"Lactose intolerance" adalah kondisi yang mungkin familiar bagi sebagian orang, tapi di Indonesia nggak umum dibicarakan kayaknya (setidaknya di kalangan orang awam seperti saya). "Penderita" lactose intolerance nggak bisa mengkonsumsi susu cair karena perutnya tidak bisa memproduksi enzim laktase yang semestinya memecah kandungan lactose dalam susu.
Hm, topik ini sebetulnya bukan keahlian saya, tapi bahan bacaan untuk kuliah pendekatan antropologi terhadap pertanian, makanan dan nutrisi minggu ini bikin saya tergelitik. Huuh, mungkin daripada nulis ini mendingan saya baca bahan bacaan untuk kuliah lain yang sudah menggunung, tapi saya bener-bener tergelitik. Apalagi sehabis mencoba meng-google soal lactose intolerance di Indonesia, cukup prihatin membaca bahwa keadaan itu dianggap "penyakit" yang dengan segala cara berusaha disembuhkan. Padahal bahan bacaan yang baru saya baca mengatakan sebaliknya:
Bahwa kemampuan manusia untuk mampu mencerna lactose setelah disapih adalah hasil mutasi. Mamalia yang normal, setelah disapih akan berhenti memproduksi enzim laktase. Fungsi satu-satunya enzim laktase adalah untuk mencerna lactose dan setelah disapih, tentu enzim itu tidak ada gunanya lagi, jadi untuk terus memproduksi laktase dianggap buang-buang energi (Wiley 2011: 64).
Jadi: saya adalah seorang MUTAN! Huahahahahahaha!
Sebelum berbicara lebih jauh, mungkin perlu dijelaskan lagi soal mekanisme evolusi melalui mutasi dan seleksi alamiah. Kita pakai contoh yang ada di buku teks biologi sekolah menengah:
Alkisah, ada jerapah yang lehernya panjang dan lehernya pendek. Leher panjang dan leher pendek ini muncul karena adanya mutasi genetik: "kegagalan" gen untuk mengkopi secara sempurna gen dari orang tua. Kalau Anda tidak 100% mirip Bapak atau 100% mirip Ibu Anda, itu karena hasil dari mutasi ini (jadi mutasi itu maksudnya bukan jadi mahluk bersisik atau bersayap kayak di X-Men). Ini penjelasan yang amat sangat kelewat disederhanakan sih, untuk kebutuhan ilustrasi aja. Nah begitupun jerapah, makanya ada yang lehernya panjang, pendek dan sedang. Nah jerapah yang lehernya panjang, bisa makan daun dari pohon yang tinggi, sehingga di musim kering dia bisa mendapatkan lebih banyak makanan daripada temen-temennya yang lehernya pendek. Hasilnya, jerapah yang lehernya pendek lebih banyak yang mati duluan, dan jerapah yang lehernya panjang, hidup lebih lama, bisa kawin, punya anak dan seterusnya. Sehingga lama-lama, tersisalah cuma si jerapah yang lehernya panjang aja. Kira-kira gitu, semoga penjelasannya bener, buat yang ahli, tolong dikoreksi kalau salah,
Nah, begitupun dengan kemampuan untuk mencerna lactose. Pada masyarakat yang secara historis melakukan domestikasi hewan untuk diambil susunya (domestikasi hewan penghasil susu terjadi baru 8,000 tahun yang lalu, spesies manusia ada sekitar 200,000 tahun yang lalu), frekuensi mutasi untuk terus memproduksi laktase hingga sepanjang hidupnya lebih tinggi. Individual dengan mutasi tersebut, pada masyarakat yang seperti itu, akan lebih sehat (karena mampu beradaptasi dengan sumber nutrisi yang tersedia pada masyarakatnya), dan mampu menghasilkan keturunan yang juga memiliki mutasi tersebut (Wiley 2011: 66).
Lalu gimana dengan individu-individu yang tidak memiliki mutasi itu? Menurut Sahi (1994 dalam Wiley 2011: 66) meskipun dipaksakan minum susu terus, si enzim itu tidak akan serta-merta muncul. Logikanya sih iya ya, karena kan itu keadaan genetik.
Sekarang udah sedih belum dengan kenyataan bahwa alih-alih dianggap keadaan genetik yang normal, orang yang tidak bisa mencerna susu dianggap memiliki "penyakit" genetik yang harus "dirawat"?
Susu memang sumber gizi yang baik, tapi bukan sumber gizi satu-satunya. Di Amerika, anggapan bahwa susu adalah sumber gizi yang premium dianggap sebagai propaganda untuk mempromosikan industri susu dan hasil susu mereka (pernah lihat kampanye "got milk?" di majalah-majalah Amerika?). Bahwa semua orang dianggap harus minum susu adalah hasil dari sebuah bio-ethnocentrims yaitu kepercayaan terhadap superioritas dari sebuah keadaan biologis atau praktik kultural, dalam hal ini keadaan biologis dan superioritas dari orang-orang Eropa Utara (masyarakat dimana frekuensi mutasinya untuk mencerna susu tinggi).
Penulis buku yang saya baca menggunakan istilah lactase persistance/impersistance agar lebih netral secara nilai (tidak menganggap yang manapun sebagai abnormal) daripada lactose intolerant, lactase deficiency, atau lactose maldigestion/malabsorption yang menandakan inferioritas/keabnormalan dari orang-orang yang tidak bisa mencerna lactose.
Ia pun memberikan informasi tentang keberadaan kelompok-kelompok anti-susu: www.notmilk.com, www.milksucks.com. Bahkan sebuah tuntutan hukum dilayangkan pada mereka yang mempromosikan susu pada kelompok minoritas (African American, Asian, Latin American yang mayoritas adalah lactase impersistance).
Jadiiiiiiiii........ ga bisa minum susu ya gak apa-apa laaah. Sumber gizi yang lain masih banyak kok. Nggak perlu terpengaruh iklan, nggak minum susu pun bisa tetap sehat :)
Reference
Wiley, Andrea S. 2011. Chapter 2: "Population Variation in Milk Digestion and Dietary Policy" in Re-imagining Milk. New York: Routledge, 15-36.
Saturday, January 25, 2014
Friday, December 20, 2013
Latihan keseimbangan tubuh
Keseimbangan tubuh, ternyata bukan soal ketepatan postur saja, tapi juga kekuatan otot. Wah ini baru saya sadari setelah beberapa bulan berlatih yoga (dan tango).
Berdasarkan tes yang dilakukan oleh kawan saya si dokter olahraga, keseimbangan tubuh saya sungguh-sungguh buruk. Cuma bisa tahan beberapa detik saja :'( Instruktur yoga saya juga bilang, kalau dibandingkan dengan teman-teman, saya memang yang paling payah kalau udah masang postur-postur keseimbangan (dan juga postur-postur lainnya sih).
Tapi setahun kemudian, si instruktur yoga saya terkagum-kagum dengan kemajuan yang saya capai. Hehehe. Lah, iya lah mas, kan rajin latihan...saya yoga 3x seminggu loh. Saat tango pun begitu, gerakan-gerakan terasa lebih mudah, ringan dan mengalir, jingjit selama menari pun tidak terasa masalah besar, ketika sebelumnya jingjit terus sepanjang tarian bener-bener bikin menderita. Itu karena otot tungkai saya memang sudah semakin kuat.
Gimana cara latihannya? Well, kalau mau berlatih ya jangan disasar untuk satu hal aja atau satu bagian tubuh aja sih, harus seimbang untuk semua otot tubuh. Banyak pose-pose yoga yang bukan untuk keseimbangan tapi memperkuat otot seperti warrior atau chair pose.
Tapi menurut saya, pose di bawah inilah yang merupakan the ultimate test, dan saya sampai sekarang cuma bisa melakukannya dengan kaki bengkok
Kaki lo musti kuat banget untuk nahan gaya dorong dari kaki satunya lagi untuk diangkat agar badan tetap tegak dan nggak jatuh. Ini adalah pose yang menurut saya bikin progress bagus dalam hal keseimbangan dan kekuatan otot tungkai. Eh, tapi sebelum nyoba, tolong konsultasi dulu sama dokter atau instrukturnya ya, dan silakan cek versi pemula di website atau cari video tutorialnya di youtube. Gambar di atas sih emang udah versi hebohnya kok, dan saya ampe sekarang belum bisa yang kayak gitu, kakinya masih bengkok. Moga-moga dengan sering latihan bisa makin bagus ya :)
Berdasarkan tes yang dilakukan oleh kawan saya si dokter olahraga, keseimbangan tubuh saya sungguh-sungguh buruk. Cuma bisa tahan beberapa detik saja :'( Instruktur yoga saya juga bilang, kalau dibandingkan dengan teman-teman, saya memang yang paling payah kalau udah masang postur-postur keseimbangan (dan juga postur-postur lainnya sih).
Tapi setahun kemudian, si instruktur yoga saya terkagum-kagum dengan kemajuan yang saya capai. Hehehe. Lah, iya lah mas, kan rajin latihan...saya yoga 3x seminggu loh. Saat tango pun begitu, gerakan-gerakan terasa lebih mudah, ringan dan mengalir, jingjit selama menari pun tidak terasa masalah besar, ketika sebelumnya jingjit terus sepanjang tarian bener-bener bikin menderita. Itu karena otot tungkai saya memang sudah semakin kuat.
Gimana cara latihannya? Well, kalau mau berlatih ya jangan disasar untuk satu hal aja atau satu bagian tubuh aja sih, harus seimbang untuk semua otot tubuh. Banyak pose-pose yoga yang bukan untuk keseimbangan tapi memperkuat otot seperti warrior atau chair pose.
![]() |
| yogaheels.wordpress.com |
Tapi menurut saya, pose di bawah inilah yang merupakan the ultimate test, dan saya sampai sekarang cuma bisa melakukannya dengan kaki bengkok
![]() |
| www.ihanayoga.com.au |
Kaki lo musti kuat banget untuk nahan gaya dorong dari kaki satunya lagi untuk diangkat agar badan tetap tegak dan nggak jatuh. Ini adalah pose yang menurut saya bikin progress bagus dalam hal keseimbangan dan kekuatan otot tungkai. Eh, tapi sebelum nyoba, tolong konsultasi dulu sama dokter atau instrukturnya ya, dan silakan cek versi pemula di website atau cari video tutorialnya di youtube. Gambar di atas sih emang udah versi hebohnya kok, dan saya ampe sekarang belum bisa yang kayak gitu, kakinya masih bengkok. Moga-moga dengan sering latihan bisa makin bagus ya :)
Friday, December 6, 2013
Mencegah para profesional kita bermigrasi ke luar negeri: Apakah nasionalisme jawabannya?
Nasionalisme. Kata yang sungguh powerful. Apalagi bagi orang Indonesia (subjectively speaking). Ya tentu saja, dengan begitu beragamnya "isi" Indonesia, nasionalisme tentu harus dipupuk habis-habisan jika bangsa ini masih ingin mempertahankan legitimasinya. Dan memang, bagi orang Indonesia yang nasionalis, emosi kesetiaan terhadap bangsa ini memang sungguh powerful.
Tapi tidak sedikit juga orang Indonesia yang (mengaku) tidak nasionalis. Buat saya, ini adalah defence mechanism mereka dalam menghadapi situasi negara yang memang sulit dihadapi. Carut marut. Korup. Miskin. Bigot. Terjajah. atau sesederhana "Macet". Lebih mudah untuk tidak berusaha membela yang sulit untuk dibela. Maka beberapa dari mereka meninggalkan Indonesia. Tinggal di tempat yang "lebih baik". Dan para nasionalis pun memandang mereka dengan kebencian. Kok bisa-bisanya tidak punya rasa cinta pada tanah air sendiri.
Saya pergi untuk kuliah ke Inggris dengan beasiswa dari Pemerintah Indonesia (ya, uangnya dari Anda para pembayar pajak). Program beasiswa ini mati-matian berusaha agar rasa nasionalisme kami, para penerima beasiswa, tetap cukup dalam untuk kembali. Kami diminta berjanji untuk kembali. Kami diminta untuk berjanji tetap mencintai tanah air, dan kembali untuk membangunnya. Tidak seperti mereka yang pengkhianat, pergi sekolah ke luar negeri, tapi kemudian malah kabur untuk meninggalkan Indonesia.
Lucunya, perspektif yang lebih jelas mengenai isu ini ada dibahas dalam salah satu mata kuliah saya (Antropologi Pembangunan). Isu migrasi adalah isu yang terutama sangat nampak di negara ini. Berjalan-jalan di kota London, kita hanya akan menemui sedikit sekali orang Inggris bule totok dibandingkan para imigran yang sangat dominan. Kebanyakan adalah pendatang. Maka dari itu, kami membahas isu imigran di kelas. Saya merasa sulit sekali untuk relate dalam bahasan ini. Di Jakarta imigran sama sekali tidak mendominasi. Satu-satunya isu migrasi yang dominan bagi kita adalah TKI. Imigran Indonesia yang profesional dan terdidik seperti yang tersebut di atas memang ada, tapi tidak sesignifikan ahli-ahli IT dari India misalkan. Saya tidak punya angkanya, tapi dari permukaan, isu imigran kita tidak mencuat.
Tapi salah satu bahan bacaan saya memberikan pengetahuan yang menarik. Tulisan oleh Alejandro Portes (2009) berjudul Migration and Development: Reconciling Opposite Views. Dia bilang bahwa begitu banyak studi mengenai efek migrasi bagi negera penerima tapi sedikit mengenai negara yang ditinggalkan. Adanya fenomena migrasi tenaga kerja menunjukkan adanya inequality. Migration as a symptom (or even cause) of underdevelopment. Dan inilah yang begitu mengganggu saya dan selalu mengganggu saya ketika kami berdiskusi mengenai imigran, refugee dan sebagainya. Mengapa ada tempat-tempat di dunia ini yang layak ditinggali dan mengapa ada tempat-tempat yang tidak layak. Seharusnya kita ngomongin tentang bagaimana membuat semua tempat di bumi ini layak ditinggali. Seharusnya semua orang senang dilahirkan dimanapun, menjadi warga negara apapun. Jadi bukan kita ngomongin sebaiknya kebijakan Inggris, Jerman, Amerika dan Belanda tentang imigran itu bagaimana dan apa dampaknya bagi mereka (tentu saja dalam jangka pendek, ini tidak terelakan, tapi ini adalah pikiran sederhana saya yang utopis berbicara).
Dan itulah persis yang dibicarakan oleh Portes. Ia berbicara tentang negara-negara yang ditinggalkan. Apa yang terjadi ketika semua (atau banyak dari) able bodied citizen sebuah negara pergi untuk mencari peruntungan di negara lain dan suka atau tidak turut "membangun" negara tersebut. Tidakkah inequality semakin membesar?
Solusi yang diajukan Portes tidaklah besar-besar amat sih. Intinya, si negara yang ditinggalkan harus pinter-pinter membuat insentif bagi para pekerja migran itu untuk kembali. Ada dua hal yang bisa saya refleksikan tentang hal ini:
1. Sepupu saya yang selama ini tinggal di luar negeri, simply karena di Indonesia tidak ada lapangan pekerjaan untuk bidangnya. Institusi yang ada sudah "penuh" dan sulit beregenerasi (birokrasi dan status quo, pffh). Intinya, ia sulit mengembangkan kepintarannya dan infrastruktur di sini tidak bisa mengakomodir apa yang bisa ia tawarkan. Untungnya ia sekarang sudah bisa kembali karena adanya institusi-institusi (swasta) baru yang bisa mengakomodasi dia.
2. Seorang teman yang baru saja kembali dari seminar yang khusus membahas masalah ini. Ketika dia mengajukan isu yang kurang lebih seperti yang saya sebutkan di nomor satu, dia di-bully dengan mengatakan bahwa itu adalah karena "malas mencari kerja" dan memberikan solusi "enterpreneurship" yang buat saya itu hanya menunjukan bahwa pemerintah malas memerintah dan menyerahkan masalah kembali kepada rakyat yang harusnya diurusinya. Enterpreneurship kan tidak bisa berkembang kalau iklim kebijakan yang ada tidak mendukung (anjrit, belajar bahasa birokrat darimana gue??). Dan dalam kasus sepupu saya yang doktor di bidang fisika NUKLIR, dia mau enterpreneurship APA?......
My point is, saya setuju dengan Portes. Daripada sibuk memupuk nasionalisme, lebih baik memikirkan insentif apa yang bisa diberikan agar para imigran itu kembali untuk membangun Indonesia. Jalur-jalur apa yang bisa dipupuk agar mereka bisa berkarya di dalam negeri. Dan seperti Jokowi, seriuslah menata negara agar nyaman ditinggali. Deep down inside, saya yakin mereka pun lebih senang pulang kalau memang ada pilihan itu. Dengan resiko menjadi klise, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan kata-kata: There's no place like home.
Tapi tidak sedikit juga orang Indonesia yang (mengaku) tidak nasionalis. Buat saya, ini adalah defence mechanism mereka dalam menghadapi situasi negara yang memang sulit dihadapi. Carut marut. Korup. Miskin. Bigot. Terjajah. atau sesederhana "Macet". Lebih mudah untuk tidak berusaha membela yang sulit untuk dibela. Maka beberapa dari mereka meninggalkan Indonesia. Tinggal di tempat yang "lebih baik". Dan para nasionalis pun memandang mereka dengan kebencian. Kok bisa-bisanya tidak punya rasa cinta pada tanah air sendiri.
Saya pergi untuk kuliah ke Inggris dengan beasiswa dari Pemerintah Indonesia (ya, uangnya dari Anda para pembayar pajak). Program beasiswa ini mati-matian berusaha agar rasa nasionalisme kami, para penerima beasiswa, tetap cukup dalam untuk kembali. Kami diminta berjanji untuk kembali. Kami diminta untuk berjanji tetap mencintai tanah air, dan kembali untuk membangunnya. Tidak seperti mereka yang pengkhianat, pergi sekolah ke luar negeri, tapi kemudian malah kabur untuk meninggalkan Indonesia.
Lucunya, perspektif yang lebih jelas mengenai isu ini ada dibahas dalam salah satu mata kuliah saya (Antropologi Pembangunan). Isu migrasi adalah isu yang terutama sangat nampak di negara ini. Berjalan-jalan di kota London, kita hanya akan menemui sedikit sekali orang Inggris bule totok dibandingkan para imigran yang sangat dominan. Kebanyakan adalah pendatang. Maka dari itu, kami membahas isu imigran di kelas. Saya merasa sulit sekali untuk relate dalam bahasan ini. Di Jakarta imigran sama sekali tidak mendominasi. Satu-satunya isu migrasi yang dominan bagi kita adalah TKI. Imigran Indonesia yang profesional dan terdidik seperti yang tersebut di atas memang ada, tapi tidak sesignifikan ahli-ahli IT dari India misalkan. Saya tidak punya angkanya, tapi dari permukaan, isu imigran kita tidak mencuat.
Tapi salah satu bahan bacaan saya memberikan pengetahuan yang menarik. Tulisan oleh Alejandro Portes (2009) berjudul Migration and Development: Reconciling Opposite Views. Dia bilang bahwa begitu banyak studi mengenai efek migrasi bagi negera penerima tapi sedikit mengenai negara yang ditinggalkan. Adanya fenomena migrasi tenaga kerja menunjukkan adanya inequality. Migration as a symptom (or even cause) of underdevelopment. Dan inilah yang begitu mengganggu saya dan selalu mengganggu saya ketika kami berdiskusi mengenai imigran, refugee dan sebagainya. Mengapa ada tempat-tempat di dunia ini yang layak ditinggali dan mengapa ada tempat-tempat yang tidak layak. Seharusnya kita ngomongin tentang bagaimana membuat semua tempat di bumi ini layak ditinggali. Seharusnya semua orang senang dilahirkan dimanapun, menjadi warga negara apapun. Jadi bukan kita ngomongin sebaiknya kebijakan Inggris, Jerman, Amerika dan Belanda tentang imigran itu bagaimana dan apa dampaknya bagi mereka (tentu saja dalam jangka pendek, ini tidak terelakan, tapi ini adalah pikiran sederhana saya yang utopis berbicara).
Dan itulah persis yang dibicarakan oleh Portes. Ia berbicara tentang negara-negara yang ditinggalkan. Apa yang terjadi ketika semua (atau banyak dari) able bodied citizen sebuah negara pergi untuk mencari peruntungan di negara lain dan suka atau tidak turut "membangun" negara tersebut. Tidakkah inequality semakin membesar?
Solusi yang diajukan Portes tidaklah besar-besar amat sih. Intinya, si negara yang ditinggalkan harus pinter-pinter membuat insentif bagi para pekerja migran itu untuk kembali. Ada dua hal yang bisa saya refleksikan tentang hal ini:
1. Sepupu saya yang selama ini tinggal di luar negeri, simply karena di Indonesia tidak ada lapangan pekerjaan untuk bidangnya. Institusi yang ada sudah "penuh" dan sulit beregenerasi (birokrasi dan status quo, pffh). Intinya, ia sulit mengembangkan kepintarannya dan infrastruktur di sini tidak bisa mengakomodir apa yang bisa ia tawarkan. Untungnya ia sekarang sudah bisa kembali karena adanya institusi-institusi (swasta) baru yang bisa mengakomodasi dia.
2. Seorang teman yang baru saja kembali dari seminar yang khusus membahas masalah ini. Ketika dia mengajukan isu yang kurang lebih seperti yang saya sebutkan di nomor satu, dia di-bully dengan mengatakan bahwa itu adalah karena "malas mencari kerja" dan memberikan solusi "enterpreneurship" yang buat saya itu hanya menunjukan bahwa pemerintah malas memerintah dan menyerahkan masalah kembali kepada rakyat yang harusnya diurusinya. Enterpreneurship kan tidak bisa berkembang kalau iklim kebijakan yang ada tidak mendukung (anjrit, belajar bahasa birokrat darimana gue??). Dan dalam kasus sepupu saya yang doktor di bidang fisika NUKLIR, dia mau enterpreneurship APA?......
My point is, saya setuju dengan Portes. Daripada sibuk memupuk nasionalisme, lebih baik memikirkan insentif apa yang bisa diberikan agar para imigran itu kembali untuk membangun Indonesia. Jalur-jalur apa yang bisa dipupuk agar mereka bisa berkarya di dalam negeri. Dan seperti Jokowi, seriuslah menata negara agar nyaman ditinggali. Deep down inside, saya yakin mereka pun lebih senang pulang kalau memang ada pilihan itu. Dengan resiko menjadi klise, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan kata-kata: There's no place like home.
Labels:
civilization,
jakarta,
ngantrop,
poskolonial,
SOAS,
UK
Sunday, November 3, 2013
Seri Kawinan #6: Suvenir
Akhirnya keinget dan ada niatan juga untuk ngelanjutin si kawinan series ini. Biar nggak jadi males, saya mau mengulas yang mudah aja dulu deh, yaitu bab suvenir.
Suvenir, yang kata temen gw Indon hanyalah sebuah pelengkap penderita, pada awal mulai memikirkannya bener-bener emang pelengkap penderita doang. Udah nggak penting, tapi kalau nggak diurusin juga bisa menyebabkan kita jadi omongan orang dan orang tua jadi malu (kalo kita mah bodo amat). Juga, kalau buatnya asal, selain orang yang nerima males, gw yang ngasih juga males dan bisa bete.
Tadinya departemen suvenir juga saya serahkan pada calon suami, dan karena sangking cuma pelengkap penderita, dia nggak mulai mikirin sama sekali. Akhirnya, gue juga deh yang mikirin.
Ide dari calon suami: sisir (duh, nggak personal ah). Semetara ide dari saya pun ditolak mentah-mentah: CD (nggak ada yang mau dengerin lagu kita, tauk. Lagian itu melanggar hak cipta), tas, cermin saku, hanya salah dua-nya benda suvenir kawinan yang pernah saya benar-benar gunakan... (duuh..errghh, ya udah terserah). Sampai akhirnya: ya udah terserah. Saya pun mulai melihat-lihat suvenir murah-murah di toko online. Banyak ketemu yang murah-murah tapi jelek minta ampun dan nggak ada gunanya. Yang agak mahal, lucu tapi ga ada gunanya juga. Di rumah saya udah berserakan segala macam benda suvenir. Tas dan cermin saku meskipun saya akui terpakai, tapi dua benda tersebut tidaklah "personal", dan karena kita belinya kodian ya jelas tampilannya akan...kodian.
Di sebuah website bule yang pernah saya baca, ada ide dimana suvenir pesta diganti dengan charity. Jadi budget untuk suvenir disumbangkan ke sebuah yayasan dan ini diumumkan ke tamu-tamu atau tiap tamu diberi secarik kertas yang mengumumkan hal itu. Tapi ya sebetulnya budget suvenir yang saya miliki kan tidak begitu besar (1-3 juta rupiah saja), ditambah saya agak malas due diligence memilih yayasan yang ok, dan lagi-lagi cukup personal buat kami. Lalu, ibu-ibu adalah spesies lain yang harus dipikirikan. Tidak seperti para Homo sapiens sapiens lain yang bodo amat, ibu-ibu maunya nerima "benda" yang bisa dipegang-pegang, dilihat-lihat dan dibilang lucu, lalu dipajang atau masuk tas. Teman saya Indon, yang menyiapkan photo booth sebagai suvenir kawinannya, akhirnya ibunya dia menambah kipas dan entah apa lagi suvenir yang bisa dipegang-pegang demi memuaskan spesies yang satu ini. Dia berakhir dengan 3 jenis suvenir yang berbeda di pestanya.
Akhirnya saya browsing lagi ke website bule, dimana biasanya ketemu tuh ide aneh-aneh. Naaah, di sebuah website ada suvenir kawinan teh celup dengan bungkusan yang customized. Contohnya begini:
BINGO! Teh!
Beberapa alasan bagus:
Yup, maka suami yang kebetulan ada rencana ke Muntilan akhirnya membeli 5 bal (500 bungkus) teh tubruk merk Kepala Djenggot. Habis Rp. 700 ribu saja. Sampai Jakarta, teh itu kami bungkus dengan kertas sampul buku coklat, lalu ditempel ucapan terima kasih yang diprint di hvs dan difotokopi. Hasilnya begini:
Bahkan kemasannya pun ekonomis dan minim sampah. Nyokap sempat ingin agar dikemas dalam plastik mika, yang langsung saya veto karena itu bikin sampah dan plastik mika jelas tidak gampang terurai. Kantong dengan bahan tulle pun lumayan sampah dan buat saya kurang cantik dan juga kelewat mainstream, hehe. Tadinya pun hampir membuat paper bag khusus karena malas membungkusi satu-satu yang untung saja calon suami mem-vetonya dengan mengingatkan bahwa paper bag itu cukup nyampah dan juga mahal dengan manfaat yang tidak signifikan. Akhirnya dengan mengerahkan para tante, terbungkus lah 500 teh Kepala Djenggot dalam kemasan cantik dan ramah lingkungan seperti di atas.
Untuk desain gambarnya, itu ada kaitannya dengan kisah undangan yang akan saya ceritakan (moga-moga) tak lama lagi ya. Nantikan.
Suvenir, yang kata temen gw Indon hanyalah sebuah pelengkap penderita, pada awal mulai memikirkannya bener-bener emang pelengkap penderita doang. Udah nggak penting, tapi kalau nggak diurusin juga bisa menyebabkan kita jadi omongan orang dan orang tua jadi malu (kalo kita mah bodo amat). Juga, kalau buatnya asal, selain orang yang nerima males, gw yang ngasih juga males dan bisa bete.
Tadinya departemen suvenir juga saya serahkan pada calon suami, dan karena sangking cuma pelengkap penderita, dia nggak mulai mikirin sama sekali. Akhirnya, gue juga deh yang mikirin.
Ide dari calon suami: sisir (duh, nggak personal ah). Semetara ide dari saya pun ditolak mentah-mentah: CD (nggak ada yang mau dengerin lagu kita, tauk. Lagian itu melanggar hak cipta), tas, cermin saku, hanya salah dua-nya benda suvenir kawinan yang pernah saya benar-benar gunakan... (duuh..errghh, ya udah terserah). Sampai akhirnya: ya udah terserah. Saya pun mulai melihat-lihat suvenir murah-murah di toko online. Banyak ketemu yang murah-murah tapi jelek minta ampun dan nggak ada gunanya. Yang agak mahal, lucu tapi ga ada gunanya juga. Di rumah saya udah berserakan segala macam benda suvenir. Tas dan cermin saku meskipun saya akui terpakai, tapi dua benda tersebut tidaklah "personal", dan karena kita belinya kodian ya jelas tampilannya akan...kodian.
Di sebuah website bule yang pernah saya baca, ada ide dimana suvenir pesta diganti dengan charity. Jadi budget untuk suvenir disumbangkan ke sebuah yayasan dan ini diumumkan ke tamu-tamu atau tiap tamu diberi secarik kertas yang mengumumkan hal itu. Tapi ya sebetulnya budget suvenir yang saya miliki kan tidak begitu besar (1-3 juta rupiah saja), ditambah saya agak malas due diligence memilih yayasan yang ok, dan lagi-lagi cukup personal buat kami. Lalu, ibu-ibu adalah spesies lain yang harus dipikirikan. Tidak seperti para Homo sapiens sapiens lain yang bodo amat, ibu-ibu maunya nerima "benda" yang bisa dipegang-pegang, dilihat-lihat dan dibilang lucu, lalu dipajang atau masuk tas. Teman saya Indon, yang menyiapkan photo booth sebagai suvenir kawinannya, akhirnya ibunya dia menambah kipas dan entah apa lagi suvenir yang bisa dipegang-pegang demi memuaskan spesies yang satu ini. Dia berakhir dengan 3 jenis suvenir yang berbeda di pestanya.
Akhirnya saya browsing lagi ke website bule, dimana biasanya ketemu tuh ide aneh-aneh. Naaah, di sebuah website ada suvenir kawinan teh celup dengan bungkusan yang customized. Contohnya begini:
BINGO! Teh!
Beberapa alasan bagus:
- Calon suami memang HOBI BANGET bawa suvenir teh kalau habis dari Jogja. Teh tubruk kampung dengan berbagai merk dan aroma. Kawan-kawan geng puspa sudah hafal dan merasakan nikmatnya nge-teh bareng.
- Orang Indonesia dimana-mana hobi minum teh.
- Teh tubruk harganya murah
- Seperti iklan Sariwangi, teh memang membawa kehangatan dan kekeluargaan. Cocok sebagai suvenir pesta orang yang mau membangun keluarga.
- Teh habis diminum dan tidak akan tergeletak nyampah-nyampahin rumah aja.
Yup, maka suami yang kebetulan ada rencana ke Muntilan akhirnya membeli 5 bal (500 bungkus) teh tubruk merk Kepala Djenggot. Habis Rp. 700 ribu saja. Sampai Jakarta, teh itu kami bungkus dengan kertas sampul buku coklat, lalu ditempel ucapan terima kasih yang diprint di hvs dan difotokopi. Hasilnya begini:
Bahkan kemasannya pun ekonomis dan minim sampah. Nyokap sempat ingin agar dikemas dalam plastik mika, yang langsung saya veto karena itu bikin sampah dan plastik mika jelas tidak gampang terurai. Kantong dengan bahan tulle pun lumayan sampah dan buat saya kurang cantik dan juga kelewat mainstream, hehe. Tadinya pun hampir membuat paper bag khusus karena malas membungkusi satu-satu yang untung saja calon suami mem-vetonya dengan mengingatkan bahwa paper bag itu cukup nyampah dan juga mahal dengan manfaat yang tidak signifikan. Akhirnya dengan mengerahkan para tante, terbungkus lah 500 teh Kepala Djenggot dalam kemasan cantik dan ramah lingkungan seperti di atas.
Untuk desain gambarnya, itu ada kaitannya dengan kisah undangan yang akan saya ceritakan (moga-moga) tak lama lagi ya. Nantikan.
Saturday, November 2, 2013
Tablet atau E-Reader?
Beli tablet atau E-Reader yaaa? Emang apa sih perbedaan keduanya? Tanpa sok menjadi ahli gadget, saya akan mencoba mengulas tentang hal ini. Ini adalah ulasan pengguna, bukan ahli yaa.
Saya sendiri akhirnya membeli sebuah e-reader dengan fungsi tablet. Nah loh, apaan lagi tuh. Ya jadi, saya membeli tablet Nook HD. Nook adalah sebuah merk e-reader keluaran Barnes & Noble (toko buku asal Amrik). Nah seperti Kindle keluaran Amazon yang sekarang mengeluarkan tablet Kindle Fire, Nook juga punya versi tablet. Jadi sebetulnya sih dia adalah sebuah tablet, tapi dikembangkan oleh produsen e-reader. Something like that lah. Nook HD yang saya beli memiliki fungsi seadanya, tak ada kamera, tak ada slot untuk SIM card (ada wifi tapi), makanya juga bisa murah. Harganya GBP 79, untuk saya yang saat ini sedang tinggal di London, cukup ekonomis (jangan dibandingin ama Jakarta yaaa). Ringan dan enak digenggam untuk fungsi membaca buku elektronik (ada bingkainya dengan bahan agak kayak karet, jadi enak megangnya), tapi masih bisa dipakai browsing, nonton video, ngetik dan menjalankan fungsi berbagai aplikasi android meskipun nggak semuanya.
Balik ke pertanyaan awal, apa sih bedanya E-Reader dengan Tablet, dan mana yang harus dibeli? Seperti biasa, sebelum membeli sesuatu, saya riset gila-gilaan dulu melalui google, makanya jadi tau gini-ginian. Padahal suami udah nawarin i-Pad lamanya, dan dia beli yang lebih baru dan mahal. Tapi karena bahan bacaan kuliah udah membayangi saya, saya memutuskan mau beli sendiri aja biar cepat punya sendiri (meskipun akhirnya dibeliin hehe). Ya saya beli karena emang sangat-sangat butuh untuk baca bahan kuliah. Dari dulu saya merasa cukup aja dengan netbook dan smartphone. Tapi untuk membaca, kedua gadget ini tentu tidak memadai.
Well, yang jelas e-reader diperuntukan untuk fungsi membaca. Tampilan layarnya enak untuk membaca dengan teknologi macam-macam seperti tampilan yang hampir menyerupai kertas, biasanya ringan dan compact, dengan baterai yang tahan lama (bisa sampai 2 bulan!), juga harganya lebih murah! Iya lah fungsinya kan terbatas.
Sedangkan tablet, jelas fungsinya lebih banyak, kayak komputer atau smartphone lah, bisa browsing, potret-potret (kalau ada kameranya), main game, dan bisa baca buku juga. Fungsi e-reader sudah tercakup dalam tablet, tapi fungsi tablet tidak tercakup dalam e-reader. Cuma e-reader kelebihannya ada pada tampilan layar yang lebih enak untuk mbaca, ketahanan batere dan harga. Juga dengan terbatasnya fungsi, e-reader menghilangkan banyak distraction dari internet, games, social media, dll sehingga kita bisa fokus membaca.
Jadi kenapa akhirnya saya pilih tablet? Hehe, karena saya udah capek bawa si netbook yang berat kemana-mana. Tapi kalau cuma punya e-reader jadinya tidak bisa mengetik, padahal fungsi ngetik juga penting buat taking notes atau ngerjain tugas essay kalau-kalau kepepet. Wekekekek :p
Nah untungnya Kindle, Nook dan Kobo (merk-merk e-reader yang ada di UK) punya versi tablet. Saat saya beli, best deal ditawarkan oleh Nook, jadilah saya membeli Nook HD dengan harga GBP 79. Saya sangat hepi dengan gadget baru ini. Saya nggak pasangin aplikasi chatting kecuali google hangout yang otomatis terpasang karena OS-nya android (dengan aplikasi standar lain seperti gmail, google maps dan google+). Saya nggak pasangin social media tentu saja. Aplikasi yang saya pasang cuma notes, semacam aplikasi untuk MS word, duolingo buat belajar bahasa, flipboard dan current, sama 9gag buat bahan bacaan, sama peta tube London deh.
Fungsi yang saya nggak expect, tapi membuat saya sangat girang adalah fungsi highlight dan notes. Jadi di bacaan kita, kita bisa highlight atau nambah notes. Nanti highlight dan notes kita itu akan terkumpul rapi dalam aplikasi bawaannya si Nook ini. Praktis deeeh, nggak usah nyalin quote atau bingung mau ngasih catatan dimana.
Si Nook ini juga ada shopnya dimana kita bisa beli buku-buku dan majalah (dari Barnes & Noble tentunya). Lumayan lengkap sih, so far ada beberapa buku yang Amazon pun belum ada versi Kindle-nya tapi di Nook shop udah ada. Format reader yang dipakai memang katanya sih "umum" yaitu EPUB. Bahan-bahan kuliah saya dalam bentuk PDF bisa dibuka, dihighlight dan di note di gadget ini.
Siang ini saya mencoba membuat catatan kuliah menggunakan si tablet ini dan ternyata saya bisa mengetik cukup cepat di layar 7 inchinya. Berarti saya nggak perlu bawa buku notes lagi, yang mana mengurangi beban tas saya yang udah rempong isinya dengan benda-benda khas ibu-ibu. Fungsi browsing juga berguna untuk mencari kata-kata sulit yang ditemukan saat membaca, atau mencari keterangan latar belakang yang diperlukan.
So? Sejauh ini saya sangat hepi tapi itu karena si gadget sangat sesuai dengan kebutuhan saya, dan saya yang namanya megang tablet ya emang baru sekarang ini jadi mungkin nggak rewel ya. Tentunya membeli gadget ya harus sesuai kebutuhan dan juga budget masing-masing.
Happy reading everyone!
Referensi:
http://electronics.howstuffworks.com/gadgets/high-tech-gadgets/tablet-or-e-reader.htm
http://www.which.co.uk/technology/computing/guides/how-to-buy-the-best-ebook-reader/ebook-reader-or-tablet/
Saya sendiri akhirnya membeli sebuah e-reader dengan fungsi tablet. Nah loh, apaan lagi tuh. Ya jadi, saya membeli tablet Nook HD. Nook adalah sebuah merk e-reader keluaran Barnes & Noble (toko buku asal Amrik). Nah seperti Kindle keluaran Amazon yang sekarang mengeluarkan tablet Kindle Fire, Nook juga punya versi tablet. Jadi sebetulnya sih dia adalah sebuah tablet, tapi dikembangkan oleh produsen e-reader. Something like that lah. Nook HD yang saya beli memiliki fungsi seadanya, tak ada kamera, tak ada slot untuk SIM card (ada wifi tapi), makanya juga bisa murah. Harganya GBP 79, untuk saya yang saat ini sedang tinggal di London, cukup ekonomis (jangan dibandingin ama Jakarta yaaa). Ringan dan enak digenggam untuk fungsi membaca buku elektronik (ada bingkainya dengan bahan agak kayak karet, jadi enak megangnya), tapi masih bisa dipakai browsing, nonton video, ngetik dan menjalankan fungsi berbagai aplikasi android meskipun nggak semuanya.
![]() |
| Nook HD |
Balik ke pertanyaan awal, apa sih bedanya E-Reader dengan Tablet, dan mana yang harus dibeli? Seperti biasa, sebelum membeli sesuatu, saya riset gila-gilaan dulu melalui google, makanya jadi tau gini-ginian. Padahal suami udah nawarin i-Pad lamanya, dan dia beli yang lebih baru dan mahal. Tapi karena bahan bacaan kuliah udah membayangi saya, saya memutuskan mau beli sendiri aja biar cepat punya sendiri (meskipun akhirnya dibeliin hehe). Ya saya beli karena emang sangat-sangat butuh untuk baca bahan kuliah. Dari dulu saya merasa cukup aja dengan netbook dan smartphone. Tapi untuk membaca, kedua gadget ini tentu tidak memadai.
Well, yang jelas e-reader diperuntukan untuk fungsi membaca. Tampilan layarnya enak untuk membaca dengan teknologi macam-macam seperti tampilan yang hampir menyerupai kertas, biasanya ringan dan compact, dengan baterai yang tahan lama (bisa sampai 2 bulan!), juga harganya lebih murah! Iya lah fungsinya kan terbatas.
Sedangkan tablet, jelas fungsinya lebih banyak, kayak komputer atau smartphone lah, bisa browsing, potret-potret (kalau ada kameranya), main game, dan bisa baca buku juga. Fungsi e-reader sudah tercakup dalam tablet, tapi fungsi tablet tidak tercakup dalam e-reader. Cuma e-reader kelebihannya ada pada tampilan layar yang lebih enak untuk mbaca, ketahanan batere dan harga. Juga dengan terbatasnya fungsi, e-reader menghilangkan banyak distraction dari internet, games, social media, dll sehingga kita bisa fokus membaca.
Jadi kenapa akhirnya saya pilih tablet? Hehe, karena saya udah capek bawa si netbook yang berat kemana-mana. Tapi kalau cuma punya e-reader jadinya tidak bisa mengetik, padahal fungsi ngetik juga penting buat taking notes atau ngerjain tugas essay kalau-kalau kepepet. Wekekekek :p
Nah untungnya Kindle, Nook dan Kobo (merk-merk e-reader yang ada di UK) punya versi tablet. Saat saya beli, best deal ditawarkan oleh Nook, jadilah saya membeli Nook HD dengan harga GBP 79. Saya sangat hepi dengan gadget baru ini. Saya nggak pasangin aplikasi chatting kecuali google hangout yang otomatis terpasang karena OS-nya android (dengan aplikasi standar lain seperti gmail, google maps dan google+). Saya nggak pasangin social media tentu saja. Aplikasi yang saya pasang cuma notes, semacam aplikasi untuk MS word, duolingo buat belajar bahasa, flipboard dan current, sama 9gag buat bahan bacaan, sama peta tube London deh.
Fungsi yang saya nggak expect, tapi membuat saya sangat girang adalah fungsi highlight dan notes. Jadi di bacaan kita, kita bisa highlight atau nambah notes. Nanti highlight dan notes kita itu akan terkumpul rapi dalam aplikasi bawaannya si Nook ini. Praktis deeeh, nggak usah nyalin quote atau bingung mau ngasih catatan dimana.
Si Nook ini juga ada shopnya dimana kita bisa beli buku-buku dan majalah (dari Barnes & Noble tentunya). Lumayan lengkap sih, so far ada beberapa buku yang Amazon pun belum ada versi Kindle-nya tapi di Nook shop udah ada. Format reader yang dipakai memang katanya sih "umum" yaitu EPUB. Bahan-bahan kuliah saya dalam bentuk PDF bisa dibuka, dihighlight dan di note di gadget ini.
Siang ini saya mencoba membuat catatan kuliah menggunakan si tablet ini dan ternyata saya bisa mengetik cukup cepat di layar 7 inchinya. Berarti saya nggak perlu bawa buku notes lagi, yang mana mengurangi beban tas saya yang udah rempong isinya dengan benda-benda khas ibu-ibu. Fungsi browsing juga berguna untuk mencari kata-kata sulit yang ditemukan saat membaca, atau mencari keterangan latar belakang yang diperlukan.
So? Sejauh ini saya sangat hepi tapi itu karena si gadget sangat sesuai dengan kebutuhan saya, dan saya yang namanya megang tablet ya emang baru sekarang ini jadi mungkin nggak rewel ya. Tentunya membeli gadget ya harus sesuai kebutuhan dan juga budget masing-masing.
Happy reading everyone!
Referensi:
http://electronics.howstuffworks.com/gadgets/high-tech-gadgets/tablet-or-e-reader.htm
http://www.which.co.uk/technology/computing/guides/how-to-buy-the-best-ebook-reader/ebook-reader-or-tablet/
Tuesday, October 8, 2013
Seri Kawinan #5: Dekorasi dan Layout Ruangan
Buat saya ini adalah hal yang paling challenging untuk
dihadapi, karena tiga hal: gedung yang kurang ideal, susunan acara yang di luar
kebiasaan dan yang terakhir saya nggak punya keahlian apapun di bidang ini.
Tapi ini adalah bagian yang paling memuaskan buat kami karena hasilnya melebihi
ekspektasi.
Untuk layout ruangan saya berterima kasih sekali pada Nadiya
WO dan Neil Abaroea (guru Tango saya). Merekalah yang mengatur letak pelaminan,
dance floor, meja buffet, band, dsb. Layout ruangan buat saya perfect, dan ini
pencapaian hebat karena aula gedung memang kurang ideal dengan lokasi
pintu-pintu dan pilar yang cukup awkward. Pada dasarnya untuk di gedung PU,
hanya ada dua pilihan untuk meletakan pelaminan; di tengah-tengah horizontal
ruangan atau di pojok kiri vertical ruangan. Layout yang dipilihkan untuk saya
adalah yang di dinding tengah horizontal ruangan. Waktu jamannya survei saya
pernah datang ke pesta dengan dua layout berbeda. Saya awalnya memilih pojok
kiri, tapi ternyata jadinya bingung menaruh dance floor dimana dan waktu itu
orang dari Chikal kurang bisa memberikan solusi yang baik. Waktu itu jika
dibandingkan, pilihan pojok kiri terasa lebih lega bagi ruangannya, tapi
sebetulnya itu gara-gara karpet jalannya aja. Kalau memakai karpet jalan, pojok
kiri memang memakan lebih sedikit tempat. Kalau di tengah-tengah, ruangan akan
habis dipotong si karpet jalan. Tapi pesta saya adalah tanpa karpet jalan.
Jadinya akhirnya diputuskanlah pelaminan berada di dinding tengah, lalu depan
pelaminan langsung dance floor.
Dua keputusan terbaik yang dibuat adalah menghilangkan
karpet jalan dan taman pelaminan. Tadinya saya malahan juga nggak mau pakai
panggung pelaminan karena inginnya pelaminan seperti “ruang tamu di rumah aja,
karena saya nggak mau jadi raja dan ratu”, tapi para organizer berkeras bahwa
panggung harus dipakai, jadi ya sudah, toh “panggung” yang dimaksud pendek,
cuma 10 cm. Tapi taman pelaminan saya tetap nggak mau pakai, karena taman
pelaminan menciptakan sebuah batas dan jalur untuk orang mengantri salaman,
sedangkan saya nggak mau orang di-encourage untuk mengantri salaman. Tiang
lampu fotografi (beserta kabel-kabelnya dan pencahayaan yang membuat pelaminan
lebih terang dan sisa ruangan menjadi lebih gelap) yang biasanya ada dan turut
memakan tempat dan menciptakan barrier antara pengantin dengan tamu-tamunya
yang rakyat jelata juga tidak ada. Fotografer dan videographer yang kami pakai
adalah murid-murid CPP dengan kamera DSLR yang nggak perlu pakai lampu-lampuan.
Hal lain yang saya hilangkan adalah kanopi-kanopi. Sekarang
umumnya dekorasi yang dipakai catering adalah kanopi-kanopi di meja buffet dan
juga di depan pintu masuk. Waduh, dengan aula gedung PU yang ceilingnya pendek
dan juga kurang luas, kayaknya kanopi-kanopi ini bakalan cuma bikin gelap dan sempit,
apalagi kalau warna yang dipilih gelap. Jadi saya menghilangkan kanopi ini.
Meskipun akhirnya kanopi selamat datang dipasang juga, tapi di pinggir ruangan
yang seharusnya jadi tempat ortu kami duduk kalau kami sedang tidak di
pelaminan.
Dengan tidak adanya hal-hal di atas, pelaminan jadi sangat
terbuka, suasana seluruh ruangan juga jadi terbuka dan terang dan lega. Hal
yang saya takutkan sama sekali nggak terjadi. Suasana yang santai dan open
terjadi karena barrier-barrier antara pelaminan dengan floor dihilangkan. Tamu
dan pengantin bebas keluar masuk pelaminan (bokap gw, if you know his habit,
adalah pastinya mahluk pertama yang ngilang dari pelaminan, dan juga
berkali-kali ngilangnya sampe harus dihalo-halo pake mic). Anak-anak juga senang
bermain di atas dance floor, apalagi waktu penampil wayang orang merontokan
melati ke atas dance floor. Biasanya setelah penampilan, anak-anak akan
langsung meniru dan memeragakan di atas dance floor, gerakan-gerakan yang tadi mereka lihat.
Saya sangat senang dengan cara Chikal menghias pelaminan dan
ruangan dengan bunga-bunga pilihan saya (warna merah dan putih ditambah bunga
peacock putih, lalu mereka tambah untaian melati). Terutama pelaminan deh,
cantik banget dan nggak pelit bunga! Lampion putih yang tadinya saya pilih
diganti dengan lampion rotan dan sangkar burung yang menurut saya lebih bagus
daripada si lampion putih. Awalnya si orang Chikal bingung mau ditaruh mana
lampu-lampu ini dengan tidak adanya si karpet jalan (biasanya lampion ada di
pinggir kanan kiri karpet jalan). Akhirnya Nadiya WO lah yang membantu
mengarahkan peletakan lampion ini. Awalnya saya sempet kuatir karena dekorasi
yang customize ini kok agak susah mengarahkannya karena sepertinya dekorasi
yang tersedia sangat standard template. Tapi ternyata hasilnya benar-benar
bagus.
Ice carving juga saya hilangkan. Secara estetika, tidak
cocok dengan selera saya, apalagi font-nya kan gak bisa dicustomize, hehe.
Lalu, detail lain yang harus diperhatikan adalah pemilihan
taplak. Jujur aja, kain taplak yang ditawarkan Chikal menurut saya kurang
elegan karena bahannya mengkilap. Untung saja dia punya satu renda taplak warna
putih yang tidak dari bahan itu. Saya pilih putih dengan cover emas, dan ini
juga membantu membuat ruangan menjadi lebih terang.
In my case, less is definitely more J
Sunday, October 6, 2013
Seri Kawinan #4: Acara
Sebagaimana sudah dibahas dalam “konsep”, tema acara yang
kami usung adalah simple cut-the-crap namun juga entertaining. Tema ini cukup
membuat pusing saya dan juga para vendor karena di luar standar. Beberapa hal
yang buat saya merupakan “crap” untuk di “cut” adalah:
- - Ganti baju dari akad nikah ke resepsi
- - Dengan tidak adanya hal di atas, kirab pengantin otomatis jadi tidak relevan juga
- - Dipajang di pelaminan
- - Antrian salaman
- - Group photo “wajib” untuk SETIAP kelompok keluarga dan pertemanan
Lalu untuk entertainment, hmm…mungkin sudah sangat jelas
bahwa saya sangat mencintai Argentine Tango. Maka saya bilang sama (waktu itu)
calon suami bahwa saya ingin menari di hari pernikahan saya, tapi masa nari
sama orang lain? Akhirnya dengan bujukan itu, sukses lah saya menyuruh dia
untuk belajar menari Argentine Tango. Akan tetapi kami diam-diam saja mengenai
rencana kami ini, sampai kira-kira sebulan sebelum acara, barulah kami
memberitahukan guru dan teman-teman sekelas. Inipun dipicu oleh kefrustrasian
saya mengarahkan vendor untuk acara yang aneh-aneh ini, ditambah ternyata saya
tidak ada waktu dan keahlian untuk membulatkan susunan acara yang rapi,
sehingga ketika ternyata ketahuan bahwa salah satu teman sekelas saya adalah
seorang wedding organizer (Nadiya wedding organizer), saya memutuskan untuk
memakai jasanya.
Obsesi suami untuk menampilkan wayang orang di acara
pernikahan juga baru terkonfirmasi kira-kira seminggu sebelum acara. Padepokan Wayang Orang Tjipto Budoyo dari
Muntilan, Yogyakarta adalah penampilnya.
Penampil satu lagi adalah Indah, teman sekelas di Tango yang
juga bisa belly dance. Waktu itu iseng aja saya tembak, apakah dia mau perform
atau tidak, dan ternyata dia mau! Hanya saja saya pastikan bahwa kostum dan
tarian tetap sopan.
Jadi acaranya pertama adalah akad nikah dengan tamu-tamu
keluarga, teman dekat dan tetangga. Susunan cukup standar: Rombongan mempelai
pria disambut oleh keluarga mempelai wanita, didudukan di meja pelaminan lalu
mempelai wanita dipanggil. Ijab Kabul berlangsung, dilanjutkan dengan sungkeman
dan foto keluarga. Setelah foto keluarga, di sini lah dansa Argentine Tango
oleh kedua mempelai ditampilkan dengan koreografi yang dibuat oleh guru kami
Neil Abaroea, dengan lagu pilihan kami theme song Cinema Paradiso. Diikuti
dengan penampilan wayang orang dengan lakon raja dan ratu. Habis itu harusnya,
band pesenan kami Wonderbra tampil, tapi karena alat-alat mereka terlambat
datang, jadi sempat kosong lah acara hiburan. Maka untuk mengisi, Neil diminta
untuk berdansa dengan saya, lalu habis itu ber-salsa dengan Indah salah satu
teman sekelas saya yang akan tampil juga hari itu.
Acara kedua, kalau bisa dibilang acara kedua, soalnya
semuanya bablas plong anyway, adalah resepsi dengan tamu-tamu kedua. Pada
dasarnya saat kami sedang ngobrol dan menyapa para tamu, tampillah Tari
Bambangan Cakil dari Padepokan Wayang Orang Tjipto Budoyo. Lalu setelah tarian
itu, kami menarikan kembali Argentine Tango yang tadi, diikuti dengan
penampilan belly dance dari Indah. Setelah itu, Wonderbra kembali bermain.
Untuk band, pesan saya dari awal hanya satu: jangan
gedumbrangan. Pokoknya jangan sampai pesta jadi berisik dan orang nggak bisa
menikmati pestanya, makan dan ngobrol dengan nyaman. Saya sebetulnya
membebaskan mereka untuk main lagu apapun asalkan nyaman untuk didengar, tapi
tentu saja mereka eksplorasi apa yang disukai oleh pengantin. Karena salah satu
personil band ini adalah teman dekat mempelai pria, dia tentunya sudah tau
selera musik dia: Naif dan Float (setidaknya itulah dua yang nggak
gedumbrangan). Untuk saya, ketika ditanyakan saya minta Latin dengan banyak
Bossa Nova (paling lembut, dan saya tahu ada Oom saya yang suka banget, juga
nadanya elegan dan “hipster”)
Dengan susunan acara seperti itu, feedback yang saya terima
adalah orang-orang senang dengan tarian-tariannya (semuanya), suasana sangat
santai, anak-anak terutama juga senang sekali dengan adanya tarian dan orang
tua tidak susah mengawasi si anak, karena kegiatan terpusat di dance floor.
Sayangnya tamu-tamu yang datang belakangan tidak kebagian acara tari-tarian.
Suasana yang santai terutama dikarenakan tidak adanya jeda antara akad dengan
resepsi, tidak adanya kirab pengantin dan pelaminan yang “open” (akan dijelaskan
di bagian dekor nanti) dimana pengantin dan ortu bisa kabur-kaburan dari
pelaminan dan orang bebas menghampiri pelaminan. Saya sempat touch up make up
sebentar, dan ketika meninggalkan maupun kembali ke pesta saya pun cuma
nyelonong aja, nggak pake ritual apapun dan tidak diumumkan oleh MC. Mempelai
pria pun cuek aja ditinggal dan ngobrol dengan tamu sendirian. Pokoknya santai
lah. Keseluruhan sangat memuaskan, dan kedua mempelai beserta tamu (ini tamu
saya yang bilang lho, beneran) masih bisa merasakan euphorianya (seriously can’t
get over it) bahkan hingga 48 jam setelah pesta selesai. A sign of a good
party.
Subscribe to:
Posts (Atom)




