripada yoga. Shalat adalah shalat. Shalat adalah ibadah dan bukan olahraga, dan apakah ibadah butuh pembenaran? *elus-elus jenggot. Kalau nggak mau yoga ya nggak usah, nggak apa-apa, tapi juga nggak usah klaim bahwa "gerakan yoga udah ada di dalam shalat" apalagi lebih canggih. Bikin sebel tauk.

Catatan: Argumen mengenai cocologi saya dapat dari kawan-kawan rahasia saya di dunia maya. You probably know who you are.

Monday, July 29, 2013

Book Review: The 100 Year Old Man Who Climbed Out The Window and Dissapeared

The story ended with our (Indonesian) President Yudhoyono, requesting the main character, Allan Karlsson, the 100 year old man who climbed out of the window and dissapeared, to help him make an atom bomb.

Did you see that coming? I didn't.

SBY is cooking a nuclear project with the help of 100 year old man!
Saya prihatin :(

I bought the book because of the curious title of course. The back cover didn't explain anything in terms of what the story is about. Even if there's a synopsis anywhere, it is very minimal. What the hell is this book about? Is it a mystery? Ghost story? Detective story?

Considering I was on vacation at that time, I thought I had the spare time to find out. And so I read it.

It turns out that the book is well written. With lots of cold and somewhat sarcastic European humor (if I may?) that I liked. So yes, the story is about Allan Karlsson, a 100 year old (Sweden) man who runaway from the old's people home on his birthday and find an adventure. He didn't know where to go and what he wanted to do, and just go where his feet takes him and what his gut told him. He ended up stealing a suitcase with lots of money in it, which belongs to a drug dealer. During his run, he picked up friends, including an elephant pet. I'm gonna stop right there cause surely, you don't want me to tell you the whole story, right?

But, what's surprisingly nice for me is, that the past of Mr. Allan Karlsson was also told in this book. And because his life takes place during WW II and Cold War, there was a lot of "history" content in it. In fact, in this fictional story, Allan Karlsson take role in the world's important historical events. For example, he helped Oppenheimer make the atom bomb that blew Hiroshima and Nagasaki. In fact, he accidentally met with important people in history, General Franco, Stalin, Harry Truman, Mao Tse Tung, Kim Il Sung and (little) Kim Jong Il. That was all fun for me, until he decided to go to... Bali.

Crap! What now, do I have to go all post-modernist and post-colonialist on this book?

Well I don't know if this is a post-modernist or post-colonialist take on the story, but how the writer describes Indonesia, really makes me sad. He describes Indonesia as:

Image of "exotic Bali". Many would only remember Bali
when mentioned about Indonesia. But some,
doesn't know Bali is in Indonesia.
Picture taken from http://intrepidberkeleyexplorer.com/Page21F.html
Bali (that's one)

Stupid woman (two)

Marries a bule tourist (yep)

Corruption

Corruption

Corruption

Oh well.





To sum it up, I'm just going to quote the book for you:

"...in Indonesia, everything was for sale, and so anyone who had money could get anything he wanted." (pg. 280).

Some Indonesian might be offended and threatend to take all Indonesian people to pee on Sweden and drown it (hot headed nationalist), some might agree with that statement (Indonesians who are in denial and just couldn't deal being an Indonesian I would say), some would be just sad. Like me. I'm just sad. Like, what could I possibly say? Corruption IS a problem here and that is something that I can't deny. But having the whole Indonesia reduced and described like that is just.... saddening.


Well, the story being, that the stupid Balinese girl who married the wealthy bule, bribe her way up to the governor chair (not so stupid after all), and then monopolize the hotel industry in Bali. After Suharto takes over, she decided she wants to retire and being offered a post as an Ambassador in France. Yep, might be a "familiar" story for us, yeah?

Also, at the end, the 100 year old man who steals the suitcase full of money and kill some people along the way, Indonesia is used as an escape route. Because it is SO corrupt there, that some outlaws plus an elephant pet can get in with no problem as long as they provide bribe money. And we provide charter planes too! No questions asked. And that's how you conclude the and resolve the story of this book.

But hey, don't we all do what the writer is doing? Don't we also "reduce" countries into just names and images and brands in our minds? Argentina is Tango and soccer, Brazil is Samba and soccer, Russia is cold and communist, Thailand is Phuket and transgenders and sex, America is New York and Carrie Bradshaw, or America is cowboys and horses (or Gipsy Danger for all of you Pacific Rim geeks out there).

I personally imagine New York when thinking about United States.
Americans are smart enough to nurture this images through pop culture.
Who hasn't watch Sex and the City? Please!


And do we think of how people would feel when we use these images to describe them and their nation and their country? Nation is an imagined community but nationalism is a power not to be underestimate. So perhaps we should be more considerate? Especially if it is a negative one.

And Sweden is just IKEA! xP

Saturday, July 27, 2013

Review: Pacific Rim

Image courtesy of Dimas Subagio
http://apps.warnerbros.com/pacificrim/designer/us/

Yes! A million time yes for this movie!

Okay, I might not be the right person to review this movie, as I don't have a thing for robots, Japanese stuff, action and stuff like that. I'm just a regular movie goer.

However,...

When it comes to action movies, I have an allergic tendency towards weepy dramatic or lovey dovey scenes. You can probably guess then, that I hated Superman and Spiderman and love Iron Man. I also hated Fast & Furious 1, 4, 6 and absolutely love 2, 3 and 5. (or maybe that's too complicated to guess?).

Pacific Rim is just perfect.

1. Full action! The main character doesn't even kiss, but we know that they're.. you know... A lot of the good guys are dead, but there's no dramatic weeping. At all. And you know those scenes, where the good guy is on the edge of danger, but still make time for a dramatic dialogue? There are no such thing in Pacific Rim. HALLE FRIKKIN LUYAHH!

2. The movie does not let us ask questions and complain about the scientific logic (like what happend to TRON for me) by not trying to explain the scientific details. They don't even go there, and just let it be. Let it be. Don't even go there. Don't even question why are there this huge monster came out of the ocean, and how the hell do connect human minds to control robots and why. They just provide necessary explanation (minimum), and you can just enjoy the awesome action. Which are AWESOME.

3. For those of you who enjoys beautiful men on your screen, you will not be dissapointed. The beautiful Aussie father-son, and ahem, Charlie Hunnam who will make you Channing all over his Tatum (he looks like a beautiful version of Channing Tatum. Versi tampan dari Channing Tatum)

4. The girl. Right on for the Mako Mori character. She's perfect, and adding value to the movie instead of distraction.

So what? It's a 5 star for me. And yes, do watch them on IMAX if you can. The action matters.


Sunday, July 21, 2013

Tentang JJS di mall yang diganggu todongan sumbangan :)

Bagi para fellow Jakartans, pasti pernah menemui para penggiat sumbangan, entah itu di trotoar, jembatan penyebrangan, di mall atau dimana pun, tapi mostly di trotoar, jembatan penyeberangan atau di mall. Entah itu UNICEF, WWF, Greenpeace, yang minta sumbangan soal anak-anak, penyakit, lingkungan, apapun lah segala masalah di muka bumi ini. Masalah-masalah yang mengerikan dan tidak manusiawi, akan tetapi apakah itu membuat kita para kaum beruntung ini boleh diterror di ruang aman kita? Warning, I am going to be such a selfish bitch in this post.

Gak usah ngomongin para pengemis dan anak jalanan lah ya, yang kalau kata salah satu teman saya mereka “nyari makan dengan cara gangguin orang makan”. Kita bisa nggak habis-habis ngebahas soal itu yang masalahnya berlapis-lapis kayak bawang. Saya mau ngomongin para peminta sumbangan untuk organisasi-organisasi penggiat kemanusiaan atau lingkungan yang lebih mapan.

Ok, nggak ada salahnya dengan mencari sumbangan, sumbangan itu dibutuhkan agar organisasi tetap bisa berjalan dengan kegiatannya. Tetapi masalahnya dengan menodong sumbangan di trotoar, jembatan penyeberangan atau mall adalah, Anda sebetulnya nggak tau siapa yang Anda todong.

Sebagai contoh, saya sendiri. Saya kerja di bidang kehutanan dan lingkungan meskipun perusahaan tempat saya kerja profit oriented. Terkadang, kami kerja buat NGO. NGO membayar kami untuk melakukan berbagai pekerjaan yang penting untuk menyelamatkan hutan di Indonesia (du du du du du du du…. :p). Jadi, bayangin ketika saya dihentikan oleh para penggiat sumbangan dari WWF atau Greenpeace, yang bahkan kadang orangnya bukan dari WWF atau Greenpeace sendiri, akan tetapi sales person yang mereka bayar aja, untuk DIKULIAHI soal keadaan mengenaskan hutan atau binatang di Indonesia (seriously?!) terus ditodong menyumbang (dengan pushy) untuk dana project mereka (seriously?!).

Terus gimana kalau ditodongnya untuk hal lain, seperti anak-anak, pendidikan atau kesehatan. Excuse lain yang saya punya untuk hal ini adalah, well, ada begitu banyak masalah di muka bumi ini dan saya udah memilih satu (atau dua, atau tiga). Tidakkah saya berhak untuk boleh nggak memusingkan masalah lain dan membiarkan orang lain memecahkannya? Bukan berarti saya nggak mendukung lho, tapi resource masing-masing orang terbatas, dan mau nggak mau kita harus set prioritas. Nggak mungkin kita mau memecahkan semua masalah di muka bumi ini.

Hal lain adalah, apakah project-project si NGO itu sesuai dengan aspirasi kita dalam memecahkan masalah? Sebagai contoh, waktu itu saya pernah ditodong NGO yang ngurus anak jalanan (atau anak-anak yang nggak diinginkan, something like that, gw lupa) dengan memberikan mereka tempat berlindung, sekolah, yada yada. Pokoknya dari speech si orang itu, inti masalahnya yang gw tangkep adalah: orang-orang nggak mau KB, dan bahwa project si NGO ini adalah taking care of irresponsible people’s shit. Yes, they need to be taken care of, tapi enak banget yah, dan tidakkah ini membuat mereka jadi tetap irresponsible? Jadi gw tanya, gimana dengan sosialisasi soal KB, apakah termasuk dalam program? Dia bilang enggak.

I know what you’re probably thinking, kalo nggak mau nyumbang ya udah yu, nggak usah nyumbang, ngapain complain panjang lebar begini sih! Well, kalau Anda adalah salah satu orang yang pernah disetop orang-orang ini, Anda akan tahu betapa nggak nyamannya situasi yang Anda hadapi.

Pertama: Anda harus berhenti dan mendengarkan kuliah, padahal Anda lagi buru-buru, sibuk atau lagi santai nggak mau mikirin masalah dunia, karena dari Senin sampai Jumat Anda udah sibuk mikirin masalah dunia. Kuliah yang terkadang Anda nggak perlukan.

Kedua: Cara nodong sumbangannya nggak manusiawi. Sama sekali tidak menerapkan prinsip free, prior, informed consent. Setengah dipaksa, Anda berada di bawah tekanan untuk menyumbang, dan berada dalam posisi awkward untuk bilang Anda nggak mau, dan Anda diminta menjelaskan kenapa Anda nggak mau menyumbang. Whaaaat?

Ketiga: kalaupun Anda berhasil menolak untuk dihentikan, udah pasti itu dengan cara yang nggak sopan. Anda dipaksa untuk kasar dan nggak sopan sama orang, dalam hal ini, si sales person tersebut.

Yep, yep, all petty little problems yang kita kaum beruntung ini harus alami. Kita yang bukan spesies orangutan dan kita yang bukan anak jalanan ini. Menghadapi 10 menit awkward moment di jalanan! Oh! :D

Ada banyak masalah dengan menyumbang. Kalau kita udah kenal dengan yang namanya akuntabilitas (yaiks), kita akan khawatir tentang; bener nggak duit sumbangan dipake buat project, bener nggak project memberikan impact yang positif, bagaimana cara saya memeriksa semua itu? Sedangkan ini adalah salah satu hal yang tidak pernah ditawarkan oleh para penodong itu: How do I check on you?

Jadi sebetulnya masalah saya adalah, selain metode pemaksaan yang diterapkan orang-orang sales itu, mereka tidak memberikan informasi yang justru penting. Ok, tolong kasih tau: uang saya ini mau dipakai untuk apa persisnya (kegiatan apa, dimana), kenapa project itu penting dilakukan, dan bagaimana saya memeriksa larinya uang saya dan juga performance Anda?

Metode memaksa juga buat saya sangat nggak asik. Bisa nggak sih saya cukup dikasih informasi, bagaimana caranya saya menyumbang yang paling gampang (dan semoga tidak berupa charge bulanan di kartu kredit saya), silakan menyumbang jika saya mau, kalau mau pulang dulu dan pikir-pikir silakan, dan tidak ditodong on the spot seperti itu. Saya pikir itu akan sangat mengurangi ketidaknyamanan orang, dan orang akan lebih ikhlas mendengarkan “kuliah” yang ditawarkan, dengan mengetahui bahwa kebebasan masih kita miliki dan tidak terenggut ketika kita dihentikan dan mendengarkan kuliah tersebut. (Tentunya ini banyak berhubungan dengan metode “target” yang diterapkan saat meng-hire orang-orang sales).


Tidakkah itu membuat semua orang lebih nyaman? Atau apakah itu mengurangi jumlah sumbangan yang dikumpulkan?