Sunday, October 6, 2013

Seri Kawinan #3: Vendor Catering dan Dekorasi

Catering adalah vendor kedua setelah gedung yang harus dipilih karena ini adalah potongan terbesar dari keseluruhan acara dari segi tanggung jawab dan biaya. Karena biasanya mereka menawarkan paket dan agar menghemat waktu dan tenaga, untuk dekor dan make up, ikuti dari catering saja. Saya menyesal karena selama ini ke kawinan nggak pernah merhatiin nama dan kualitas dari catering. Hanya waktu ke kawinan teman saya Indon aja saya merhatiin cateringnya, soalnya: ENAK BANGET bo! Sampai sekarang masih terbayang-bayang kambing gulingnya. Si Indon make vendor catering yang usut punya usut (browsing di weddingku), ternyata adalah salah satu vendor yang sedang naik daun di Jakarta.

Jadi hal pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan informasi via internet. Website weddingku sangat membantu, karena di situ kita bisa membaca komen langsung dari pengguna vendor-vendor itu dan juga mencari vendor yang track recordnya bagus. Dari hasil browsing, saya langsung mengincar si catering yang dipakai Indon dan beberapa catering yang namanya paling sering disebut. Nyokap yang berhubungan dengan pihak gedung (venue saya di PU) juga diminta mencari vendor catering dari gedung dan dihubungi oleh salah satu catering.

Untuk menghemat waktu, ketika menghubungi catering, langsung minta penawaran harga (paket saja untuk langsung bisa bikin perbandingan) dan jadwal untuk test food. Usahakan untuk mencicipi makanan saat ada pesta karena seperti kata teman saya Windy “kan masak buat 5 orang sama masak buat 800 orang beda ya bo”. Catering pertama yang saya cicipi bersama nyokap adalah catering yang dicarikan pihak gedung. Untuk dekor, dia relative ok meskipun agak aneh karena ada dekor bergaya Bali meskipun kayaknya acara mantenannya bukan Bali. Tapi venue gedung pendopo PU yang menurut pengalaman berpotensi menjadi “sempit dan suram” jadi cukup terang dan lega dengan pilihan warna putih dan gold dan pelaminan warna putih. Mbak marketingnya juga sangat kooperatif dan mudah diajak bicara. Sayangnya ketika mencicipi makanannya, kurang sedap. Tidak sampai nggak enak sih, tapi juga kurang terasa sedap. Harga memang relative murah. Paling murah daripada semua quotation yang saya terima, dan lokasi kantornya terjangkau dari rumah.

Vendor catering yang ngetop yang dipakai teman saya Indon, mengirimkan penawaran harga. Harganya paling mahal meskipun tidak begitu jauh mahalnya daripada yang lain. Sayangnya ketika saya minta jadwal test food, nggak dikasih sama sekali sampai sekarang. Barangkali saking banyaknya peminat kali yah. Karena saya nggak ada waktu buat ngejar-ngejar vendor somse macam begini, akhirnya saya relakan untuk tidak pakai si catering enak ini.

Lalu test food berikutnya adalah vendor yang akhirnya saya pakai maka saya sebut namanya di sini yaitu Chikal. Selain si vendor ngetop, Chikal adalah catering lain yang paling sering disebut oleh capeng lain di weddingku. Akhirnya saya meminta penawaran dan jadwal test food, kemudian tidak lama saya dikasih penawaran dan test food di gedung Pertamina Simprug. Waktu mau test food tapinya nggak ada kabar di sana saya harus ketemu siapa dan bagaimana. Ketika saya coba telepon juga tidak diangkat. Laah, gimana ini, apa saya harus nyusup ke kawinan orang ya. Akhirnya ya sudahlah, dengan nekat saya dan nyokap dateng ke kawinan ini dan pura-pura jadi tamu. Pada saat masuk, dekorasinya bagus tapi bukan selera saya. Jadi untuk urusan dekorasi saya tidak begitu terkesan. Apalagi kain yang dipakai untuk taplak dan kanopi adalah kain mengkilap yang menurut saya tampak kurang elegan. Tapi begitu nyoba makanannya, wah, langsung terasa bahwa masakannya sedap. Pacar saya (suami) selalu menggunakan nasi goreng sebagai patokan menilai sebuah masakan, dan Chikal melewati tes nasi goreng dengan sangat sukses. Makanan lainnya juga sedap dan Ibu saya memerhatikan bahwa makanan cepat habisnya karena memang rasanya enak. Kru juga sigap membersihkan piring dan pesta terlihat rapi. Harga pun dia termasuk kedua termurah dari berbagai penawaran yang saya terima. So far bagus sekali, tapi saya agak khawatir karena komunkasi buat saya kurang lancar dan markas Chikal cukup jauh dari rumah saya.

Setelah dua itu, ada satu catering lagi yang saya incar, dan saya senang dengan catering ini karena komunikasi dengan salesnya sangat lancar. Review di weddingku juga bagus. Sayangnya jadwal test food yang ditawarkan amat sangat jauh dari rumah saya. Jadi saya nunggu jadwal test food di daerah Jakarta Selatan. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ada juga. Saya ke sana lagi-lagi bersama nyokap, agar penilaiannya setara dengan yang lainnya. Melihat dekornya rasanya biasa saja dan ketika dicicipi makanannya, tidak sampai tidak enak sih, tapi rasanya di bawah Chikal. Nyokap malah lebih kecewa daripada saya dan tidak merasa sreg dengan catering ini. Padahal saya merasa nyaman sekali dengan komunikasi yang terjalin dengan salesnya dan lokasi kantor mereka tidak terlalu jauh amat.

Karena kecewa dengan catering yang terakhir dicoba, nyokap mengajak untuk test food ke catering yang pernah dipakai salah satu sepupu saya dan mendapat review yang cukup baik. Saya terus terang waktu kawinan sepupu saya yang itu belum kepikiran buat kawin dan belum memerhatikan vendor-vendor jadi saya tidak ingat bagaimana kualitasnya. Yah setidaknya berarti catering ini tidak jelek kan. Nyokap sih sebagaimana saya merasa nyaman dengan sales catering sebelum ini, merasa nyaman dengan pemilik catering yang ini yang merupakan seorang ibu-ibu dan markas catering ini amat dekat sekali dengan rumah. Tapi ya bo, test foodnya… di Cinere. Okelah, ini usaha terakhir. Saya dan nyokap ke sana. Untuk makanannya, lagi-lagi nggak jelek, tapi juga buat saya tidak sedap sekali dan kalau dibanding Chikal juga masih di bawahnya. Tapi pesta itu, selain dari makanannya, benar-benar membuat saya ngeri. Katanya sih si catering hanya bertanggung jawab untuk makanan, sedangkan yang lain-lainnya dikerjakan vendor lain. Pesta yang buat saya mengerikan ini jadinya saya gunakan untuk pembelajaran saya bukan untuk menilai si vendor catering ini. Soalnya waktu sepupu saya, pestanya sama sekali nggak kacau begini kok. Untuk detailnya, bisa dibahas di masing-masing tema nanti.

Jadi setelah test food yang terakhir ini, saya memutuskan memakai Chikal dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Telepon orangnya, bayar DP kemudian saya diminta ke kantor mereka untuk membicarakan rinciannya. Nah ini dia nih, yang pe’er, tapi nggak apa-apa lah demi. Dengan ditemani sepupu saya yang sangat baik hati dan mau membantu saya mengurusi semua ini, kami ke sana lah. Chikal juga punya sanggar sendiri yang mengurusi soal perdandanan. Sampai di sana, saya agak kesulitan menyampaikan konsep yang saya inginkan dan si mas-mas yang mengurusi saya pusing banget dengan permintaan saya yang menghilangkan ini itu yang sifatnya standard ada di pernikahan (nanti baca detilnya di acara dan dekorasi). Selain mereka jadi harus “mikir” dengan konsep pesta yang berbeda, mereka juga ngeri kalau performance mereka jadi tidak bagus dan orang akan menilai mereka jelek. Ya, konsep pesta yang “baru” atau “berbeda” memang membutuhkan pemikiran matang. Akhirnya saya pakai bantuan WO yang merupakan teman saya di kelas dansa, tapi itu cerita lain. Setelah struggling menyampaikan maksud dan keinginan saya, performance Chikal di pesta saya melebihi ekspektasi! Makanan jelas ok, dekorasi sangat indah dan sesuai selera saya, dan make-up memuaskan.

Dari paket yang ditawarkan Chikal dan saya bayarkan, saya hanya ambil makanan, dekorasi dan dandan. Paket foto dan video saya ubah jadi kambing guling dan bonus MC tidak saya ambil. Ini karena suami saya kerjanya di bidang film, performance, communication dan art, maka urusan foto, video dan MC itu departemennya dia lah, dan jelas dia nggak mau terima yang standar vendor kawinan pada umumnya.
Karena tamu saya terbagi dua, akad dan resepsi (untuk menanggulangi masalah aula gedung yang tidak terlalu besar), makanan atas saran WO diatur seperti ini:
  • Pagi setelah akad jatah bonus sarapan soto 100 porsi, ditambah bonus buffet keluarga 100 porsi yang diubah menjadi 100 porsi lontong cap gomeh (pagi-pagi buffet belum selesai dimasak), ditambah 4 pondokan (siomay, roti jala, chicken cordon blue dan pasta).
  • Resepsi yang siang hari, buffet dibuka ditambah 4 pondokan lainnya (kambing guling, Korean bbq, poffertjes, es puter).

Dengan pengaturan ini, sampai akhir pesta, semua tamu masih kebagian makan tapi sisa makanan tidak terlampau banyak. Saya sangat-sangat puas dengan semua ini dan feedback dari tamu juga mengatakan makanannya ok, malah katanya roti jalanya “enak Masya Allah”.

Kesimpulannya: saya sangat hepi dan puas dengan Chikal. Untuk dekor dan make up akan dibahas dalam postingan yang berbeda.

Seri Kawinan #2: Venue

Venue adalah hal pertama yang harus dipilih. Keputusan lain-lain baru bisa dibuat setelah membuat keputusan mengenai venue. Gedung biasanya memiliki rekanan catering, dan setelah memutuskan gedung lalu catering, baru hal-hal lain bisa bergulir. Tapi untuk bisa memutuskan venue, harus tahu dulu jumlah undangannya ada berapa. Kami sepakat untuk dibatasi saja 300 undangan karena budget juga terbatas sekali, dengan pembagian: 100 untuk masing-masing ortu dan 50 untuk masing-masing kami.
Hal lain yang kami putuskan dan kami keukeuh dengan ini adalah, lokasi harus strategis. Lagi-lagi demi kenyamanan para tamu kami memutuskan daerah paling strategis adalah Jakarta Selatan (Senayan dan sekitarnya, huehehehe, kayaknya subjektif ya). Tapi iyalah, menurut kami daerah ini adalah yang paling netral dengan lingkungan yang cukup ramah.

Gedung pertama yang kami taksir adalah Granadi. Dengan lokasi yang masih di tengah, aula yang indah dan lapang dan juga ada balkon penonton yang tadinya membuat CPP bersemangat, Granadi memang sangat ideal. Tapi kenyataannya adalah, Granadi mahal sedangkan kami nggak punya budget, dan antriannya panjang. Jadi impian untuk pakai Granadi kami lupakan. Apalagi rencana awalnya kami cuma mau nyebar 300 undangan, takutnya gedung yang terlalu lapang akan membuat pesta jadi tidak meriah.

Carakaloka adalah gedung kedua yang dari segi lokasi sangat ideal karena ada di seberang kantor CPP. Sayangnya gedung milik Deplu ini sedang berganti pengurus dan tidak disewakan ketika kami sedang sibuk mencari venue. Ada beberapa gedung lain di daerah Senayan, tapi entah kenapa saya nggak minat meriksa (Manggala Wanabakti, Aula Serbaguna Senayan, Menpora). Aula Masjid Al-Bina juga cukup ok dan murah, tapi saya malas bikin pesta di masjid karena takutnya ada berbagai restriksi terkait pestanya. Apalagi masjid adalah tempat “umum” sedangkan saya ingin pesta saya private.

Akhirnya yang paling keren adalah nyokap. Saat rencana baru mulai diwacanakan, dilamar aja belum nih, suatu hari sepulang rapat pensiunan UN di daerah Al-Azhar, nyokap inisiatip mampir ke pengurus gedung PU dan ujug-ujug booking tanggal! HWAKAKAKAKAK. Gedung Pendopo PU hanya disewakan kepada orang-orang PU (bokap pensiunan PU), harga sewanya sangat-sangat murah, tidak perlu pakai DP, jadi nyokap langsung aja booking. Kalaupun tidak jadi kan tinggal dibatalkan saja.


Saya ingat pernah ke kawinan teman di gedung ini. Dan memang aulanya cukup seadanya dan tidak begitu besar dengan langit-langit rendah. Tapi toh undangan kami juga rencananya akan dibatasi tidak banyak, jadi saya pikir paling dekorasi harus ok. Tapi ok nggak ok, itulah yang kami bisa dapatkan dari segi waktu dan biaya. Berikutnya adalah mencari vendor catering dan dekorasi yang biasanya satu paket.

Seri Kawinan #1: Konsep

Pernikahan impian saya dan (waktu itu) calon suami adalah pergi ke KUA di suatu hari (hari kerja bukan akhir pekan), bersama hanya orang tua dan saksi kemudian selesai. Kita pulang lalu mungkin makan bersama di restoran, atau makan bersama di rumah. Betapa simpelnya dan bebas tektek bengek. Nggak romantis? Emang. Kami orangnya emang santai dua-duanya, dan kami tidak merasa memerlukan syahdu-syahdu-an. Tapi tentunya ide kami ini HOROR buat orang tua. Saat saya bilang ke nyokap, doski langsung mem-veto dan mau mengadakan acara akad nikah di rumah. Waktu kakak saya yang perempuan menikah, seluruh acara diadakan di rumah dan disiapkan dalam waktu 2 minggu saja. Terburu-buru karena calon suaminya yang orang Spanyol nggak bisa lama-lama di sini dan kakak saya mau diboyong ke Spanyol setelah menikah (ya iyalaaah). Nyokap janji bikin acara di rumah itu “gampang” kok.

Ya, gampang kalau setelahnya tidak ada resepsi lagi di gedung. Masalahnya karena kakak perempuan saya tidak resepsi di gedung, dan kakak saya yang satu lagi laki-laki, nyokap sangat ingin agar saya punya pesta pernikahan di gedung. Nah, barangkali kalau dari awal saya bersedia akad nikah di gedung, rencana akad di rumah itu tidak akan muncul. Mungkin ada beberapa hal mengenai ide menikah di KUA yang harus saya ceritakan. Terus terang saja, kami ingin berusaha menghentikan “ritual” korupsi, dengan meng-“cut the crap” acara akad nikah nan syahdu yang membuat penghulu merasa sok penting dan berhak meminta tip banyak-banyak. Kalau kami yang nyamper ke kantornya dan semua administrasi dilakukan di kantor si penghulu, harusnya celah untuk korupsi semakin sempit daripada seluruh upacara pernikahan syahdu-syahdu-an di gedung. Lalu kedua, saya ingin nikahnya di KUA Tangerang saja, yang harapan saya “biaya”nya tidak setinggi KUA Jakarta Selatan. Sepupu saya dapet penghulu yang paling cunihin sejagat waktu menikah di Jakarta Selatan (rasanya tidak perlu saya ceritakan secara detail) dan membuat saya merasa alergi dengan KUA Jakarta Selatan. Jadi itulah latar belakang cerita mengapa awalnya saya tidak mau akad nikah di gedung.

Akan tetapi, dengan adanya dua acara (rumah dan gedung), membuat semua orang merasa repot harus datang dua kali. Apalagi acara akad direncanakan hari Jum’at dan rumah saya jauh. Akhirnya, rasa empet dengan korupsi harus ditekan dan perjuangan memeranginya harus disalurkan dengan cara lain dan kami memutuskan untuk melangsungkan akad nikah di gedung saja. Syukurlah, laporan dari abang saya yang survei ke KUA Jaksel mengatakan bahwa pelayanan di sana baik sekali. Mungkin gara-gara Jokowi-Ahok! Maka saya juga berhutang terima kasih untuk Pak Jokowi dan Pak Ahok. Makasih ya Pak! J

Lalu bagaimana dengan pestanya sendiri? Kalaupun harus pesta…. Hmm.. idealnya sih buat kami nggak usah ada pesta dan uangnya buat DP rumah aja, hehehe. Tapi let’s face it, orang-orang yang kami kedua mempelai, dan orang tua sayangi ada banyak sekali dan kami ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang tersebut. Jadi…pesta yang saya inginkan (ya, saya…bukan kami, hwekekek) idealnya sebetulnya garden party. Karena semuanya sangat santai dan juga secara estetika, sesuai dengan selera saya. Awalnya saya sempet survei venue-venue garden party. Hanya saja memang kebanyakan tempat-tempat seperti itu hanya menampung sedikit orang. Lalu ketika saya menghadiri beberapa pernikahan teman dengan konsep itu…astajiiim, panasnya udara dan betapa tidak nyamannya. Sementara buat kami, yang amat sangat terpenting adalah kenyamanan para tamu. Kami memang secara umum tidak begitu bersemangat menghadiri pesta-pesta pernikahan, jadi kami hanya ingin agar tamu kami nyaman. Itu adalah gol nomer satu!

Lalu bagaimana dengan ide dari calon mempelai pria? Lagi-lagi inspirasi didapatkan ketika menghadiri pernikahan teman di Gedung Granadi. Aula Granadi memiliki balkon tempat penonton seperti aula untuk menonton opera, dan memang ada panggungnya. Ide dari CPP yang seorang film maker dan juga anak teater adalah, konsep “menonton pertunjukan”. Jadi tamu datang seperti untuk menonton teater. Pertunjukkannya inginnya wayang orang, karena CPP punya hubungan baik dengan kelompok wayang orang dari Muntilan. Akan tetapi konsep ini eksekusinya mahal, karena aula seperti Granadi begitu sewanya mahal, dan juga kami harus membayar honor dan ongkos para pemain yang pasti mahal, begitupun segala macam ongkos produksi yang lain. Tentunya makanan juga tetap harus kami sediakan. Bayangkan berapa total biaya untuk produksinya. Sementara budget kami sebetulnya adalah 0, dan semua biaya adalah hasil korek-korek sana sini. Tapi meskipun ide ini tidak jadi, kami setuju bahwa a good show atau hiburan yang bagus merupakan salah satu servis yang penting untuk membuat tamu nyaman dan merasa worth it untuk menghadiri pesta pernikahan.

Kemudian, hal lain yang juga kami tidak sukai adalah betapa seringkali (tidak semuanya), pengantin menjadi zombie di hari pernikahannya, di atas pelaminan, karena harus menghadapi antrian tamu yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan itu. Kami mengundang tamu atas rasa sayang dan ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka. Maka kami sangat ingin tetap “terkoneksi” dengan tamu-tamu kami dan dengan tulus menyambut mereka dan berbagi cerita juga. Jadi saya tidak ingin konsep duduk di pelaminan. Buat saya jadi manten itu bukan menjadi raja dan ratu sehari dan diperlakukan sebagai raja dan ratu yang berjarak dengan si rakyat jelata. Saya ingin tetap menjadi diri saya sendiri dan saya ingin bisa mengekspresikan kebahagiaan dan rasa sayang saya pada tamu-tamu saya.

Apa lagi? Jarak antara akad dengan resepsi dan mengganti baju setelah akad nikah untuk resepsinya. Saya tidak merasa perlu punya dua baju yang berbeda. Saya ingin praktis, satu baju saja, satu dandanan saja. Jadi saya ingin agar setelah akad nikah berlangsung, habis itu langsung resepsi saja. Tidak perlu balik ke ruang make-up dan kemudian masuk lagi dengan kirab yang formal. Resepsi yang saya maksud juga santai, menyapa tamu-tamu, menerima ucapan selamat dan foto bersama yang sifatnya spontan. Kami juga paling benci acara foto bersama yang terkesan sebuah kewajiban dengan MC memanggil-manggil macam di terminal bus saja.

Kemudian pemilihan waktu pun juga senyaman mungkin untuk tamu. Minggu siang kami anggap paling cocok, karena lalu lintas tidak sepadat Sabtu dan malam harinya orang masih bisa istirahat untuk berangkat kerja di hari Senin.

Jadi pendeknya, konsep acara santai, cut-the-crap, dan banyak hiburan dan sosialisasi. KISS = Keep It Simple Stupid. Urutannya: akad nikah kemudian langsung bablas resepsi santai, dan foto-foto spontan.

Untuk detail eksekusi dari konsep ini, ikutilah terus blog ini.

Seri Kawinan #Introduction

Ini adalah beberapa catatan mengenai pesta pernikahan saya yang dibagi-bagi dalam beberapa tema agar lebih mudah dan fokus menulisnya. Pernikahan saya baru saja berlangsung saat blog ini ditulis dan karena saya dan keluarga cukup hepi dengan pestanya, maka saya mau share mengenai proses dan eksekusinya. Tentunya selera setiap orang beda, dan impian pesta pernikahan setiap orang juga pasti beda-beda. Syukurlah semua hal yang terjadi di pesta saya sesuai dengan keinginan dan bahkan lebih baik lagi. Blog ini ditulis juga sebagai ungkapan terima kasih pada para vendor yang sudah mewujudkan keinginan saya. Semoga pembaca dapat menikmati tulisan ini.



Wednesday, September 4, 2013

Really seeing Indonesia?

When two German guest came to Indonesia and one of them has never been to Indonesia before, her fellow foreigner (from US), who is actually an expatriate working here and not just visiting, commented; “Oh how lucky are you to come here for the first time and get the chance to see Berau. You are really seeing Indonesia!”

Berau is a district in East Kalimantan, where there’s lots conservation/forestry/oil palm projects. The island in the district called Derawan is also a popular diving spot for tourists. I was accompanying these guests to go there and well…do stuff (you know, conservation stuff…not tourism stuff)

That's where Berau is
en.m.wikipedia.org

The comment from the US expatriate is embedded in my memory, maybe because I can reflect on how true (or untrue) it is.

Indonesia, is very vast, very heterogenic and very plural, that you cannot claim that you have seen Indonesia, only by visiting, Jakarta or Bali, or Berau, or Aceh, or Papua alone. I, who have been living here all my life, have never seen Indonesia. I’ve lived in Jakarta, I’ve been to several cities in Java and Bali, and Sumatra, I’ve visited (only) plantations or factories in Kalimantan and Sumatra, but there are lots of other place (too many!) that I have not seen.

One of the images you will get if you google "Indonesia"
www.hdwpapers.com

However, referring to the expatriate’s comment, I myself, even though not a foreigner (but I’m a Javanese born in Jakarta, so what do I know about Indonesia other than Java!), have been lucky enough to see Berau, Muara Wahau, Sampit, Lubuk Linggau, Kembang Janggut, Kerinci, Buatan, and other remote places. Why lucky? Because most people rarely seen, rarely know, rarely can imagine how these places looks like. Hell, most people may not have these places in their minds at all. And when you have been to these places, the concept and image of Indonesia that you have may be deconstructed, and you may have to revisit them (unless you are a hardcore activist, with only NGOs report as reference instead of tourism brochures). So yes, maybe one could say that if you have visited Berau, then you would have a good counter image of Jakarta and Bali.

Unfortunately, this is one of the view of Berau District :(
Image courtesy of Fabian Schmidt

So in way, the expat’s comment can be so true, even though we can argue that Berau doesn’t represent Indonesia as a whole either. Well, there’s nothing wrong by never really see Indonesia, who have the time to do that anyway, but I personally feel that seeing a “different” image of Indonesia made me have…a different perspective, that’s all. A different perspective of my existence and being, in this country, in the world, and in the universe eventually.


Have you had an experience being in a place that made you reflect on yourself?

Thursday, August 29, 2013

A License to Judge People? :)

A friend of mine once said that I can come and judge a society because I have a degree specifically on that. I can say "Dude, I'm judging you and I can! I have a degree for that!" Haha. Yes, I have a degree on Anthropology, a science which tries to figure out human beings. That's just about it. Human beings. Anthropos.

Spending almost 4 years in college, learning a science of unravelling the nature of human being, seeking pattern in their behaviour and trying to describe and explain "culture", you would think that I, the person who manage to hold a degree on anthropology, would be able to explain human beings and culture a lot easier than those who doesn't. While this may hold true for other anthropologists out there, it is just completely the opposite for me. But maybe I'm just a really crappy anthropologist :)

I have met a lot of people who would talk a lot about what they know and what they think, about people, society and culture. They would speak in a very confident manner, going through various topic about various people and society. Most of the time, I just listen and most of the time, I didn't and couldn't reciprocate. I would have this complicated toughts racing in my head, faster than I could understand it and a lot faster than I could articulate it.

Why? Because the first thing I learned from my anthropology courses is that: I don't know a damn thing about people. People and society are just....complicated.

First of all, do you know that there are more than 400 definitions of culture? So when somebody ask a question that they considered simple question "what is culture?" I would just think "well, shit".

Second, anthropologist spend years, and I mean years, doing research in a society until they are confident enough to write an ethnography (a description) about what they think (what the anthropologist think) about that particular society (only that particular society). In anthropology, we learn about cultural relativism, we learn about ethnographic method, we learn about how careful we must be in drawing a conclusion about a society. Almost the same with how careful a chemist must be in creating a chemistry experiment; taking notes, ensure safety, selecting the right tools, ensure the tools are clean, ensure the measurement is correct, etc. The different is, we cannot measure "people" with a beaker glass or scale and we cannot label them with alphabets and make equation out of them. The only tool an anthropologist has is him/herself; his/her senses and his/her judgement.

I don't actually know what I wanted to say in this post, except that sometimes, people who doesn't take such careful measure before judging something bothers me. A lot. I myself still make this mistake sometimes; too easy in judging something, but I try not to and I am lucky to have a wise person in my life to always remind me :) But some people...doesn't even try, and can't be reminded of it. And that bothers me.

Friday, August 16, 2013

Beda Yoga dengan Pilates

Yoga dan pilates amat sering dibandingkan dan dianggap mirip satu sama lainnya. Saya sendiri awalnya nggak ngerti bedanya apa, well…sampai sekarang juga nggak ngerti-ngerti amat sih bedanya apa, secara saya juga bukan instruktur yoga apalagi pilates. Jadi mendingan Anda nggak usah jadi baca tulisan ini deh, hehehe. Tulisan ini bukanlah pendapat ahli, hanya refleksi pengalaman dari orang awam yang pernah mencoba dan mempraktikan kedua jenis olah tubuh ini ditambah kegemaran meng-google dan membaca-baca. Tulisan ini juga bukan dimaksudkan untuk memberikan opini berimbang karena saya jelas-jelas penggemar yoga.

Pengalaman saya mencoba yoga dan pilates adalah di kelas salah satu gym yang pernah saya jajal kira-kira 4 tahun yang lalu. Saat mencoba kedua kelas ini, saya berada dalam kondisi tidak fit; nggak pernah olahraga, makan tidak diatur baik jumlah maupun jenisnya, dan usia juga membuat saya makin kehilangan metabolisme tubuh yang baik. Pertama dicoba, kelas yoga. Perasaan selama kelas adalah ngos-ngosan, keringetan dan otot jerit-jerit karena dipaksa kerja, dan tentunya saya pingin banget nonjok si instruktur yang perilakunya tenang macam air itu. Tapi setelah kelas, wuaah, kok rasanya badan enak dan lega ya, semua otot rasanya terrenggang dengan baik. Minggu depannya, nyoba kelas pilates. Ternyata kelas ini lebih bikin nangis, tapi saya nggak berani kepingin nonjok si instruktur, soalnya doski adalah alpha female yang sangat galak. Sepanjang kelas perintah-perintahnya ala ospek senior yang kalo di antrop UI, dinamakan “pos bangsat” dan doski juga nggak ragu-ragu ngatain “gendut”, “badannya berat sih”, dan “abis ini makannya kwetiau goreng ya”. Saya cinta banget sama si instruktur ini! :D  Keringet mengucur super deras, dan setelah kelas rasanya otot sakit semua dan capek. Lalu….besoknya otot paha saya super sakit dan saya nyaris nggak bisa jalan apalagi naik turun tangga selama 2 hari. Dua hari itu saya jalan dan naik turun tanggal kayak nenek-nenek. Pengalaman tak terlupakan.

Waktu berlalu, saya berhenti nge-gym, lalu mulai lagi, lalu berhenti lagi, lalu mulai lagi. Kali ini dengan kekuatan penuh; les dansa, rutin treadmill + strength training, plus yoga seminggu sekali karena kebetulan ada kawan-kawan yang ngajakin untuk patungan manggil instruktur yoga. Pengalaman yang dirasakan masih sama, sepanjang kelas mau nangis dan keringet bercucuran, tapi setelahnya badan terasa enak, lega dan ringan. Saya bersemangat banget ikutan yoga karena saudara-saudara, saya payah banget di dansa karena tidak punya postur, keseimbangan dan core strength yang baik.

Lalu, ngobrol-ngobrol dengan kawan saya si dokter olahraga, dia menyarankan untuk melakukan pilates aja kalau memang tujuannya untuk memantapkan kebisaan berdansa. Senam pilates memang banyak digunakan oleh penari karena berfokus pada postur, keseimbangan dan terutama sekali adalah core strength. Jadi…saya mencari di youtube, video pilates untuk pemula. Mencari video instruksi senam adalah kebiasaan baru yang saya lakukan dan sudah saya lakukan untuk yoga, buat nambah-nambah rutinitas sama instruktur sekali seminggu. Terus ketemu lah satu video pilates untuk pemula yang kemudian saya praktikan. Dan yak, perasaannya masih sama. Otot-otot, terutama otot perut, paha dan pantat berasa dihajar bener (padahal cuma setengah jam latihannya), dan di akhir latihan, rasanya cuma bete dan sakit.

Pilates juga menggunakan alat untuk membantu allignment tubuh
www.pilatesofdunwoody.com

Berdasarkan pengalaman melakukan latihan pilates (yang cuma 2 kali itu), dan yoga, kalau boleh saya membandingkan, di yoga jauuh lebih banyak perenggangan, sedangkan di pilates jauuuh lebih banyak crunching (maaf saya nggak bisa nemukan padanan dalam bahasa Indonesia, apa ya, pengkontraksian? Pengerasan?) otot. Itu aja sih beda utama yang saya rasakan, dan itulah mengapa di akhir kelas yoga tubuh terasa lega, sedangkan di akhir kelas pilates tubuh terasa..uhm, sakit. Pilates juga jauh lebih fokus pada kekuatan otot perut, paha dan pantat karena orientasinya pada core strength, sedangkan yoga melatih berbagai otot, dari segi kekuatan dan juga fleksibilitasnya.

Hm, sebelum saya membahas lebih jauh lagi, sebagai latar belakang, yoga yang saya lakukan adalah hatha/power/vinyasa yoga dan juga ashtanga (versi introduction). Ini adalah jenis-jenis yoga yang relatif berfokus pada gerakan fisik, jadi saya tidak merapal mantra, meditasi, bahkan tidak melakukan pernapasan yang macam-macam, hanya ujayi saja. Akan tetapi bahkan dengan mempraktikan yoga jenis ini saja saya merasakan pendekatan yoga lebih “spiritual” dibandingkan pilates. Yoga mendekati tubuh secara lebih halus, memahami tingkat keadaan tubuh, “memaafkan” tubuh jika belum mampu mencapai sebuah pose (tiap pose ada tingkatan mudah hingga sulit), melatih tubuh secara perlahan dan fokus pada pernapasan dan kesadaran mendalam (inner awareness). Sementara pilates lebih “memecut” tubuh untuk dapat mencapai sebuah kondisi tertentu; core yang kuat, postur yang benar, keseimbangan yang baik. Inilah mengapa bagi tubuh-tubuh yang tidak fit, latihan pilates bisa terasa amat menghajar. Tapi siapa tahu, latihan pilates bisa sangat memuaskan bagi tubuh yang sudah relatif fit dan membutuhkan tantangan. Kalau aja gratis, saya sih mau aja nanti nyoba-nyoba pilates lagi, hehe.

Yoga sangat lekat dengan ilmu spiritualitas asal Timur (India)
www.guideyoga.org

Jadi kesimpulannya, yoga dan pilates beda kan? Tapi enggak ada salahnya kalau mau melakukan keduanya, karena keduanya sebetulnya saling mendukung dan tidak berkontradiksi. Lakukan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan sifat Anda.